Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Banten Eko Nugriyanto dan Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten KH Ikhwan Hadiyyin menandatangi MoU di Sekretariat FSPP Banten, Jumat (10/5).

SERANG – Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Banten membidik pengelola pesantren sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Pengelola pesantren, seperti kiai dan ustaz, termasuk ke dalam kelompok pekerja informal yang memiliki risiko dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

Untuk merealisasikan target tersebut, BPJS Ketenagakerjaan Kanwil Banten menjalin kerja sama dengan Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten tentang pemberian perlindungan jaminan sosial bagi pekerja informal di ponpes, seperti kiai, ustaz, dan pekerja rentan lainnya. Penandatanganan memorandum of understanding (MoU) dilakukan Sekretariat FSPP Provinsi Banten, Jumat (10/5).

Deputi Direktur BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Banten Eko Nugriyanto mengatakan, dengan MoU tersebut, pihaknya siap memberikan jaminan perlindungan ketenagakerjaan bagi para kiai, ustad dan pekerja rentan di Banten. “Para kiai, ustad dan pekerja rentan di Banten perlu mendapat perlindungan dan jaminan sosial ketenagakerjaan,” katanya di sela-sela acara.

Menurutnya, kiai, ustad dan guru ngaji di ponpes masuk pekerja sektor bukan penerima upah (BPU) atau informal. Mereka rentan terhadap risiko pekerjaan yang dilakukan. “Jangan sampai masyarakat itu sadar ketika risiko itu sudah terjadi. Makanya kita ingin mengingatkan sebelum ada risiko dan sudah terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan,” kata Eko.

Kata Eko, para kiai dan ustaz adalah orang-orang yang mengabdikan untuk mendidik generasi bangsa. Mereka mengelolah dan berada di ponpes bekerja 24 jam untuk mencerdaskan bangsa. “Kita semua tahu, pesantren itu salah satu ujung tombak yang banyak memberikan pemberdayaan di masyarakat. Bahkan sebelum ada pendidikan formal, pesantren sudah hadir,” cetus pria asal Demak ini.

Asiten Deputi Direktur Bidang Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Wilayah Banten Didin
Haryono menambahkan, para kiai, ustaz, dan pekerja rentan di Banten dapat menjadi teladan dalam mengajak pentingnya menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. “Adanya MoU dengan FSSP ini, diharapkan para kiai, ustad, guru-guru ngaji, baik itu yang ada di ponpes modern dan salafi bisa terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan,” katanya.

Ketua Presidium FSPP Provinsi Banten Ikhwan Hadiyyin menyambut baik kerja sama tersebut. Menurutnya, hal ini dapat memberi kepastian perlindungan jaminan bagi kiai dan ustaz. “Insya Allah akan lebih nyaman melaksanakan tugas mencerdaskan umat,” katanya.

Pihaknya berharap, MoU tersebut terlaksana dengan baik dan diikuti para kiai dan ustaz yang mengabdi di Ponpes. “Risiko bekerja itu memang jelas ada di tangan Allah, tetapi manusia itu harus berusaha (meminimalisir),” kata Ikhwan Hadiyyin.

Apalagi di Banten memiliki ribuan pondok pesantren yang belum terlindungi program BPJS Ketenagakerjaan. “Kalaulah dari 4.149 pondok pesantren di Banten tiap-tiap pesantren mempunyai minimal 20-30 ustaz, tentu betapa banyak yang terlindungi oleh program BPJS Ketenagakerjaan dari risiko-risiko yang tidak diinginkan,” katanya. (Ken Supriyono/Aas)