Biar Pelit yang Penting Setia

Layaknya meminum jamu, rasanya pahit tapi menyehatkan. Begitu pula kisah rumah tangga Marsih (45), nama samaran dengan suaminya, sebut saja Jaed (45). Marsih tetap bertahan meski mempunyai suami cap jahe alias kikir dengan alasan mampu menjaga kesetiaan.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Petir di bawah pohon beringin, Marsih yang terlihat sedang menenteng belanjaan berkenan diajak berkenalan dan berbincang soal kisah rumah tangganya. Marsih bercerita selama berumah tangga banyak sakit hati oleh tingkah suami. Bukan karena suami mata keranjang atau tidak bisa menjaga kesetiaan, melainkan sifat pelitnya yang kelewatan tak jarang membuat Marsih mengelus dada. Banyak kemauan Marsih yang tidak bisa diwujudkan suami. Namun dibalik itu, ada sisi positif yang bisa sedikit mengobati hati Marsih, yakni soal kesetiaan Jaed teruji. “Kalau saja dia suka main wanita, pasti saya sudah minta cerai dari dulu,” ucap Marsih. Ada untungnya juga ya Mbak punya suami pelit.

Perjumpaan Marsih dengan Jaed terjadi dua puluh tahun sialm. Keduanya waktu itu masih bekerja sebagai karyawan pabrik di Tangerang. Mereka sama-sama warga Kecamatan Petir yang merantau untuk mencari nafkah. Karena intens bertemu dan satu kampung, terjalin keakraban di antara keduanya selama bekerja. Bahkan, keduanya rutin tiap bulan pulang kampung sama-sama layaknya punya hubunga spoesial. “Mas Jaed tuh orangnya cuek dan enggak banyak ngomong, tapi kenapa ya aku jadi suka,” aku Marsih. Ganteng kali?

“Ah biasa aja. Cuman orangnya pekerja keras,” nilainya.

Lain dengan Marsih yang memiliki wajah cantik, kulit putih, bodi juga aduhai. Marsih juga orangnya pandai bergaul dan sopan sehingga mempunyai banyak teman dan disenangi banyak orang. Namun, sosok Jaed yang super cuke justru membuat Marsih penasaran. Sampai akhirnya Marsih jatuh cinta dan menerima kehadiran Jaed di sisinya. Singkat cerita, setelah tiga tahun bekerja, Jaed memilih pulang kampung dan membuka usaha ternak ayam. Siapa sangka, usahanya maju pesat dan menjadikan Jaed sebagai pemuda sukses. Setahun kemudian Marsih juga berhenti bekerja dan pulang kampung. Belum genap seminggu, Marsih didatangin Jaed yang langsung mengajaknya untuk naik ke pelaminan. “Saya kaget, tiba-tiba dia ngajak nikah,” akunya. Tapi seneng kan?

Tentu saja, Marsih tak bisa menolak ajakan Jaed yang begitu serius ingin meminangnya. Sampai akhirnya mereka menikah. Pesta digelar dengan meriah diwarnai hiburan musik dangdut. Tamu-tamu undangan hadir mengucapkan selamat. Lengkaplah kebahagiaan Jaed dan Marsih serasa Raja dan Ratu sehari. “Alhamdulillah akhirnya berjodoh sama dia,” ucapnya bersyukur. Bak ketiban durian runtuh ya Mbak.

Mengawali rumah tangga, Marsih tinggal di rumah keluarga Jaed. Meski sudah sah menjadi suami Marsih, sifat Jaed tidak berubah, tetap pendiam. Kendati demikian, Jaed orangnya penuh perhatian dan romantis. Awalnya apa yang diminta marsih selalu dituruti. Persoalan ranjang jangan ditanya, Jaed sangat memuaskan. Bisa berbagai macam gaya dicoba. “Dia paling jago puasin istri kalau udah di ranjang,” umbar Marsih mesem-mesem. Pake gaya dada atau gaya bebas nih Mbak.

Setahun kemudian, Marsih melahirkan anak pertama. Sejak itu mereka pindah ke rumah baru yang dibangun dari hasil keringat Jaed menjalankan usahanya. Tinggal di rumah pribadi, hubungan semakin pun semakin harmonis. Ekonomi mereka juga terus meningkat dengan bisnis ayam dan pertaniannya. Meski sudah menjadi keluarga terpandang, keduanya tetap menerapkan pola hidup sederhana. Seiring waktu, Marsih mulai menyadari ada yang aneh dengan sikap sang suami. Perlakukan Jaed tak seindah dulu yang suka manjain dan memenuhi keinginan Marsih. “Dia mesra dan manjain saya pas awal-awal doang. Tahunya, karakter aslinya pelit, perhitungan, ” kesalnya. Oalah. Bukan pelit kali Mbak, tapi hemat.

“Beda tipis Mas antara pelit dengan berhemat,” tukasnya.

Jangankan membelikan emas permata, sehari-hari Jaed hanya memberikan nafkah cukup untuk membeli makan sehari-hari. Lauk pauk yang dimintanya untuk dimasak juga tidak ada yang istimewa. Seringnya sayur asem dan ikan asin, jarang sekali makan daging ayam atau menu mewah lainnya. “Saya juga bingung, pengusaha ayam tapi enggak pernah makan ayam,” ujar Marsih kebingungan. Tandanya dia enggak mau jeruk makan jeruk tuh Mbak. 

Karena sifat itu, hubungan keduanya sempat merenggang. Marsih sempat meluapkan emosinya kepada Jaed dan memilih pulang ke rumah orangtua. Lebih dari dua minggu sejak saat itu mereka pisah ranjang. Namun, dalam jangka waktu itu pula kesetiaan Jaed teruji. Karena sebetulnya Jaed bisa dengan mudah mencari pengganti Marsih. Banyak wanita di kampung yang diam-diam mendekati Jaed setelah mengetahui kabar keretakan rumah tangga merekayang cepat menyebar luas. Mulai dari yang mengirim makanan, yang membawa hasil bumi, seperti pisang, singkong dan lainnya. Untung enggak sama kebunnya digotong. Bahkan ada juga yang terang-terangan datang bersama keluarga besarnya menawarkan diri untuk menjadi istri Jaed. Dari semua godaan itu, Jaed tidak tertarik dan terang-terangan masih menyayangi istrinya. “Padahal yang pengin jadi istri Mas Jaed cantik-cantik. Dari situ saya salut. Walaupun lagi marahan, dia tetap pertahanin rumah tangga kita,” ucapnya. Subahanallah ya Mbak.             Mendengar hal itu, Marsih pun pulang ke rumahnya dan meminta maaf kepada suami dan kembali membangun maghligai rumah tangga. Apalagi ada pengakuan dari Jaed bahwa sifat pelitnya demi menjaga harta warisan untuk anak-anak mereka kelak. “Saya sih sekarang mau bersyukur sajalah, bodo amat suami pelit, yang penting setia,” tandasnya. Moga langgeng ya Mbak. Amin. (mg06/zai)