Ben-Pilar Mendominasi

0
527 views
Pasangan Calon Walikota dan Wakil Walikota Tangsel Muhamad-Saraswati, Siti Azizah-Ruhamaben, dan Benyamin Davnie-Saga Pilar Ichsan saat debat perdana di Kompas TV, Jakarta, tadi malam.

Muhamad Akui Tangsel Banyak Kemajuan

JAKARTA – Calon Walikota Tangsel nomor urut 1 Muhamad mengakui Kota Tangsel mengalami banyak kemajuan sejak dipimpin Airin Rachmy Diany-Benyamin Davnie selama dua periode. Kemajuan yang dirasakan Muhamad terutama bidang kesehatan, pendidikan dan infrastruktur.

 Pernyataan Muhamad ini terlontar dalam sesi tanya jawab saat calon Walikota Benyamin Davnie mendapat giliran bertanya kepada paslon nomor urut 1, Muhamad-Rahayu Saraswati saat debat perdana, tadi malam.

Ben (panggilan Benyamin Davnie) tidak melontarkan pertanyaan kepada Muhamad. Namun, ia meminta pendapat kepada Muhamad selama menjabat kepala dinas dan sekda Tangsel, mendampingi Airin-Ben dalam menjalankan roda pemerintahan.

“Pak Muhamad ini menjadi sekda kami cukup lama, menjadi kepala dinas. Kira-kira apa yang sudah kita lakukan dalam kurun waktu selama kita bersama-sama? Pancapaian-pencapaian prestasi apa dan kemudian saran-saran apa dari Pak Muhamad untuk Kota Tangerang Selatan ke depan, supaya lebih baik lagi? Karena penduduk kita bertambah 3,4 persen per tahun dan akan menjadi 3 juta jiwa di 2030, dan kita akan berkembang menjadi megapolitan,” tanya Ben.

Muhamad menjawab pertanyaan dengan lugas. “Betul, kita telah lama bersama-sama bagaimana membangun Tangsel,” jawabnya. Ia memaparkan, Tangsel dilahirkan untuk memberikan pelayanan dan kesejahteraan kepada masyarakat. Tangsel ada bukan untuk sekadar politik, atau mencari, menyedot APBN ke Tangsel. Ia menambahkan, berdirinya Kota Tangsel suatu kebutuhan yang dirasakan masyarakat. Muhamad merasakan sendiri, ketika berdinas sebagai camat Ciputat saat belum ada pemekaran Tangsel, masih wilayah Kabupaten Tangerang.

Menurutnya, kala itu, begitu sulit membangun gedung sekolah dan puskesmas. “Sekarang sudah banyak kemajuan-kemajuan yang dibangun pemerintah Kota Tangerang Selatan. Itu sudah bisa dinikmati masyarakat. Namun, demikian tak ada gading yang tak retak. Masih banyak yang harus disempurnakan,” ungkapnya.

Kata Muhamad, yang perlu disempurnakan adalah memperbanyak puskesmas. Targetnya, satu kelurahan satu puskesmas. Untuk gedung sekolah, akan memperbanyak gedung SMP negeri, agar banyak warga yang bisa menikmati sekolah negeri.

“Setiap tahun masyarakat ribu-ribut, sampai demo. Bahkan saya sampai dicaci maki oleh ibu-ibu karena anaknya tidak bisa masuk sekolah negeri. Ini masalah yang harus dipecahkan ke depan,” lanjutnya seraya mengatakan untuk masalah sampah, tempat penampungan sampah di Cipeucang, diubah menjadi ruang terbuka hijau. Sampah bisa dialihkan ke energi lain yang lebih ramah lingkungan.

Secara keseluruhan meski tampil tak terlalu sempurna, pasangan Benyamin Davnie-Pilar Saga Ichsan bisa dibilang lebih menguasai persoalan dan solusinya. Masing-masing pasangan calon tak luput dari sikap grogi.

Acara Debat Publik Calon Walikota dan Wakil Walikota Tangsel putaran pertama ini dimoderatori Friska Clarissa di Kompas TV.

Pasangan Nomor 1 Muhamad-Saraswati saat berbicara terkesan terbata-bata. Terutama saat Muhamad menyampaikan paparan dan menjawab pertanyaan. Terkesan seperti terburu-buru. Sehingga intonasi pengucapannya terdengar kurang jelas.

Sementara, Saras -panggilan akrab Saraswati- terlihat lebih santai. Bahasanya lugas. Apalagi, saat di session akhir yakni kata penutup. Saras sangat lancar mengemukakan kata penutup dengan membaca lewat perangkat tab.

Hal serupa dialami pasangan Nomor 2 Siti Nur Azizah-Ruhamaben. Saat menyampaikan kalimat penutup, Azizah membaca lancar dari secarik kertas yang sudah disiapkan. Pasangan ini juga terbilang jarang menyajikan Kota Tangsel dalam angka.

Sementara, Benyamin Davnie dan calon wakilnya Pilar Saga Ichsan tampak juga melihat “contekan”. Setelah itu, disambung dengan kalimat. Sesekali tersendat. Namun, secara keseluruhan bisa dibilang lebih banyak “lancarnya”.

Sebelum debat dimulai, acara diawali dengan menyajikan sekilas profil masing-masing kontestasi Pilkada Kota Tangsel. Dilanjutkan dengan sambutan Ketua KPU Kota Tangsel Bambang Dwitoro. Dalam sambutannya, Bambang mengatakan, Pilkada tinggal 17 hari lagi. Dia meminta rakyat datang ke TPS dengan menggunakan hak pilihnya.

VISI MISI

Usai sambutan, masing-masing calon dipersilakan menyampaikan visi misinya. Dimulai dari nomor urut 1. Muhamad menyampaikan ingin mewujudkan Kota Tangsel yang aman, nyaman dan sejahtera berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 serta dibingkai NKRI.

“Semua terangkum dalam Tangsel untuk semua. Artinya apa? Bahwa kami dalam melayani dan melaksanakan pembangunan tidak membeda-bedakan antara warga yang berbagai macam ragam suku, ras, agama dan budaya,” tutur Muhamad seraya meminta Saras menyampaikan misi pasangan calon urut nomor 1.

Saras langsung menajamkan paparan Muhamad. Menurutnya, keberagaman harus dijaga dan dilestarikan. Sebab, keberagaman ini dinilai sangat rentan terhadap ketimpangan sosial dan konflik. “Karena ketimpangan sosial yang ada nyata di Tangsel. Kami yakin keluarga yang beragam ini dapat bersatu, maka kita bisa mewujudkan Tangsel yang pemerintahannya transparan dan akuntabel,” kata Saras.

Pasangan Azizah-Ruhamaben yang diberi kesempatan selanjutnya, menggebrak dengan kalimat bernada kritik. Azizah mengatakan, menemukan dua masalah utama. Pertama kepemimpinan sudah 12 tahun berdiri, tapi banyak pekerjaan rumah yang belum selesai yang seharusnya selesai dalam 5 tahun awal pembentukan Kota Tangsel. Di Kota Tangsel juga berkembang budaya oligarki.

Pemerintah juga dinilai belum mampu mengimbangi kinerja dari para pengembang swasta di dalam menghadirkan infrastruktur yang baik. Karena itu lebih dari 60% warga Tangsel menginginkan perubahan. Baik kepemimpinan maupun program solusinya.

Sementara sebelum menyampaikan visi misinya, Benyamin memulai dengan prolog bahwa Tangsel sudah dihuni 1,7 juta jiwa dengan laju pertambahan penduduk 3,4% data BPS Tangsel, nantinya akan dihuni oleh 3 juta jiwa.

Mencermati fenomena saat ini tentu berpengaruh kepada semua sendi kehidupan masyarakat. Mulai dari aspek sosial, ekonomi, budaya, politik pemerintahan dan sebagainya. Tentunya ini perlu ditangani secara baik secara tepat dengan kebijakan-kebijakan pemerintahan Kota yang melibatkan seluruh stakeholder.

“Kota Tangsel memiliki pencapaian dan prestasi yang luar biasa dari pemerintah pusat. Di antaranya kota dengan julukan smart city, kota layak anak, kota layak pemuda, WTP berturut-turut dari BPK RI. Ke depan, kami pasangan Benyamin-Pilar akan mempertahankan dan meningkatkan prestasi yang sudah diraih,” kata Benyamin seraya mengatakan pihaknya mengusung visi terwujudnya Tangsel yang unggul menuju Kota Lestari saling terkoneksi, efisien dan efektif.

DEBAT CILEGON

Sementara debat Calon Walikota dan Wakil Walikota Cilegon putaran pertama Sabtu (22/11) di salah satu stasiun televisi nasional itu  dinilai stagnan. Tak hanya laju debat yang dianggap kurang menarik. Empat pasangan kandidat terlalu banyak bermain di tataran wacana, bukan pada hal-hal praktis yang menjadi solusi dari segala persoalan yang berkaitan dengan tema debat.

Kesan negatif debat putaran pertama keluar dari salah satu panelis debat, Suwaib Amiruddin. Ia mengaku cukup meyayangkan hal tersebut terjadi. Akademisi Untirta itu menjelaskan, ada beberapa hal yang membuat debat  terkesan stagnan, di antaranya paslon terlihat berhati-hati baik dalam menyampaikan gagasan maupun menyikapi gagasan yang dilontarkan paslon lain.

“Memang sih dilarang hal sifatnya menyerang atau menyinggung perasaan sehingga membuat calon berhat-hati, sehingga membuat diskusi tidak hidup, padahal di dalam menyampaikan jawaban orientasinya kebijakan walikota kedepan saya kira itu tidak menyinggung siapapun juga,” papar Suwaib kepada Radar Banten, Minggu (22/11).

Tak hanya membuat debat tidak hidup, kehati-hatian pun membuat komitmen kandidat dalam menyelasaikan persoalan di Kota Cilegon melalui program praktis yang konkret tidak terlihat.

Selain kehati-hatian, faktor lain menurut Suwaib yang membuat debat berjalan stagnan ketidakluwesan kandidat dalam menyampaikan program serta menanggapi argumen calon lain. “Mungkin karena grogi, terbata-bata, calon itu harusnya punya catatan-catatan untuk bisa menghilangkan rasa grogi ketika ada hal yang terlupakan,” ujarnya.

Sementara dalam debvat, Calon Walikota Ali Mujahidin sempat menyinggung Calon Walikota Ratu Ati Marliati tentang korupsi. Namun Ati terlihat tak merespon, ia hanya merespons pertanyaan tentang banjir dan pengangguran.

Sedangkan Ati menyinggung tentang limbah yang dimonopoli oleh kalangan tertentu namun tidak tahu secara pasti dilayangkan ke calon mana sindiran tersebut.

Sedangkan Calon Walikota Iye Iman Rohiman maupun Helldy terlihat tak menyinggung kandidat manapun, mereka lebih menyoroti kondisi Cilegon saat ini. (rud-asp-bam/alt)