Belum Punya Rumah, yang Penting Anak Banyak

Kisah rumah tangga Parmin (35) dan Ipeh (35), keduanya nama samaran, sungguh menyedihkan, mengandalkan penghasilan dari arisan dan tak bisa menabung, mereka tak punya rumah meski sudah 20 tahun bersama dan punya anak lima. Stres memikirkan kebiasaan suami yang doyan arisan, Ipeh pun memilih pisah ranjang. Astaga.

Radar Banten menemui Ipeh di Kecamatan Ciomas yang siang itu sedang menyapu halaman rumah. Di teras rumahnya, obrolan tentang kisahnya pun berlangsung.

Perjumpaannya dengan Parmin bermula saat Ipeh mengikuti perayaan reuni SMA. Mereka dikenalkan teman dan langsung cepat akrab. Bahkan, Parmin langsung berani meminta nomor telepon Ipeh, sejak itu keduanya intens menjalin komunikasi.

Pendekatan yang dilakukan Parmin kepada Ipeh sangat halus, berawal dari rayuan gombal dan perhatian, sebulan kemudian Parmin mengajak Ipeh jalan-jalan berdua naik motor. “Dia orangnya asyik dan enggak kaku, jadi saya nyaman,” aku Ipeh.

Tiga bulan kemudian, Parmin pun menyatakan rasa. Ipeh menerima dan mereka resmi pacaran. Waktu itu, Parmin sudah sering ikut arisan. Mulai dari yang kecil dangan nominal seribuan, sampai sepuluh ribuan per minggu. Kalau dapat, Parmin langsung mengajak Ipeh makan-makan.

“Dia tuh banyak ikut arisan, saya juga aneh, cowok senang arisan,” katanya.

Seiring berjalannya hari, Parmin diterima bekerja di perusahaan besar di Cikande. Ipeh ikut senang dan berharap hubungannya dengan Parmin berjalan lancar. Terlebih, Parmin menjanjikan keseriusan. Widih. “Saya juga mau serius sama dia, sama-sama cocoklah,” akunya.

Maklum, Parmin termasuk lelaki tampan. Kulit sawo matang dan tubuh kekar, membuat Ipeh jatuh cinta. Ipeh wanita cantik, kulit putih dan bodi aduhai, banyak lelaki yang suka padanya. Meski begitu, Ipeh tetap menjaga penampilan dengan pakaian muslimah.

Baru tiga bulan kerja, Parmin melamar Ipeh. Mengawali rumah tangga, Parmin bersikap dewasa. Pagi hingga sore kerja, malam pulang dan memanjakan Ipeh. Meski masih tinggal di rumah keluarga Ipeh, tetapi Parmin tak malu menunjukkan keharmonisan.

Meski sudah berumah tangga, kebiasaan Parmin ikut arisan tidak hilang. Uang gajiannya sebagian besar habis untuk setor pembayaran arisan. Alhasil, Ipeh sering merasa kekurangan.

“Masa uang makan sebulan cuma dikasih dua ratus ribu rupiah,” keluhnya.

Setahun kemudian mereka dikaruniai anak. Bukannya sadar dan menabung, sejak itu Parmin semakin berambisi bisa menghasilkan uang dari arisan. Tapi, setiap dapat arisan, uangnya selalu habis untuk menutup kebutuhan hidup dan foya-foya.

“Kita juga ngontrak rumah, kan sekali bayar untuk satu tahun, kenanya gede,” keluhnya.

Lima tahun rumah tangga, mereka sudah punya empat anak, tapi kontrak kerja Parmin habis. Sejak itu keributan sering mewarnai hubungan mereka karena kesulitan ekonomi. Setiap kali bertengkar, Parmin mengamuk dengan main fisik, membuat Ipeh emosi dan tak kuat menanggung derita.

Atas nasihat orangtua dan keluarga, Ipeh pun mengajukan surat perceraian. Parmin menolak dan berjanji ingin memperbaiki. Ipeh sempat luluh, tetapi Parmin tidak bisa meninggalkan kebiasaan ikut arisan dan foya-foya.

“Daripada pusing, ya sudah deh saya pulang ke rumah orangtua,” akunya.

Parmin tinggal sendirian di rumah kontrakan, anak-anaknya ikut dengan Ipeh. Meski begitu, kata Ipeh sih, kadang kalau sedang rindu, ia pasti datang menemui Parmin. Wih, iya tah, Teh? “Ya iyalah, kan masih suami-istri. Cuma pisah ranjang doang mah kan enggak apa-apa,” katanya.

Oalah, ya sudahlah, terserah Teh Ipeh saja. Semoga Kang Parmin bisa kumpulin banyak uang buat masa depan keluarga ya, Teh. Amin. (mg06/zee/ira)