BJS Gelar Festival Budaya Lokal: Dari Mainan sampai Makanan Khas Disediakan

Wakil Wali Kota Subadri Ushuludin (kedua dari kanan) mencicipi makanan yang disediakan panitia pada ulang tahun ke-9 BJS di Gelanggang Olaraga Remaja (GOR) Stadion Maulana Yusuf, Minggu (17/11).

SERANG – Festival budaya lokal kembali dihelat komunitas pelestari bahasa Jawa Serang yang dikenal BJS di Gelanggang Olaraga Remaja (GOR) Stadion Maulana Yusuf, Minggu (17/11).

Festival yang bersamaan dengan ulang tahun ke-9 BJS ini menampilkan beragam kesenian daerah, jajanan/makanan lokal, sampai permainan lokal masa kecil.

Makanan ini dibawa oleh para peserta dan warga yang ikut serta meramaikan acara. Aneka kuliner khas kota Serang itu juga bisa dinikmati para pengunjung di festival. Mulai dari jajanan santri mutil, rangda kewudan, ongol-ongol, sayur blohok, ketan bintul, sate bandeng sampai rabeg. Selain itu, ada panganan dengan nama unik, kontol sapi yang terbuat dari beras ketan dengan dibumbui oleh gula.

Tidak seperti acara-acara lainnya, selama acara baik panitia maupun pengungjung hampir semuanya menggunakan bahasa jawa Serang. Pegiat BJS Lulu Jamaludin mengatakan, festival sebagai bentuk pelestarian bahasa, kesenian daerah, panganan lokal, dan permainan masa kecil.

Festival budaya lokal ini juga sekaligus ulang tahun komunitas pencinta bahasa Jawa Serang (Jaseng) ke-9. “Ini sebagai bentuk pelestarian bahasa dan budaya lokal Serang,” katanya di sela-sela acara.

Wakil Wali Kota Subadri Ushuludin yang membuka acara ini mengatakan, pelestarian bahasa Jaseng jadi tanggung jawab bersama warga Serang. Generasi anak-anak muda perlu dikenalkan pada bahasa daerah yang semakin lama berkurang penuturnya. “Bahwa kewajiban semua untuk melestarikan bahasa Jawa Serang,” katanya.

Sebagai bentuk pelestarian, Pemkot Serang akan menggunakan bahasa lokal ini untuk diuturkan di call center milik Dinas Kominfo, penamaan taman-taman kota juga akan menggunakan bahasa daerah. “Nanti ada taman cecantelan (persaudaraan), itu cara kota melestarikan bahasa Jaseng,” ujarnya.

Penanggung jawab acara, Mang Ovie Rambo Banten mengatakan, acara ini sebagai bentuk pelestarian budaya dan bahasa Jaseng. Pengguna Jaseng berkumpul bersama keluarga masing-masing untuk mengenalkan berbagai panganan lokal dan mengenalkan bahasa daerah termasuk pada anak-anak dan pengunjung. “Ini sebagai bentuk pelesarian bahasa daerah khususnya Jaseng, selain itu mengenalkan panganan lokal khas Serang dengan nama yang unik,” kata Mang Ovie.

Para pengunjung juga bisa menikmati setiap kuliner yang disediakan komunitas. Terakhir, pengunjung bisa menikmati makanan rabeg bersama-sama dan menikmati pertunjukan seni teater tradisional ubrug. (Ken Supriyono)