BI Banten Bahas Tantangan Dunia Usaha

TANGERANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten menyelenggarakan temu responden yang membahas mengenai tantangan dunia usaha di JHL Solitaire Hotel, Tangerang, Jumat (1/11). Para undangan yang hadir mencapai 200 orang dari berbagai instansi pemerintahan, perbankan, akademisi, dan pelaku usaha yang menjadi responden survei Bank Indonesia.

Temu responden itu mengangkat tema ‘Tantangan Dunia Usaha di Era Revolusi Industri 4.0 dalam Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Daerah’. Acara yang dibuka Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja menghadirkan narasumber pengamat ekonomi Aviliani, CEO General Electric Indonesia Handry Satriago, dengan moderator Pandji Pragiwaksono (aktor, penulis buku, dan public speaker).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Erwin Soeriadimadja mengatakan, kegiatan tersebut merupakan sebagai apresiasi kepada seluruh responden survei kinerja Bank Indonesia. Kegiatan itu juga memberikan semangat kepada koresponden dan selaras dengan tema yang dibahas juga diharapkan bisa memberikan beberapa manfaat kepada para peserta.

“Informasi mengenai kondisi perekonomian Indonesia dan pengetahuan mengenai strategi dunia usaha dalam menghadapi tantangan,” katanya.

Menurutnya, saat ini, perkembangan ekonomi digital di kawasan lokal maupun global berkembang dengan pesat. Bagaimanapun, ekonomi digital memegang peranan penting dan itu harus diantisipasi oleh pelaku bisnis untuk semua pihak.

“Ke depan nilai transaksinya akan semakin besar dan pelaku bisnis harus menyiapkan dari sekarang,” katanya.

Ia berharap, pertemuan ini bisa menjadi semangat bagi para koresponden dan pertemuan ini juga diharapkan dapat meningkatkan hubungan yang baik antara Bank Indonesia dengan stakeholder di Provinsi Banten.

Dalam sambutannya, Erwin menyampaikan berdasarkan perkiraan Bank Indonesia pertumbuhan ekonomi dunia pada 2019 sebesar 3,2 persen (yoy) atau melambat dibandingkan posisi pada 2018 yang sebesar 3,6 persen (yoy). Sementara itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), hingga semester I 2019 ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,06 persen melemah dibandingkan posisi akhir tahun 2018 yang tumbuh 5,17 persen.

Sejalan dengan perlambatan ekonomi di level nasional, pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten juga tercatat melambat. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Banten hingga semester I 2019 tercatat sebesar 5,39 persen atau melambat dibandingkan posisi tahun 2018 yang sebesar 5,81 persen. Meski demikian, pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan angka nasional pada periode yang sama sebesar 5,06 persen.

Pada kesempatan itu, pengamat ekonomi Aviliani menyampaikan prospek ekonomi Indonesia di era industri 4.0. Melihat kondisi perekonomian global yang sedang terkontraksi, Indonesia perlu aktif untuk melihat peluang pengembangan sektor prioritas. Hilirisasi industri harus menjadi prioritas kebijakan untuk memperbaiki kondisi neraca perdagangan. Pentingnya hilirisasi industri antara lain untuk percepatan pertumbuhan ekonomi, perluasan kesempatan kerja, penghematan devisa melalui substitusi impor, peningkatan nilai tambah di dalam negeri, peningkatan penerimaan devisa, percepatan penyebaran industri ke seluruh NKRI serta pendalaman dan penguatan struktur industri.

Selain itu, pariwisata, ekonomi kreatif dan e-dagang, dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru. Hal itu sejalan dengan revolusi industri 4.0, yaitu peralihan dari old industrial economy ke knowledge driven economy di mana e-commerce makin berkembang. Pemerintah Indonesia menargetkan akan menjadi pusat digital di Asia Tenggara tahun 2020 dengan penerbitan roadmap e-commerce.

E-commerce Indonesia masih berprospek cerah, diperkirakan tahun 2020 nilai e-commerce di Indonesia mencapai Rp141 triliun dan akan mencapai Rp676 triliun pada tahun 2030,” katanya.

CEO General Electric Indonesia Handry Santriago mengatakan, untuk menghadapi tantangan dunia usaha di era revolusi industri 4.0 Indonesia memerlukan pemimpin yang aware terhadap perubahan dan dapat mengikuti perkembangan zaman. Dalam era sekarang angkatan kerja didominasi oleh generasi milenial dengan ide yang baru. Banyak pembelajaran yang dapat diambil dari generasi milenial ini. Peningkatan skill generasi milenial terutama bagi low skill juga perlu dipikirkan agar tidak berisiko tergantikan dengan mesin. (skn/aas/ira)