BPJS Ketenagakerjaan Banten Bidik Pengelola BUMDes

Sosialisasi program kepada pengelola badan usaha milik desa (BUMDes), Selasa (30/4).

SERANG – BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten menyelenggarakan sosialisasi program kepada pengelola badan usaha milik desa (BUMDes) di Kabupaten Serang, Selasa (30/4) di sebuah hotel di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang.

Acara dibuka Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Banten Eko Nugriyanto. Narasumbernya Asisten Deputi Direktur Bidang Kepesertaan Skala Kecil dan Mikro Teguh Wiyono, Kabid Pengawasan Ketenagakerjaan Disnakertrans Banten Ubaidillah, Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Banten Didin Aliyudin, dan sebagai moderator Asisten Deputi Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten Didin Haryono.

Asisten Deputi Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten Didin Haryono melaporkan bahwa kegiatan tersebut sebagai upaya pihaknya menyosialisasikan program dan manfaat BPJS Ketenagakerjaan kepada masyarakat, terutama kepada para pengelola badan usaha milik desa sehingga mereka diharapkan dapat masuk sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Pada kesempatan membuka acara, Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Banten Eko Nugriyanto menuturkan, di Indonesia terdapat sekira 27 ribu BUMDes. Sementara di Banten sebanyak 393 BUMDes.

“Di Banten sampai saat ini para pengelola BUMDes belum ada yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan,” ungkap Eko kepada wartawan.

Karena itu, lanjut dia, pengelola BUMDes di Banten menjadi bidikan atau target peserta BPJS Ketenagakerjaan. Iurannya sangat terjangkau, cuma Rp 16.800 per bulan, dengan dua program yaitu jaminan kecelakan kerja (JKK) dan jaminan kematian (JKM).
“Mereka memiliki risiko kecelakaan kerja. Maka perlu mendapatkan jaminan,” kata Eko.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Serang Muallif menambahkan, pengelola BUMDes potensial untuk jadi peserta. Mereka termasuk pada kategori peserta bukan penerima upah atau BPU.

Hingga saat ini di Kantor Cabang Serang terdapat 32.000 peserta dari kelompok bukan penerima upah, seperti pengojek dan pedagang. “Tahun ini menargetkan dapat meningkatkan peserta dari kelompok bukan penerima upah sebanyak 30 ribu peserta,” jelas Muallif. (Aas)