Biasakan Konsultasi ke Dokter Sebelum Cek Laboratorium

0
1.155 views
Ilustrasi (Pixabay)

SURABAYA – Mungkin masih banyak masyarakat yang belum mengenal profesi dokter spesialis patologi klinik. Nama mereka memang tidak seterkenal dokter spesialis lain, tetapi peran mereka dalam membantu menentukan jenis penyakit pasien sangatlah besar.

Pasalnya, para dokter inilah yang bertanggung jawab dalam melakukan terjemahan pada hasil laboratorium pasien. Jika diagnosis yang diberikan salah, maka pasien pun akan mendapatkan penanganan yang salah.

“Di situlah tugas kami untuk mengetahui hasil laboratorium dan kesalahan-kesalahan yang bisa terjadi dalam penerjemahannya,” ujar Prof Dr dr Aryati Ms, SpPK (K) dalam acara The 7th SURAMADE Scientific Symposium and Workshop, The Role of Clinical Pathologist in Disease Control di Hotel Bumi, Surabaya, Jumat (28/7), sebagaimana dilansir JawaPos.com.

Dia pun mencontohkan kasus ketika ada pasien yang datang dengan demam 2 hari dilakukan pengecekan laboratorium. Hasilnya, semua tampak normal dan pasien dinyatakan sehat. Namun, ketika periksa ke dokter lain, dia dinyatakan hepatitis karena SGOT dan SGPT tinggi.

Lalu dua hari kemudian, pasien mengalami syok dan masuk Intensive Care Unit (ICU) karena demam berdarah yang sudah lanjut. Akhirnya pasien itu meninggal akibat terlambat mendapat penanganan.

“Salah interpretasi ini bisa fatal akibatnya. Karena itu kami terus memberikan pemahaman kepada dokter-dokter umum dan spesialis lain tentang parameter laboratorium yang di cek harus tepat,” lanjutnya.

Selain itu, para dokter patologi klinik ini juga bertanggung jawab pada mutu hasil laboratorium yang kini semakin menjamur di masyarakat. Laboratorium ini sebenarnya memiliki tingkatan yang berbeda dengan ketentuan yang berbeda pula.

Misalnya pada laboratorium klinik pratama, cukup dokter umum saja yang ada di dalamnya. Sedangkan untuk laboratorium klinik madya dan utama, dokter patologi klinik juga harus ada di sana.

“Istilahnya kami ini adalah jembatan antara dokter di klinik terapi dengan laboratorium,” ujar Aryati.

Meski demikian, kesalahan dalam interpretasi ini tidak semata-mata karena pembacaan hasil yang tidak sesuai. Bisa saja kesalahan itu terjadi pada saat mulai pengambilan sampel. Kalau hal ini yang terjadi, pengambilan ulang sampel harus dilakukan untuk mendapatkan hasil yang benar.

“Paling sering terjadi itu kesalahan diagnosis demam berdarah dengan tifus. Jadi pasien pulang dengan obat yang banyak,” imbuhnya.

Jika hal ini dibiarkan, maka bakteri yang menyerang pasien pada akhirnya akan mengalami resisten. Jika sudah demikian, pasien akan semakin sulit untuk disembuhkan.
Pasien pun sebaiknya tidak asal datang ke laboratorium untuk memeriksakan diri.

“Sebelum cek lab, ada baiknya datang ke dokter dulu. Baru nanti dokter akan menentukan parameter mana yang harus dilakukan pemeriksaan,” imbuh ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Dan Kedokteran Laboratorium Indonesia Cabang Surabaya itu.

Selain agar mendapat hasil yang efektif dan efisien, hal ini juga membuat masyarakat tidak perlu membuang waktu dan biaya yang berlebihan. (jpk/dwi/JPC/JPG)