Belasan Pelajar yang Terlibat Tawuran di Curug Dipulangkan

0
234

SERANG – Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Serang Kota bakal memulangkan belasan pelajar usai tawuran di Jalan Raya Serang-Petir, tepatnya di depan Masjid Bengkeng, Kelurahan Curug, Kota Serang, Kamis (28/9). Rencana pemulangan itu akan dilaksanakan bila korban tidak melapor.

“Sejauh ini, rencana satu kali 24 jam nanti, akan kita pulangkan karena memang hingga saat ini tidak ada korban melaporkan. Sampai habis magrib atau jam tujuh malam (kemarin-red), korban tidak ada (melapor-red), terpaksa hanya dilakukan pembinaan saja,” ungkap Kasatreskrim Polres Serang Kota Ajun Komisaris Polisi (AKP) Richardo Hutasoit melalui sambungan telepon, Jumat (29/9).

Informasi yang diperoleh, aksi kekerasan pelajar itu terjadi sekira pukul 15.10 WIB. Puluhan pelajar yang terlibat tawuran berasal dari SMK PGRI I Kota Serang, SMK PGRI 2 Kota Serang, SMK Negeri 4 Kota Serang, dan SMK I Kragilan, Kabupaten Serang.

Bukan cuma menggunakan batu, para pelajar membekali diri dengan senjata tajam (sajam). Kebrutalan para pelajar itu baru berhenti setelah dibubarkan warga dan petugas kepolisian.

Seorang pelajar SMK PGRI 2 Kota Serang bernama Ahmad Sopian (15) terpaksa dilarikan ke RS dr Drajat Prawiranegara, Kota Serang, setelah menderita luka bacok pada paha kiri. Sementara, belasan pelajar lain beserta enam bilah sajam digelandang ke Mapolsek Curug. “Tapi, waktu-waktu injury time, kalau ada yang merasa dirugikan, melaporkan ya kita ekspose. Walaupun hasil penyelidikan dan pemeriksaan sementara, mereka ini mengaku tidak ada kaitan (mengeroyok-red) dengan korban,” jelas Richardo.

Diakui Richardo, polisi belum bisa membuktikan siapa dari belasan pelajar yang diamankan sebagai pelaku yang telah melukai korban. Sebab, belasan pelajar itu diamankan bukan di lokasi kejadian. “Polisi hanya mengamankan jati diri, kelompok-kelompok pelajar yang diduga mereka itu adalah dari oknum-oknum yang melakukan keributan,” kata Richardo.

Dikatakan Richardo, para pelajar itu juga tidak dapat dijerat oleh pidana lain lantaran enam bilah sajam itu ditemukan polisi sudah tergeletak di pinggir jalan. “Terkait senjata-senjata itu, tidak dalam penguasaan mereka, karena sudah tergeletak di jalan. Jadi, kita enggak bisa kepada mereka seakan-akan menggunakan sajam,” kata Richardo.

Soal latar belakang tawuran, jelas Richardo, hanya disebabkan oleh persoalan sepele. Yakni, salah satu kelompok pelajar sedang merayakan ulang tahun (ultah) tanpa mengundang kelompok pelajar lain. “Saya tidak mengerti apakah ultah sekolahnya atau ultah kelompok-kelompok mereka. Biasanya selalu bikin ramai-ramai, kumpul-kumpul. Mungkin disikapi lain dari kelompok sekolah lain, kok mereka enggak diundang-undang. Atas kondisi itu, mereka datang, reaksi tidak diundang saja,” beber Richardo.

Richardo berjanji, kepolisian akan meningkatkan pengamanan saat jam-jam rawan sekolah untuk mencegah tawuran antarpelajar tersebut. Dia juga meminta peran aktif sekolah untuk memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap para muridnya. “Sekolah dan guru harus berperan aktif. Berikan suatu edukasi kepada pelajar-pelajarnya agar kalau pulang ya pulang. Dan tentu mengawasi, memberikan sanksi administrasi kepada pelajar yang sudah kita amankan. Dengan demikian, dapat memberikan efek jera dengan pelajar-pelajar lain,” kata Richardo.

Sebelumnya, Kapolres Serang Kota Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Komarudin menegaskan, bakal mengambil langkah tegas bila ditemukan bukti ke arah perbuatan pidana. “Ada barang bukti dan dokumentasi kita. Kalau memang mengarah ada tindakan pengeroyokan, kita akan proses,” kata Komarudin. (Merwanda/RBG)