Bisa Menyeberang Setelah Telantar

CILEGON – Ratusan orang yang nekat melakukan mudik dari sejumlah daerah di Pulau Jawa ke Pulau Sumatera akhirnya bisa menyeberang di Pelabuhan Merak setelah sebelumnya berjam-jam telantar di depan gate masuk pelabuhan.

Peristiwa itu terjadi pada Sabtu (25/4) malam dan Minggu (26/4) dini hari. Di mana ratusan pemudik yang mayoritas menggunakan sepeda motor mulai berdatangan di Pelabuhan Merak pada Sabtu malam.

Mereka mulai berdatangan sejak pukul 22.00 WIB. Namun karena adanya aturan larangan mudik, ratusan orang tersebut tertahan oleh petugas dari kepolisian dan Dinas Perhubungan (Dishub).

Akibatnya, penumpukan kendaraan pun terjadi. Masyarakat yang sudah telanjur tiba di Pelabuhan Merak enggan untuk kembali ke daerah asal dan bersikeras untuk bisa pulang ke kampung halaman.

Diki, salah satu pengguna jasa penyeberangan asal Bogor mengaku bersikeras tetap berada di depan Pelabuhan Merak karena merasa bingung jika harus kembali ke tana rantau, Bogor, Jawa Barat.

Ia mengaku tiba di Pelabuhan Merak sekira pukul 23.00 WIB. Pria yang hendak pulang ke Lampung itu mengaku terpaksa tetap pulang meski dilarang pemerintah karena sudah tidak lagi memiliki pekerjaan.

“Tetap di sana (Bogor) juga butuh makan, kerjaan enggak ada, mau gimana lagi,” ujarnya.

Menurut Diki, aturan larangan mudik menjadi dilema baginya. Satu sisi ia ingin menuruti aturan itu, tapi di sisi lain kebutuhan hidup sehari-hari tidak terjamin karena tidak adanya pekerjaan.

Hal senada diutarakan Andri. Ia mengaku terpaksa pulang kampung karena terdesak oleh kebutuhan.

Menurutnya, akibat wabah Covid-19, ia kehilangan mata pencaharian. “Gini loh mas kita di kota udah enggak kerja sedangkan kalau bertahan kita butuh makan juga,” ujarnya.

Setelah menunggu berjam-jam, akhirnya, pada  Minggu (26/4) sekira pukul 05.00 WIB, ratusan orang yang tetap bertahan tersebut bisa menyeberang setelah mendapatkan izin dari kepolisian.

Hal itu pun disambut gembira, masyarakat yang banyak berasal dari Jawa Barat dan Jakarta itu bersyukur bisa melanjutkan perjalanan mudik atau pulang kampungnya.

Wati dan Ferry di antaranya. Mereka mengaku sangat bersyukur bisa mendapatkan akses menyeberang ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

Wati mengaku bertahan di depan gate masuk Pelabuhan Merak selama enam jam. Ia mengaku tetap bertahan karena enggan kembali ke Tangerang.

“Alhamdulilah Mas sudah diizinkan lewat sama pak polisi yang jaga,” ujar Wati.

Menurut Wati, ia sempat khawatir, karena selama perjalanan dari Tangerang hingga Merak tidak tersendat oleh pemeriksaan polisi. Justru pemeriksaan baru dialaminya setelah tiba di Pelabuhan Merak.

“Saya khawatir disuruh putar balik lagi ke Tangerang, takut pak sudah malam,” ujarnya.

Sedangkan Ferry, ia berharap setelah di Lampung tidak lagi ada pengetatan yang memaksanya harus kembali ke Pulau Jawa.

“Semoga aja di sana lancar, gimana yah kalau udah sampe Lampung harus pulang lagi,” tuturnya.

Terpisah, General Manager (GM) PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Merak Hasan Lessy menjelaskan, pencegahan masuk ke area Pelabuhan Merak merupakan kewenangan pihak kepolisian.

Menurutnya, ASDP hanya bertugas menyediakan sarana dan prasarana penyeberangan.

“Kita tetap membuka pelayanan, kalau untuk pengawasan menjadi domain kepolisian,” tuturnya. (bam/air)