Biasa Terpisah, Tidur Seranjang Jadi Ogah

Delapan tahun menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di Timur Tengah, Marni (34), nama samaran, terbiasa menjalani hidup tanpa belaian suami, sebut saja Udin (37). Apalagi ketika pulang, Udin juga kerja di Jakarta dan pulang seminggu sekali. Karena terbiasa terpisah, mereka jadi ogah tidup seranjang berdua. Waduh.

Tapi, hubungan rumah tangga baik-baik saja. Marni dan Udin tetap saling menyayangi satu sama lain. Katanya sih, meski pisah ranjang, tapi kalau lagi saatnya berperang, mereka pasti melakukannya dengan penuh kasih sayang. “Atuh iyalah, kalau urusan itu mah wajib,” kata Marni yang ditemui Radar Banten di Kecamatan Lebakwangi.

Diceritakan Marni, perjumpaannya dengan Udin bermula di acara pernikahan teman. Waktu itu mereka berkenalan dan saling dekat. Kata Marni, Udin lelaki baik. Meski wajahnya tidak tampan, tetapi sikapnya baik dan tidak kasar kepada perempuan. “Baik orangnya mah,” akunya.

Marni juga bukan wanita cantik. Tetapi, sikapnya ramah dan rendah hati, membuatnya mudah akrab dengan siapa pun. Termasuk dengan Udin yang kata orang-orang sih termasuk lelaki pendiam. “Jadi kalau ketemu juga pasti saya yang banyak ngomong, dia mah diam saja,” akunya.

Singkat cerita, karena sudah saling merasa nyaman, keduanya pun sepakat menuju hubungan lebih serius. Waktu itu Udin tidak mengajak pacaran, tapi langsung menawarkan pernikahan. Wih, hebat juga nih Kang Udin. “Iyalah, memangnya kayak anak muda sekarang, pacaran lama kawinnya mah sama yang lain,” guyon Marni.

Marni dan Udin pun menikah. Meski hanya pesta sederhana, keduanya berbahagia. Mereka mengawali rumah tangga dengan tinggal di rumah keluarga mempelai wanita. “Sambil bantuin ibu nunggu warung, kan lumayan buat nambah uang masak,” katanya.

Waktu itu Udin kerja serabutan, penghasilannya tidak menentu. Karena kebutuhan ekonomi semakin bertambah, sedangkan sawah orangtua juga sudah dijual, Marni dan Udin sempat kelimpungan mencari penghasilan. “Jadi, orang sini mah lebih baik jual sawah daripada enggak makan,” katanya.

Karena kebingunan sudah tidak ada lagi aset yang bisa dijual, akhirnya Marni pun daftar kerja jadi TKW kepada agen penyalur TKW yang sering datang ke rumah. “Lumayan, baru daftar saja sudah dikasih uang lima juta,” katanya.

Dengan persetujuan suami dan orangtua, akhirnya Marni berangkat ke Timur Tengah, bekerja sebagai pengasuh anak majikan. Selama bekerja, Marni merasa beruntung karena mendapat majikan baik, upahnya tidak pernah telat. Jika sudah kelelahan, ia pun bisa izin istirahat. “Soalnya, kalau ngurus anak-anak di sana mah kita kudu punya tenaga ekstra,” akunya.

Selain itu, Marni merasa beruntung karena Udin suami setia. Meski terpisah bertahun-tahun, tapi tetap setia menjaga kepercayaan Marni dan keluarga. Setiap dikirim uang, Udin gunakan untuk keperluan rumah tangga, bahkan jika ada sisa uang, ditabung. “Bersyukur banget, atuh kan banyak suami nikah lagi gara-gara ditinggal istri jadi TKW,” ungkapnya.

Delapan tahun kemudian Marni pulang membawa uang tabungan. Ia membangun rumah dan membeli sawah. Tapi, waktu itu, suaminya juga sudah bekerja di Jakarta dan pulang seminggu sekali. Bertemu hanya hari libur kerja. Saat tidur seranjang, mereka malah jadi tidak nyaman. “Enggak betah gitu, kayak ada yang aneh dan malah enggak bisa tidur,” katanya. Waduh.

Sejak itu, Marni dan Udin tidak pernah lagi tidur seranjang. Marni tidur di kamar, sedangkan suaminya tidur di ruang tengah sambil menonton televisi. “Enggak apa-apa pisah ranjang, yang penting kan masih tetap sama-sama berjuang,” pungkasnya.

Oalah, terserah Teh Marni sajalah. Semoga langgeng dan makin sejahtera ya. Amin. (mg06/zee/ira)