Berpendidikan Tinggi Tak Menjamin Bisa Memilah Info Asli atau Palsu

SERANG – Kemajuan teknologi mempermudah akses mencari ilmu pengetahuan, kemajuan teknologi pun membuat informasi semakin mudah diserap, bahkan berita hoax atau palsu pun semakin marak. Oleh sebabnya, dua sisi teknologi ini harus diterpa dengan kemampuan membaca yang baik sekaligus terbiasa membaca dan berpikir kritis, supaya mampu mencerna mana informasi asli, mana informasi palsu.

“Kemajuan teknologi tidak bisa dihindari. Adanya teknologi, kesempatan bisa menggarap sumber ilmu pengetahuan semakin mudah diakses dimana pun,” papar Najwa Shihab saat mengisi acara Kegiatan Pengenalan Kampus (KPK) Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Selasa (15/8).

Teknologi, bagi perempuan lulusan Universitas Indonesia ini, paling cepat dan mudah seperti mengakses e-book, browsing dan mengunduh begitu banyak informasi sambil lakukan apa pun, dimana pun dan kapan pun.

“Teknologi menjadi pembelajar seumur hidup tanpa harus keluar bahkan ke kamar mandi sekalipun, “ujarnya.

Sayangnya seiring pesatnya kemampuan teknologi, jurnalis berbakat ini mengatakan akan semakin mudah keran informasi penyebar hoax, fitnah, dusta kebohongan, propaganda dan kebencian yang menguat campur aduk dan itu bisa disalahgunakan.

“Dua sisi teknologi, kita mudah terpapar informasi baru, di sisi lain kalau tidak hati-hati menjadi orang yang bulat-bulat mengkonsumsi berita fitnah, lebih gawat lagi ikut menyebarkan hoax. Di era digital bukan hanya bisa membaca, karena hanya sebatas membaca anak TK, SD pun sudah bisa membaca dengan cara mengeja,” ujarnya.

Kata Najwa, membaca itu upaya merengkuh makna untuk memahami tersirat yang tersurat, yang menyambungkan pemikiran, mempertanyakan secara mendalam apa yang dimaknai belum sesuai atau belum akurat.

“Terbiasa membaca dan sudah menjadi pembaca sesungguhnya, kita tidak mudah menyebarkan berita hoax yang terjadi di Indonesia, Inggris, Amerika, karena seluruh dunia sedang mengalami hal ini. Pendidikan tinggi tidak menjamin bisa memilah informasi asli atau palsu. Yang bisa meredam itu ialah membaca dan berpikir kritis,” imbuhnya. (Anton Sutompul/antonsutompul1504@gmail.com)