BI Banten Dukung Petani Bawang Merah

SERANG – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten secara konsisten mendukung program pengembangan ketahanan pangan. Salah satunya dengan memberikan dukungan untuk klaster petani bawang merah di Telukterate, Kramatwatu, Kabupaten Serang.

Kepala Tim Pengembangan Ekonomi KPw BI Banten Sugeng Siswanto mengatakan, BI memiliki concern mengembangkan klaster ketahanan pangan karena sejalan dengan tujuan dan tugas Bank Indonesia dalam mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.  “Oleh karena itu, yang dipilih adalah komoditas yang memiliki peran signifikan terhadap nilai inflasi yaitu padi, bawang merah, dan cabai,” katanya, kemarin.

Ia mengungkapkan, program pengendalian inflasi komoditas bawang merah di Kramatwatu menjadi binaan BI Banten sejak 7 November 2013 hingga 2016. Meskipun bukan lagi binaan karena sudah mandiri, tetapi BI Banten terus berkomunikasi untuk memastikan produk bawang merah klaster itu dapat kontinu menyuplai pasar mengingat bawang merah salah satu produk yang berkontribusi dalam inflasi.

“Salah satu program sosial Bank Indonesia yang diserahkan pada 3 Februari 2020 berupa bantuan satu unit sumur bor agar bisa dimanfaatkan petani,” katanya.

Setelah tiga tahun mendapat pembinaan dari BI Banten, lanjut dia, produktivitas petani bawang merah Kramatwatu relatif meningkat. Lahan budi daya bawang merah dapat dipertahankan, produktivitas hasil panen naik, dan hasil penjualannya mampu meningkatkan margin.

Menurutnya, beberapa program peningkatan yang dilakukan antara lain bantuan teknis (bantek) yang diberikan ke kelompok tani Kramatwatu berupa alat dan mesin yang menunjang kegiatan budi daya. Bantuan teknis juga diberikan dalam bentuk pelatihan budi daya dan demplot penanaman bawang merah, serta pelatihan manajemen keuangan sederhana. Pada 2016, bantek dilengkapi dengan pengembangan model bisnis atau business model canvas (BMC), dengan penekanan pada penyediaan bibit atau benih bawang merah, pengembangan areal tanam, dan pemasaran hasil produksi pertanian.

Ia berharap, untuk klaster, dengan adanya pembinaan petani dapat meningkatkan produktivitas hasil panen, serta mampu meningkatkan penjualan sehingga perekonomian menjadi lebih baik. “Di sisi yang lebih luas, diharapkan ketersediaan pasokan bawang merah di Banten dalam kondisi yang aman untuk memenuhi kebutuhan di Banten,” katanya.          

Ia menjelaskan, saat ini BI memiliki lima klaster binaan dengan komoditas ketahanan pangan, tiga klaster binaan local economic development, serta lima UMKM mitra dengan jenis produksi makanan, kerajinan dan fashion.

Kepala Desa Telukterate, Kecamatan Kramatwatu Dery Supriyatna Suminta memberikan apresiasi kepada BI Banten yang memberikan dukungan kepada petani bawang merah di Desa Telukterate. Para petani bawang merah ini pernah menjadi desa binaan BI tiga tahun lebih.  “Meskipun tidak lagi menjadi desa binaan, tetapi para petani tetap menjalin komunikasi dengan BI Banten,” katanya.

Ia menjelaskan, petani bawang merah memang tidak lagi menjadi desa binaan BI karena dianggap mandiri dan berkembang dengan potensi yang ada. Dulu, petani bisa panen bawang merah mencapai ratusan ton karena lahannya luas dan bisa tiga kali panen dalam setahun. Saat ini, panen terkendala air sehingga dalam setahun hanya sekali.

“Mudah-mudahan BI Banten kembali memberikan dukungan untuk petani bawang merah agar bisa panen tiga kali dalam setahun,” katanya.

Ia mengungkapkan, klaster bawang merah memiliki potensi yang cukup besar dan memberikan keuntungan bagi para petani. (skn/aas/ira)