BMKG Pasang Pendeteksi Tsunami di Selat Sunda

Ilustrasi

SERANG- Provinsi Banten menjadi salah satu daerah rawan terjadinya gempa dan tsunami. Desember tahun lalu, tsunami menghantam kawasan wisata Serang dan Pandeglang hingga menyebabkan 443 rumah rusak dan 176 warga tewas, disusul gempa berkekuatan 6,9 skala Richter awal bulan ini yang berdampak 561 rumah rusak dan enam orang meninggal.

Untuk mengurangi risiko tsunami di wilayah Banten, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) segera memasang pendeteksi tsunami (Buoy) yang akan ditempatkan di Selat Sunda untuk peringatan dini. 

Hal itu terungkap pada acara penutupan kegiatan Ekspedisi Desa Tangguh Bencana (Destana) 2019 tingkat Kabupaten Serang di halaman Hotel Marbella, Anyar, Jalan Raya Karang Bolong, Bandulu, Kecamatan Anyar, Kabupaten Serang, Rabu (14/8). Acara penutupan dipimpin langsung Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Doni Monardo.

Hadir Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Komandan Korem 064/Maulana Yusuf Kolonel Inf Windiyatno, Kepala Basarnas Banten M Zaenal, Sekda Banten Al Muktabar, dan Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, pihaknya akan meletakkan sekira 12 Buoy yang dirancang dan disiapkan oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dijelaskan Dwikora, Buoy merupakan alat deteksi tsunami untuk peringatan dini tsunami yang dirancang dengan perhitungan modeling matematika. Artinya, Buoy bisa memprediksi akan terjadinya tsunami. “Buoy akan dipasang satu di Selat Sunda,” ungkapnya.

Ia pun meminta masyarakat untuk tidak merusak Buoy karena fungsinya untuk melindungi berupa peringatan dini ketika terjadi tsunami. Katanya, Buoy sudah sempat dipasang di beberapa wilayah untuk eksperimen, tetapi hilang. “Kita akan tahu (terjadinya tsunami-red) meskipun agak terlambat, itu lebih baik,” ujarnya.

Kendati begitu, menurutnya, masih perlu dilaksanakan kegiatan kearifan lokal untuk mengedukasi masyarakat ketika terjadi tsunami. Ia pun meminta pemerintah daerah tidak khawatir tsunami bakal menghambat investasi. Menurutnya, usaha pariwisata masih bisa bekerja. Caranya, menerapkan sistem manajemen bencana agar mengetahui ancaman, kesiapan, dan ketangguhan bencana. “Negara lain juga gitu. Seperti di Hawaii (Amerika Serikat-red) yang mempunyai selter evakuasi tsunami dan kesiapan logistiknya,” jelasnya.

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo mengatakan, pihaknya sempat menempatkan 26 alat deteksi tsunami, tetapi hilang. Padahal, negara mengeluarkan biaya besar untuk membangun sistem peringatan dini tersebut. “Tapi, ternyata tidak efektif karena komponennya hilang,” ujarnya.

Lantaran itu, Doni meminta, ketika alat deteksi dipasang kembali agar ada sistem pengamaman alat, berkolaborasi dengan TNI-Polri dan menyosialisasikannya kepada seluruh unsur masyarakat. Katanya, alat deteksi tsunami merupakan mata dan telinga bangsa. “Kalau alat rusak, maka sama saja mata dan telinga kita tutup. Berarti akan timbul lagi kerugian sangat besar. Ini kembali kepada masalah perilaku,” jelasnya.

Terkait kegiatan Ekspedisi Destana, Doni berencana menyasar ibu-ibu rumah tangga yang cenderung lebih peduli terhadap keluarga, tidak hanya kaum milenial dan pelajar untuk mengurangi risiko bencana. Pihaknya sedang menyusun konsep program pelatihan sampai menyentuh tingkat keluarga.

Menurutnya, banyak keluarga belum mendapat pelatihan kebencanaan. Padahal keluarga pihak pertama yang terdampak bencana. “Hasil penelitian ternyata hanya dua persen bantuan dari luar yang membantu masyarakat ketika terjadi bencana, 98 persen faktor diri sendiri, keluarga, dan lingkungan tetangga,” tandasnya.

Sekda Banten Al Muktabar menyambut baik wilayahnya menjadi jalur Ekspedisi Destana. Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada BMKG yang memberikan alat deteksi tsunami. “Ini akan sangat membantu kita dalam rangka kesiapsiagaan potensi bencana,” ujarnya.

Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa menambahkan bahwa kegiatan Ekspedisi Destana menjadi peringatan bagi pemda yang sadar bahwa masyarakatnya hidup di daerah bencana, terutama di Anyar dan Cinangka. Pihaknya tinggal menyusun manajemen kepanikan masyarakat.       “Bencana akan memakan korban kalau kepanikannya luar biasa. Oleh karena itu, perlu kita kelola agar ketika terjadi bencana masyarakat tidak terlalu panik,” katanya.

Acara penutupan meliputi upacara bersama peserta Ekspedisi Destana dan ribuan anak pramuka. Dilanjutkan beberapa kegiatan lainnya, seperti pantauan ke kawasan pantai, menuju 13 lokasi evakuasi bencana, simulasi penyelamatan korban kebakaran, dan sosialisasi kebencanaan. Kepala BNPB sempat mengajak anak-anak Pramuka membersihkan sampah di sekitarnya. (zai/ira)