BNN Banten Gagalkan Penyelundupan Narkoba Puluhan Miliar Rupiah

Deputi Pemberantasan BNN RI Irjen Arman Depari (ketiga kiri) dan Kepala BNNP Banten Brigjen Pol Muhamad Nurochman (menunjuk) menunjukan barang bukti puluhan ribu pil ekstasi dan tujuh kilogram sabu-sabu saat menggelar rilis di kantor BNNP Banten, Cipocokjaya, Kota Serang, (Rabu (29/8).

SERANG – Penyelundupan narkoba oleh sindikat pengedar narkoba internasional digagalkan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten, Senin (27/8). Sabu-sabu seberat tujuh kilogram dan 65 ribu pil ekstasi atau ineks diamankan dari tersangka Mulyadi (28) seusai mengambil barang haram tersebut di PT ICE, Kelurahan Batujaya, Kecamatan Batuceper, Kota Tangerang.

Upaya penyelundupan itu terbongkar, setelah petugas BNN Provinsi Banten menerima informasi pengiriman narkotika dari Sumatera, Jumat (24/8). Sabu-sabu dan ekstasi itu menggunakan jasa pengiriman PT ICE dan ditujukan kepada Aryanto.

Senin (27/8), paket kiriman sabu-sabu dan ekstasi itu sampai di kantor perusahaan kargo tersebut. Sekira pukul 13.30 WIB, Mulyadi datang mengambil barang tersebut. “Tersangka kita amankan dan saat ini masih dalam pengembangan apakah ada pihak terkait,” kata Kepala BNN Provinsi Banten Brigjen Pol Muhammad Nurochman, Rabu (29/8).

Narkoba itu merupakan pesanan seorang warga binaan Lembaga Permasyarakatan (Lapas) klas II A Salemba, Jakarta Pusat berinisial AN. Rencananya, narkoba bernilai puluhan miliar rupiah itu bakal diedarkan di tempat hiburan Banten. “Diamankan dahulu (narkoba-red) di safehouse-nya di salah satu apartemen. Nanti, berapa hari kemudian baru disampaikan kepada pemesan,” kata Nurochman.

Kendati berhasil menggagalkan penyelundupan narkoba, Nurochman mengaku masih kecolongan. Soalnya, pengiriman narkoba kali pertama luput dari pengawasan BNN Provinsi Banten. “Ini yang kedua. Tapi, bukan dia (Mulyadi-red). Untuk yang pertama tak termonitor,” kata Nurochman.

Sementara, Deputi Pemberantasan Narkoba BNN Irjen Pol Arman Depari menyatakan sabu-sabu tersebut memiliki kesamaan dengan sabu-sabu yang diamankan BNN di Dumai, Provinsi Riau. “Kita bisa simpulkan sindikat yang beroperasi di wilayah Sumatera Utara sampai ke Banten ini adalah sama,” kata Arman.

Arman tidak menampik penyeludup narkoba di Banten masih satu jaringan dengan politisi NasDem sekaligus anggota DPRD Kabupaten Langkat Ibrahim Hasan. “Hasil penyelidikan kita, barang bukti berasal dari Malaysia yang diselundupkan melalui jalur laut,” kata Arman.

Dikatakan Arman, sabu-sabu itu diselundupkan ke Indonesia melalui jalur laut. Pelabuhan tikus yang tersebar di sepanjang pantai timur Indonesia dimanfaatkan penyelundup narkoba. “Ternyata perbatasan negara kita, terutama perbatasan di laut masih banyak sekali kelemahan-kelemahan dan kebocoran-kebocoran. Sehingga sangat memudahkan bagi kelompok sinidikat penyelundup narkoba untuk memasukkan barangnya ke Indonesia,” beber Arman.

Selain lemah di jalur laut, penyelundupan narkoba itu juga lantaran lemahnya pengawasan di Lapas. Sering kali napi terlibat dalam kasus narkoba merupakan bukti lemahnya pengawasan. “Para napi di lapas masih bisa mengendalikan dan bisa mengontrol sindikatnya yang berada di luar dan mampu menggerakkan orang lain. Sehingga penyelundupan dan penyalahgunaan narkoba marak terjadi di negara kita,” kata Arman.

Arman mengingatkan agar seluruh pihak di Banten harus meningkatkan kewaspadan terhadap bahaya peredaran narkoba. Sebab, Banten telah menjadi pasar bagi pengedar narkoba. “Dalam satu sindikat ini cukup banyak, mungkin saja ada sindikat lain, yang jumlahnya jauh lebih besar,” kata Arman.

Arman juga meminta instansi pemerintah di daerah dan masyarakat memberikan dukungan untuk pemberantasan peredaran gelap narkoba. “Jadi jangan anggap aman-aman saja. Itu hanya kerjaaan BNN. Apalagi, mungkin ada yang kurang begitu perhatian, kurang begitu menaruh harapan terhadap kelangsungan kepada generasi muda kita,” beber Arman. (Merwanda/RBG)