Bencana Kekeringan di Pandeglang Meluas

Seorang warga menimba air dari sumur rawa di Kampung Babakan, Desa Pasirgadung, Kecamatan Patia, Minggu (28/7).

PANDEGLANG – Bencana kekeringan yang terjadi akibat kemarau panjang, meluas. Sebelumnya hanya terjadi di lima kecamatan, kini bertambah menjadi enam kecamatan. Yakni, Kecamatan Patia, Sukaresmi, Munjul, Picung, Sindangresmi, dan Kecamatan Angsana. Warga di enam kecamatan yang dilanda kekeringan itu mengeluh, karena sulit untuk mendapatkan air bersih.

Dihubungi melalui telepon seluler, Kepala Seksi (Kasi) Pemadaman Kebakaran (Damkar) dan Kedaruratan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Darah (BPBD) Kabupaten Pandeglang Endan Permana tak membantah mengenai bencana tersebut.

Namun, ia mengatakan kewalahan mengatasi hal itu, karena instansinya mengalami keterbatasan armada jika setiap hari harus terus menyalurkan air bersih ke sejumlah titik. “Kita punya dua unit armada dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter. Makanya dua unit mobil ini setiap harinya tidak berhenti untuk memberikan bantuan air yang kami perlu didahulukan,” kata Endan kepada Radar Banten, kemarin.

Endan menerangkan kondisi terparah kekeringan terjadi di Kecamatan Patia. Di daerah ini ada 10 desa yang dilanda kekeringan, dan sudah ditetapkan siaga kekeringan. “Sementara untuk kecamatan lain hanya beberapa desa saja. Seperti di Kecamatan Munjul, hanya terdampak dua desa, Picung dua desa, Sindangresmi satu desa, Angsana satu desa, dan Kecamatan Sukaresmi terdampak kekeringan satu desa,” katanya.

Endan memohon maaf jika pendistribusian air bersih yang dilakukan pihaknya tidak optimal, lantaran selain keterbatasan armada juga akibat jarak tempuh distribusi dari titik sumber air ke titik distribusi yang cukup jauh. “Jika masih ada kebutuhan air warga tidak terpenuhi mohon dimaklum. Karena terkendala mengisi ulang air mobil tangki. Karena jarak tempuh yang jauh ke sumber air,” katanya.

Endan menyakini, jika hujan sudah turun, kekeringan akan segera berakhir. “Memang saat ini, di wilayahnya selatan belum juga turun hujan. Soalnya di wilayahnya perkotaan sesekali sudah turun hujan. Mudah mudahan hujan bisa merata dan tidak lagi kekeringan,” katanya.

Sementara itu, Jaenudin, warga Desa Pasirgadung yang ditemui sedang mengambil air yang ada di rawa mengatakan, kewalahan dengan kondisi tersebut. “Sudah kering sumur di sini mah Pak. Semua warga dari mana-mana datang ke sumber mata air di rawa ini. Mereka mengangkut menggunakan jeriken. Ada pula yang dipikul menggunakan sepeda motor,” kata Jaenudin, kemarin.

Jaenudin berharap, ada bantuan pasokan air bersih yang optimal dari Pemkab. “Kalau ke sini memang belum pernah ada bantuan air bersih. Kami harap ya ada bantuan,” katanya. (Herman/RBG)