Tiwik (62) nama samaran bukan perempuan biasa. Meski terlahir dari keluarga berada, tidak membuat dirinya sombong dan angkuh. Selalu memberi senyum sapa nan hangat kepada teman atau tetangga, itulah pribadi Tiwik yang mempesona.

Namun, apalah daya, meski banyak lelaki datang mendekat untuk menjadikannya pendamping hidup, Tiwik justru memilih Sudrun (60) bukan nama sebenarnya, yang ia harapkan dapat memberi kebahagiaan.

“Dulu saya kira dia benar-benar baik, tapi ya setelah lima tahun menikah, saat usia saya 32 tahun dan dia sekira 30 tahunan, baru deh ketahuan sikap aslinya,” curhat Tiwik kepada Radar Banten.

Katanya, terlahir dari keluarga ekonomi menengah ke bawah, ayah pekerja pabrik dan ibu tak bekerja, Sudrun memiliki masa muda berwarna. Ya, meski dari segi ekonomi terbilang susah, tapi anehnya, kalau untuk urusan cinta, ia dikelilingi banyak wanita. Tak heran, dengan guyonan serta gaya bicara kalem, ia sukses membuat nyaman wanita.

“Ini yang saya suka dari dia. Orangnya sederhana dan enggak neko-neko. Jadi sayanya nyaman,” curhat Tiwik.

Singkat cerita, tiga bulan menjalani masa pendekatan, lantaran sang ayah sudah mengeluarkan lampu hijau maka tak menunggu waktu lama, mereka sepakat menuju pelaminan. Pesta pernikahan pun terlaksana. Mengikat janji sehidup semati, Tiwik dan Sudrun resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, tidak seperti pasangan baru pada umumnya, Sudrun tampak tak begitu canggung kepada keluarga sang istri. Santai dan banyak bicara, ia pandai mencuri hati. Berbaur dengan ayah mertua sampai ke pembantu rumah tangga, Sudrun menunjukkan sosok hangat dan ramah.

Dua tahun berjalan usia pernikahan, Tiwik melahirkan anak pertama, membuat Sudrun dan seluruh keluarga bahagia. Hingga sang anak beranjak balita, Sudrun memutuskan pindah ke rumah kontrakan sederhana. Tiga tahun berlalu, Sudrun dan Tiwik hidup dengan anak yang mulai tumbuh balita, mereka pasangan suami istri yang selalu terlihat ceria.

Seiring berjalannya waktu, usia kedua orangtua Tiwik semakin bertambah tua. Mungkin merasa sudah tak sanggup mengurus bisnis tanah dan beberapa sawah, sang ayah memberikan jatah kepada kakak Tiwik. Sejak saat itu, perubahan sikap mulai tampak pada diri Sudrun. Terkesan emosian dan sering mengungkit warisan, Tiwik merasa tertekan.

“Ya saya awalnya biasa saja, enggak sadar kalau ada yang diharapkan sama Kang Sudrun. Sampai akhirnya, saya bener-bener enggak nyangka sama sikap aslinya,” kata Tiwik.

Berjalan setahun kemudian, bisnis keluarga yang dikelola sang kakak berjalan lancar. Semua penghasilan dibagi bersama. Sudrun dan Tiwik mendapat jatah. Perlahan mereka merenovasi rumah agar lebih nyaman. Tak hanya itu, mereka juga membeli kendaraan pribadi untuk transportasi sehari-hari.

Namun, mungkin beginilah konsep kehidupan, setiap ada yang datang, pasti ada yang pergi. Tak lama kemudian, ayah Tiwik menghembuskan napas terakhirnya. Seluruh keluarga berduka cita. Sampai seratus hari pasca meninggalnya sang ayah, duka Tiwik tak kunjung usai. Soalnya, dirinyalah yang paling dekat dengan ayah dibanding kakaknya.

Namun, seolah tak mengerti akan situasi dan kondisi, Sudrun malah menanyakan jatah warisan. Parahnya, sekali-dua kali sang istri tak meladeni lantaran masih berdua, suaminya terus menekan sampai terdengar nada membentak. Apa mau dikata, dengan mata sembapnya, Tiwik mendorong suaminya sampai jatuh tersungkur. Sudrun tak terima, keributan hebat terjadi di antara mereka. Astaga.

“Kesel saya, Kang. Sejak saat itu saya tahu kalau dia mengincar harta keluarga,” tukas Tiwik emosi.

Tiwik yang selama ini menurut dan bersikap baik pada suami, hari itu berubah layaknya orang kesurupan. Sudrun yang tak kuasa, antara merasa bersalah dan marah, ia pergi dari rumah. Meninggalkan sang istri yang menangis histeris akibat ulahnya.

Beruntung ada saudara dan kakak-kakaknya yang menenangkan. Keesokan harinya, terjadilah musyawarah. Sang kakak beserta keluarga menyarankan agar Tiwik tetap bersabar. Namun apalah daya, dengan hati yang telanjur terluka, ia meminta jatah sawah untuk diberikan kepada Sudrun. Loh, kok malah dikasih, Teh?

“Ini rencana saya yang sudah bulat, Kang. Biarlah kehilangan sawah beberapa hektare, yang penting saya dan keluarga hidup bahagia,” tuturnya.

Sampai beberapa minggu kemudian, Sudrun mulai bersikap mesra setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan. Namun, ia tak mengira, Tiwik diam-diam mengatur siasat bersama keluarga. Sebulan kemudian, dengan wajah datar ia minta diceraikan.
Sudrun sempat tak terima, ia menolak permintaan istrinya. Tak hanya itu, sawah yang sudah ia miliki, sempat dikembalikan kembali, surat-surat dan sejumlah uang, ia berikan kepada keluarga istri. Namun nasi sudah menjadi bubur, Tiwik dan keluarga tak bisa lagi menerima Sudrun. Mereka pun berpisah untuk selama-lamanya.

Ya ampun. Semoga Teh Tiwik bahagia dengan keputusannya. Semangat! (daru-zetizen/zee/ags)