BNN Bongkar Penyelundupan 300 Kg Ganja Asal Aceh Tujuan Cilegon

JAKARTA – Bandar narkotika terus mencoba cara baru mengedarkan barang haram. Kemarin (16/5), Badan Narkotika Nasional (BNN) mengungkap penyelundupan ganja seberat 300 kilogram (kg) asal Aceh menuju Banten. Uniknya, ganja ditumpuk dalam limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) untuk mengelabui petugas. Tiga orang pelaku berhasil ditangkap, yakni Dodi, Misbah, dan Jainudin.

Deputi Pemberantasan BNN Irjen Arman Depari menjelaskan, penyelidikan dimulai sejak 10 April, terdapat informasi pengiriman ganja dari Aceh. Petugas melakukan penyelidikan dan memonitor sejumlah kendaraan boks. “Awalnya ditangkap Dodi yang membawa sebuah mobil boks,” tuturnya.

Dalam penangkapan itu diketahui Dodi membawa ganja 300 kg yang dikamuflase dengan puluhan karung limbah B3. Petugas tidak ingin hanya menangkap pengirim ganja. Akhirnya, dilakukan control delivery. “Dodi ini mengirim dengan tujuan Cilegon, Banten, untuk dua orang, Misbah dan Jainudin,” terangnya.

Saat diserahkan pada keduanya, petugas menyergap dan berhasil membongkar jaringan tersebut. Dia mengatakan, pemeriksaan dilanjutkan, ketiga tersangka diperiksa di kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur. “Masih dikembangkan pengendalinya siapa,” jelasnya.

Modus menggunakan kamuflase limbah B3 itu baru kali pertama terjadi. Sebelumnya, yang paling baru hanya kotak narkotika dicat dengan pilok agar tidak terendus anjing K9. “Untuk limbah B3 ini benar-benar tidak disangka,” ujarnya.

Menurutnya, modus itu membuat petugas harus ekstrawaspada, khususnya untuk berbagai kendaraan yang membawa limbah. Bisa jadi, ada narkotika yang disembunyikan. “Ini yang perlu diawasi ke depan,” tuturnya.

Terkait di mana bandar mendapatkan limbah B3 dan akan diapakan limbah B3 itu, Arman menjelaskan bahwa semua itu masih pendalaman. “Yang pasti, tidak akan berhenti hanya di sini,” jelas jenderal berbintang dua tersebut.

Menurutnya, bandar terus mencari celah untuk bisa mengedarkan narkotika. Momentum bulan Ramadan ini justru membuat petugas tidak boleh lengah. “Mereka mungkin berpikir puasa akan kendor,” paparnya.

Dia menjelaskan, penyelundupan ganja asal Aceh terus menjadi momok. Sebab, kebun ganja di provinsi ujung pulau Sumatera itu masih bertebaran. “Pembakaran kebun ganja sudah kerap dilakukan, tapi selalu ada lagi,” jelasnya.

Kondisi itu tentunya memerlukan keterlibatan masyarakat sehingga tanaman ganja tidak lagi menjadi ancaman bagi generasi bangsa. “Perlu bantuan masyarakat Aceh,” paparnya.

Para tersangka dikenakan Pasal 114 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) dan Pasal 111 ayat (2) juncto Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika  dengan ancaman hukuman maksimal yakni hukuman mati atau penjara seumur hidup. (jpg/alt/ira)