Berkat Emas, Fitnah Mendua Tuntas

0
3142

Ini kisah sepasang suami istri, sebut saja Kojek (56) dan Eyah (54) yang mengaku pernah difitnah tetangga karena sirik pada limpahan rezeki yang mereka dapat. Katanya, sang tetangga tak terima saat tahu Kojek yang diberi amanah menjalani bisnis salah satu orang terkaya di salah satu kampung di Kabupaten Serang. Aih, benar tuh, Kang?

“Ya waktu itu kejadiannya pas saya usia 36 tahun dan istri 34 tahun. Wah, rumah tangga kita hampir pecah,” curhat Kojek kepada Radar Banten.

Seperti diceritakan Kojek, ia memang termasuk orang baru di kampung tempat tinggal istrinya. Terlahir dari keluarga sederhana, tak kaya tapi tak bisa dianggap miskin juga, Kojek tumbuh menjadi lelaki yang penuh motivasi dalam meraih sesuatu.

“Saya dari kecil memang sudah punya keinginan jadi pengusaha. Umur 13 tahun sudah jualan, pokoknya apa saja saya coba jual biar jadi uang,” curhat Kojek.

             Kegagalan demi kegagalan dilaluinya. Tak hanya itu, bahkan ia pernah mengalami peristiwa memilukan. Berbulan-bulan mengumpulkan uang hasil jualan untuk biaya sekolah, ketika hendak membayar pendaftaran masuk SMP, uangnya dijambret orang. Tak disangka, ternyata pencuri itu tak lain orang dekat yang ada di lingkungan keluarga. Oalah.

“Ya itu pengalaman lagi masa-masa susah, Kang. Akibat kejadian itu, saya enggak nerusin sekolah. Jadi saya memutuskan buat dagang,” aku Kojek mengenang masa lalu.

Namun, bukan Kojek namanya kalau menyerah pada keadaan. Ia terus berdagang dan berdagang, sampai usia beranjak dewasa, bisnisnya belum juga menemukan jalan mulus. Hingga akhirnya ia tak bisa membantah kemauan orangtua, Kojek pun mengakhiri masa lajang dengan menikahi wanita tetangga desa, wanita itu tak lain adalah Eyah.

Dengan pesta pernikahan sederhana, Kojek dan Eyah resmi menjadi sepasang suami istri. Lantaran mereka tak mengenyam pendidikan formal, terpaksa Kojek berjuang memenuhi ekonomi dengan kerja serabutan. Berdagang apa saja yang penting halal, ia bekerja keras mencari nafkah.

Beruntung, Kojek mendapat istri yang selalu mengerti keadaan suami. Eyah tak pernah lelah menemani meski kesulitan ekonomi menghampiri. Sampai satu tahun kemudian, mereka dianugerahi anak pertama, membuat hubungan semakin mesra.

Dua tahun kemudian lahirlah anak kedua, sejak saat itu, cobaan hidup semakin keras mendera. Karena tak punya pekerjaan jelas, ketika berada di posisi sangat kekurangan, terpaksa, Kojek dan Eyah menjual emas mahar pernikahan. Bukan hanya itu, mereka juga meminjam uang ke tetangga. Apalah daya, saat tenggat waktu pembayaran tak ditepati, hinaan dan cacian pun datang menusuk hati. Aih.

“Duh, Kang. Kalau saya bayangin tuh suka sedih. Saya merasa jadi lelaki paling hina saat rumah tangga dijelek-jelekin tetangga cuma karena belum bayar hutang,” curhat Kojek.

Hingga suatu hari, Kojek diterima bekerja sebagai pengumpul besi bekas di sebuah pabrik baja swasta milik salah satu orang terkaya di kampungnya. Seiring berjalannya waktu, berkat kerja keras, ketekunan, kedisiplinan, serta kejujuran, terdengarlah nama Kojek di telinga sang pemilik perusahaan.

Seolah diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi orang kaya, karena sang pemilik perusahaan memang sedang mencari orang kepercayaan, hal itu jatuh ke tangan Kojek. Ia diberi amanah mengelola ruko milik pengusaha itu. Perlahan tapi pasti, Kojek mulai merasakan hasil dari kerja kerasnya selama ini. Wih, keren amat, Kang.

“Ya alhamdulillah. Saya enggak mau sebut nama, tapi dia (si orang kaya) memang sangat dermawan. Tapi sekalinya bikin kecewa karena enggak jujur atau gagal jalanin usaha, pasti dia enggak akan maafin,” kata Kojek.

Ekonomi meningkat, Kojek dan Eyah mulai dipandang masyarakat. Mengumpulkan uang dan terus bekerja keras, ia sanggup membeli kendaraan pribadi dan membangun rumah yang lebih besar. Pokoknya, waktu itu ia dianggap orang kaya baru di mata masyarakat kampung.

Hingga masalah pun datang menerjang, Kojek dituduh punya istri muda. Parahnya, fitnah itu datang dari tetangga rumah yang merupakan salah satu karyawan lama sang majikan yang memberi kepercayaan pada Kojek. Apa mau dikata, ketika nama Kojek sedang tenar-tenarnya sebagai orang kaya baru, justru malah berubah menjadi orang yang punya selingkuhan.

Berita perselingkuhan itu menyebar ke seluruh penjuru kampung, setiap ada kumpul ibu-ibu, pasti obrolannya membicarakan kasus Kojek. Tak ayal, hal itu berdampak buruk bagi rumah tangga, Eyah sempat tak mau berbicara pada sang suami.

“Kalau dibilang pusing sih pusing, istri waktu itu ngamuk. Padahal sudah saya jelasin, tapi dia enggak mau dengar omongan saya,” curhat Kojek.

Dan di suatu malam, selepas melaksanakan salat Isa berjamaah, Kojek mengajak sang istri duduk berdua di halaman belakang rumah. Di sana ia mencurahkan kegelisahan dan mencari solusi atas apa yang rumah tangga mereka alami. Hingga keduanya mulai kembali saling mengerti, cintalah akhirnya yang mengharmoniskan hubungan mereka kembali.

Dengan sisa uang tabungan yang mereka miliki, diam-diam Kojek mengatur rencana untuk sang istri tercinta. Dengan situasi yang masih tak terkendali, jangankan bertegur sapa dengan tetangga, keluar rumah pun Kojek malu. Tapi meski begitu, berkat bantuan orang suruhannya, Kojek berhasil mewujudkan rencana untuk istrinya. Ngapain sih, Kang?

“Saya beliin dia emas, Kang. Soalnya emas yang nikah dulu terjual buat keperluan. Nah, jadi saya beliin lagi yang lebih bagus dan mahal,” terang Kojek.

Saat malam tiba, diajaklah sang istri ke belakang rumah tempat mereka biasa bersenda gurau. Tanpa ada kata pembuka, disodorilah emas berlian di hadapan Eyah. Sontak sang istri terkejut, dengan sigap Eyah mengambilnya dan memeluk Kojek. Sejak itu, masalah perselingkuhan seakan musnah, Kojek dan Eyah semakin mesra.

Subhanallah, semoga Kang Kojek dan Teh Eyah langgeng terus dan jadi keluarga bahagia selamanya. Amin. (daru-zetizen/zee/ags)