BPJS Ketenagakerjaan Banten Bidik Peserta dari Perguruan Tinggi

Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Banten Teguh Purwanto menyerahkan bantuan penyediaan literatur secara simbolis kepada Wakil Rektor Untirta Bidang Kemahasiswaan Suherna.

SERANG – BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Banten terus meningkatkan jumlah perserta jaminan sosial tenaga kerja. Salah satu yang menjadi target yaitu pegawai dan dosen non-aparatur sipil negara (ASN) di perguruan tinggi negeri dan pegawai di perguruan tinggi swasta yang ada di Provinsi Banten.

“Tidak menutup kemungkinan kita akan bekerja sama dengan perguran tinggi yang ada di Banten. Di perguruan tinggi negeri kan tidak semuanya ASN. Nah, yang non-ASN ini harus mendapatkan jaminan perlindungan juga. Begitu pula dengan pegawai di perguruan tinggi swasta,” kata Deputi Direktur Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Banten Teguh Purwanto usai menjadi narasumber acara “40 Menit Mengajar” bertema Kenali Manfaat Program BPJS Ketenagakerjaan Sejak Dini di kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Kota Serang, Selasa (12/12).

40 Menit Mengajar di Untirta ini salah satu program sosialisasi kepada perguruan tinggi dalam rangka 40 tahun BPJS Ketenagakerjaan. Acara ini secara nasional digelar di 40 perguruan tinggi negeri dengan narasumber mulai dari jajaran direksi, dewan pengawas hingga deputi direktur di masing-masing wilayah. Acara kampus Untirta dihadiri Wakil Rektor Untirta Bidang Kemahasiswaan Suherna, beberaoa dosen, dan sekira 200 mahasiswa.

Teguh menjelaskan, dosen dan pegawai non-ASN di perguruan tinggi sama halnya dengan para pekerja pada umumnya. Mereka perlu mendapatkan jaminan perlindungan. “Minimal mereka ikut atau dimasukkan dalam dua program yaitu jaminan kecelakaan kerja dan jaminan kematian. Iuran dua jaminan itu sangat terjangkau,” ungkap Teguh.

Mengenai “40 Menit Mengajar” bertema Kenali Manfaat Program BPJS Ketenagakerjaan Sejak Dini, kata Teguh, merupakan bagian dari kegiatan 40 tahun BPJS Ketenagakerjaan. Tujuannya untuk memberikan edukasi kepada mahasiswa agar mereka mengetahui program BPJS Ketenagakerjaan sebelum mereka memasuki lapangan kerja.

“Program perlindungan ini juga menjadi kebutuhan mereka ketika sudah bekerja,” imbuh Teguh.

Teguh mengamini ketika disinggung soal sosialisasi kepada mahasiswa ini bagian dari target BPJS Ketenagakerjaan yang membidik para pekerja pemula atau pekerja muda. Karena Indonesia sendiri sebagai negara yang memiliki bonus demografi, angkatan kerjanya sangat besar dibanding dengan orang yang sudah atau tidak bekerja.

Untuk itu para pekerja muda ini perlu mendapatkan edukasi tentang jaminan sosial. Seperti pada acara 40 Menit Mengajar ini, banyak dari peserta yang belum memahami BPJS Ketenagakerjaan dan masih keliru antara BPJS Ketenagakerjaan dengan BPJS Kesehatan. “Saya jelaskan dari dua BPJS ini dan manaat dari BPJS Ketenagakerjaan bagi para pekerja,” ungkap Teguh. (Aas Arbi)