Berkah Sedekah, Fitnah Punya Istri Muda pun Musnah

0
3340

INI kisah sepasang suami istri, sebut saja Rajik (56) dan Eyah (54) yang mengaku pernah difitnah tetangga karena iri pada limpahan rezeki yang mereka dapat. Katanya, sang tetangga tak terima saat tahu Rajik yang diberi amanah meneruskan toko sembako oleh majikannya.

Apalah daya, entah karena emosi atau dirasuki setan, sang tetangga tega memfitnah Rajik memiliki istri kedua. Meski Eyah percaya sang suami tidak melakukannya, kekhawatiran dan rasa sakit hati pasti ada.

Seperti diceritakan Rajik, ia memang termasuk orang baru di salah satu Kampung di Kabupaten Tangerang. Terlahir dari keluarga sederhana, tak kaya tapi tak bisa dianggap miskin juga, Rajik tumbuh menjadi lelaki yang penuh motivasi dalam meraih sesuatu.

“Saya dari kecil memang sudah punya keinginan jadi pengusaha. Umur 13 tahun sudah jualan jagung bakar, kacang rebus, pokoknya apa saja saya coba,” curhat Rajik kepada Radar Banten.

       Kegagalan demi kegagalan dilaluinya. Tak hanya itu, bahkan ia pernah mengalami peristiwa memilukan. Beranjak remaja, sepulang sekolah ia berjualan makanan ringan ke kota. Seharian penuh menjajakan dagangan sampai berpeluh dengan letih, akhirnya semua dagangannya ludes terjual.

Menjelang malam, ia memutuskan pulang. Dengan uang yang sudah terkumpul itu, Rajik bisa menambah jumlah dagangan esok hari. Namun, apa mau dikata, ya namanya anak kampung yang belum terlalu berpengalaman bermain di kota. Ketika menunggu bus di halte yang ramai, seorang lelaki tak sengaja menabrak tubuh mungilnya.

Tanpa meminta maaf lelaki itu pergi begitu saja. Ketika memeriksa kantung celana, barulah sadar kalau ia kecopetan. Lantaran tak punya ongkos pulang, terpaksa Rajik bermalam di pingir jalan. Hingga keesokan harinya, ia diantar seorang pemuda ke kantor polisi dan meminta diantarkan ke rumah.

“Ya, itu pengalaman lagi masa-masa susah, Kang. Pulang jualan bukannya dapat uang, ini malah dimarahi sampai orangtua melarang saya dagang,” aku Rajik mengenang masa lalu.

Tapi ya, bukan Rajik namanya kalau menyerah pada keadaan. Ia terus berdagang dan berdagang, sampai usia beranjak dewasa, bisnisnya belum juga menemukan jalan mulus. Hingga akhirnya ia tak bisa membantah kemauan orangtua, Rajik pun mengakhiri masa lajang dengan menikahi wanita tetangga desa, wanita itu tak lain adalah Eyah.

Dengan pesta pernikahan sederhana, Rajik dan Eyah resmi menjadi sepasang suami istri. Lantaran mereka tak mengenyam pendidikan formal, terpaksa Rajik berjuang memenuhi ekonomi dengan kerja serabutan. Berdagang apa saja yang penting halal, ia bekerja keras mencari nafkah.

Beruntung, Rajik mendapat istri yang selalu mengerti keadaan suami. Eyah tak pernah lelah menemani meski kesulitan ekonomi menghampiri. Sampai satu tahun kemudian, mereka dianugerahi anak pertama, membuat hubungan semakin mesra. Dan mungkin benar kata pepatah yang mengatakan, banyak anak banyak rezeki, sejak kelahiran sang buah hati, mereka bisa membangun rumah sendiri.

Dua tahun kemudian lahirlah anak kedua. Sejak saat itu, seolah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi orang kaya. Karena keuletan dan kejujuran dalam bekerja, Rajik diberi kepercayaan mengelola ruko milik orang terkaya di kampung. Perlahan tapi pasti, ia mulai merasakan hasil dari kerja kerasnya selama ini.

Ekonomi meningkat, Rajik dan Eyah mulai dipandang masyarakat. Mengumpulkan uang dan terus bekerja keras, ia sanggup membeli kendaraan pribadi dan membangun rumah yang lebih besar. Pokoknya, waktu itu ia dianggap orang kaya baru di mata masyarakat kampung.

Hingga masalah pun datang menerjang, Rajik dituduh punya istri muda. Parahnya, fitnah itu datang dari tetangga rumah yang merupakan salah satu karyawan lama sang majikan yang memberi kepercayaan pada Rajik. Apa mau dikata, ketika nama Rajik sedang tenar-tenarnya sebagai orang kaya baru, justru malah berubah menjadi orang yang punya selingkuhan.

Berita perselingkuhan itu menyebar ke seluruh penjuru kampung, setiap ada kumpul ibu-ibu, pasti obrolannya membicarakan kasus Rajik. Tak ayal, hal itu berdampak buruk bagi rumah tangga, Eyah sempat tak mau berbicara pada sang suami.

“Kalau dibilang pusing sih pusing, tapi untung istri enggak sampai mengamuk. Saya coba ngomong baik-baik kalau semuanya enggak benar, alhamdulillah sih dia ngerti,” terang Rajik.

Dan di suatu malam, selepas melaksanakan salat Isa berjamaah, Rajik mengajak sang istri duduk berdua di halaman belakang rumah. Di sana ia mencurahkan kegelisahan dan mencari solusi atas apa yang rumah tangga mereka alami. Hingga keduanya mulai kembali saling mengerti, akhirnya terjadilah keputusan.

Dengan sisa uang tabungan yang mereka miliki, Rajik berencana menyedekahkan ke anak yatim dan kaum duafa masyarakat kampung sekitar. Hebatnya, sang istri menyetujui dan malah mendukung niat baik suami. Pengumuman pun disebar RT setempat. Seminggu kemudian, berbondong-bondong orangtua berusia lanjut dan anak-anak yatim memenuhi halaman rumah mereka.

Mendapat uang dan sembako, mereka terlihat senang dan bahagia. Ucapan terima kasih beserta doa pun tak terhitung dilayangkan kepada Rajik dan Eyah. Besoknya, mereka bagai manusia yang terlahir kembali. Mendapat sambutan hangat dari masyarakat, membuat rumah tangga keduanya semakin harmonis. Cie…

“Ya alhamdulillah, Kang. Mungkin ini yang namanya keberkahan dengan sedekah, fitnah saya punya istri muda itu hilang. Dan bukan cuma itu, bisnis saya juga maju pesat,” curhat Rajik.

Subhanallah, semoga Kang Rajik dan Teh Eyah langgeng terus dan jadi keluarga bahagia selamanya. Amin. (daru-zetizen/zee/dwi)