SERANG – Balai Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Serang mengamankan ribuan produk kosmetik paslu dan obat-obatan keras yang beredar di pasaran. Produk asli tapi palsu (aspal) ini marak beredar di pasaran dengan sasaran konsumen kaum hawa yang ingin tampil cantik dan memutihkan kulit wajah.

Razia ini dilakukan dua tahap yakni pada 26 Januari 2015 dan 25 Februari 2015 dengan melibatkan Polda Banten dan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Banten. Razia dilakukan di tiga titik dengan tempat kejadian perkara yakni di sebuah toko di daerah Tigaraksa dan Griya Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Di toko P, petugas menemukan toko kelontong namun beroperasi layaknya apotik serta menjual obat keras dan psikotropika. Petugas mengamankan tersangka berinisial E. Pada lokasi kedua petugas mengamankan CMH.

Pada tempat kejadian perkara kedua petugas menemukan tiga rumah dengan satu pemilik yang kini menjadi tersangka yakni CMH. “Dia merupakan residivis yang pernah dipernjara atas kasus yang sama pada tahun 2012,” terang Kepala BPOM Serang Mohamad Kashuri saat rilis di Kantor BPOM Serang di Jalan Syeh Nawawi Al-Bantani, Kamis (26/2/2015).

Di tempat kejadian perkara, terang Kashuri, pihaknya menemukan pada rumah pertama digunakan untuk memproduksi sabun, rumah kedua digunakan untuk menampung cream bahan kimia untuk sabun dan kosmetik, dan rumah ketiga digunakan untuk pengemasan produk kosmetik aspal.

“Dari tersangak ini kami mengamankan empat kali lipat banyaknya produk palsu dibanding pada tahun 2012 lalu. Tersangka pernah dipenjara beberapa bulan atas kasus yang sama,” terangnya.

Barang bukti yang berhasil diamankan dari rumah tersangka, sebanyak 38 jenis, alat pengemas, alat produksi berupa timbangan, mixer (alat pencampur), dan lain sebagainya. “Ada sebanyak 38 jenis kosmetik dan 3000 pcs produk kosmetik palsu bermerk Garnier, Temu Lawak Cream, Sabun Pepeya, eye shadow, dan lain-lain,” terangnya.

Nilai ekonomi dari total produk ditaksir mencapai Rp1 miliar lebih. “Tersangka sudah kita periksa, saksi-saksi juga sudah,” ujarnya.

Akibat aksinya E dapat dijerat dengan pasal 198 Undang-Undang Kesehatan dan pasal 62 Undang-Undang Psikotropika. “Sanksinya Rp100 juta dan pidana 5 tahun penjara. Sedangkan CMH dapat dikenai pelanggaran atas pasal 197 undang-undang kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan denda Rp1,5 miliar,” jelasnya. (Wahyudin)