Berkat Anak, Rumah Tangga Kembali Utuh

Ungkapan banyak anak banyak rezeki dialami Nining (56), nama samaran. Nining kembali rujuk setelah nyaris bercerai dengan suami, sebut saja Jajang (55), gara-gara anak yang mempertemukan keduanya setelah puluhan tahun berpisah karena faktor ekonomi. Subhanallah pokoknya.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Kibin, siang itu Nining sedang sibuk menjemur gabah hasil penennya pekan lalu. Awalnya malu-malu, lama-lama Nining tak sungkan menceritakan suka cita berumah tangga. Diceritakan Nining, pertemuannya dengan suami di rumahnya. Waktu itu mereka memang ditakdirkan berjodoh melalui perjodohan oleh kedua orangtua. Awalnya dua-duanya tak memiliki perasaaan apa-apa. Maklum, usia keduanya saat itu masih remaja, belasan tahun. Namun, keduanya tak bisa menolak perjodohan itu.

Perawakan Nining sih biasa saja, begitu juga dengan Jajang yang hanya bermodalkan badan tinggi tegap. Kulitnya sih putih tua alias hitam. Sementara Nining bertubuh mungil. Singkat cerita, keduanya melakukan proses pendekatan. Sebulan kenal, keduanya langsung menikah dengan gelaran pesta meriah. Mengawali rumah tangga untuk sementara keduanya tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. Jajang bekerja menggarap sawah milik orangtua Nining. Berkat keuletannya dan rajin, Jajang menjadi kebanggaan mertua. “Maklum, di keluarga saya kan perempuan semua. Jadi, almarhum bapak tuh ngerasa ada penerus setelah saya nikah sama Jajang,” ujarnya. Oh begono.

Setahun kemudian mereka dikaruniai anak. Namun, kebahagiaan sekejap sirna setelah ayah Nining meninggal dunia. Sejak itu ekonomi rumah tangga tak terkendali. Warisan juga jadi rebutan Nining dan saudaranya. “Pokoknya acak-acakan, sawah dijualin semua,” kesalnya.

Tahun kelima pernikahan, lahirlah anak kedua dan ekonomi rumah tangga semakin sulit, hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tak jarang mereka enggak makan karena kehabisan beras di rumah. Sejak itu, keduanya menjadi sering berselisih paham. Ketika anak pertamanya, sebut saja Udin beranjak remaja, Jajang pergi ke Jakarta dengan tujuan kerja di tempat temannya. Sejak itu keduanya jarang bertemu. Bahkan, Lebaran juga Jajang tak sempat pulang. “Jadi saya sudah anggap cerai aja walau enggak pernah ngurus perceraian,” tukasnya.

Setelah Udin menginjak usia dewasa, menyusul ayahnya ke Jakarta selain mencari pekerjaan. Awalnya bekerja di pabrik konveksi, semakin lama Udin dipercaya untuk menjalankan usaha sendiri dan maju pesat. Setiap bulan rutin Udin mengirim uang kepada ibunya. Pokoknya Udin menjadi anak berbakti. Kemudian, Udin pun meminta restu kedua orangtuanya untuk menikah. Dari pernikahan itulah, Jajang dan Nining kembali bertemu. Awalnya Nining enggan memaafkan suaminya, namun atas permintaan anaknya yang mengetahui kalau ayahnya termasuk sosok suami setia, Nining luluh dan kembali menerima kehadiran Jajang. “Semua berkat anak. Makanya, bersyukur punya anak saleh dan berbakti,” ucapnya bangga.

Sekarang Jajang dan Nining tinggal serumah lagi. Bahkan mereka dibelikan sawah oleh Udin untuk digarap bersama-sama demi mencukupi ekonomi sehari-hari. “Sekarang lagi gagal panen. Tapi, bersyukur aja karena sudah enggak jadi buruh tani lagi,” pungkas Nining. Disyukuri saja. (mg06/zai/ags)