BLK dan Rumah Singgah Jadi Tempat Isolasi

0
600 views
Walikota Cilegon Edi Ariadi meninjau gedung BLK Disnaker Kota Cilegon, Senin (11/5). Gedung itu akan dijadikan ruang isolasi warga yang terjangkit Covid-19 di Kota Cilegon.

CILEGON – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon tengah menyiapkan gedung Balai Latihan Kerja (BLK) milik Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Cilegon, Rumah Singgah milik Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cilegon, dan RSUD Kota Cilegon yang akan menjadi tempat isolasi bagi masyarakat yang terjangkit Covid-19.

Kemarin, Senin (11/5) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Cilegon meninjau kesiapan tiga tempat tersebut.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Cilegon, Aziz Setia Ade Putra menjelaskan, di BLK akan ada 50 tempat tidur, di Rumah Singgah sebanyak 40 tempat tidur, sedangkan di RSUD Kota Cilegon sebanyak 23 tempat tidur.

“Tiga tempat itu ditunjuk karena hanya itu milik pemerintah, kalau industri-industri kan punya hotel, KS misalnya,” ujar Aziz kepada wartawan di kantor Dinas Komunikasi Informasi Statistik dan Sandi (DKISS) Kota Cilegon, Senin (11/5).

Ruang isolasi itu disiapkan bagi masyarakat yang baru datang dari luar daerah khususnya yang berstatus zona merah. Kemudian, untuk masyarakat yang berstatus Orang Tanpa Gejala (OTG) karena telah melakukan kontak langsung dengan pasien positif Covid-19.

Namun, lanjut Aziz, penggunaan ruang isolasi bersifat atas keinginan masyarakat, bukan paksaan dari pemerintah.

“Jadi kalau ada masyarakat yang enggak mau isolasi mandiri di rumah, bisa pakai ruang isolasi ini, tidak dipaksa oleh pemerintah,” tutur Aziz.

Jika terdapat tenaga kerja luar daerah yang berstatus OTG, ruang isolasi beserta fasilitasnya menjadi tanggung jawab masing-masing perusahaan, atau dikembalikan ke daerah asal tenaga kerja tersebut.

Bagi masyarakat yang ingin melakukan isolasi di ruang yang disediakan pemerintah, maka kebutuhan sehari-hari seperti makan akan ditanggung oleh pemerintah. Pemerintah pun akan memantau perkembangan kondisi kesehatan masyarakat yang menjalani isolasi selama 14 hari tersebut.

Aziz mengaku belum bisa menjelaskan secara detail apa saja fasilitas yang akan diterima masyarakat selama menjalani isolasi, karena masih dalam proses peninjauan dan kajian.

“Berapa banyak tenaga medisnya, apa saja fasilitasnya saya belum terima informasi karena kan sekarang masih ditinjau. Yang pasti tempat tidur dan makan akan ditanggung pemerintah,” tuturnya.

Terpisah, Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kota Cilegon, Jubaedi menjelaskan, terdapat 10 bangsal di Rumah Singgah yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan isolasi.

Dalam kondisi normal, setiap bangsal berkapasitas empat tempat tidur. Namun, jika demi kepentingan isolasi, ia memperkirakan maksimal kapasitas setiap bangsal sebanyak tiga tempat tidur.

“Itu kalau mau dipaksakan. Sebetulnya sih  kalau buat isolasi layaknya untuk dua orang, kan kalau isolasi tidak bisa berjubel,” ujar Jubaedi.

Kendati seperti itu, ia menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 terkait teknis penggunaan tempat tersebut.

Kemudian, ia pun memastikan jika penggunaan fasilitas Rumah Singgah sebagai tempat isolasi tidak mengganggu program Dinsos lainnya. Karena masih ada sejumlah ruangan yang bisa dipakai.

Sementara itu, Kepala Disnaker Kota Cilegon, Suparman menjelaskan, secara prinsip Disnaker tidak keberatan jika fasilitas BLK dijadikan sebagai tempat isolasi Covid-19.

“Karena itu merupakan tanggungjawab kita bersama selaku OPD Pemda Kota Cilegon,” ujar Suparman.

Ruang BLK bisa menampung 50 orang selama isolasi. Namun ia berharap tidak ada satupun yang diisolasi di ruangan tersebut.

“Kami berdoa supaya enggak ada penghuninya, artinya semuanya tetap sehat,” ujarnya.  (bam/air)