Penyerang Brasil Neymar. Foto: FIFA.com

RUSIA – Meksiko kembali ke fase knockout Piala Dunia dengan membawa penasaran. Dari enam edisi Piala Dunia sebelumnya, El Tri -julukan Meksiko- mentok sampai 16 Besar. Misteri quinto partido atau laga kelima Piala Dunia yang tak pernah lagi digapai Meksiko seperti dalam Piala Dunia 1986 tetap membayangi.

Termasuk begitu lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2018. ”Kami sudah memiliki mental kuat untuk memutusnya,” klaim gelandang Meksiko Andres Guardado, dilansir Milenio. Satu syarat, singkirkan Brasil dari 16 Besar di Cosmos Arena, Samara, malam nanti WIB (Siaran Langsung Trans TV pukul 21.00 WIB).

”Banyak yang mengira kami bakal tak berdaya di depan Jerman, faktanya kami yang jadi pemenangnya (Matchday 1 Grup E). Kami sudah penasaran (menghadapi Brasil). Ini momen di Piala Dunia terbaik kami,” lanjut kapten Meksiko itu. Guardado selama berkarir di timnas, telah tiga kali jadi saksi kutukan quinto partido itu.

Pada 2006 saat disingkirkan Argentina dari 16 Besar lewat laga extra time 1-2, lalu 2010 kembali dikecewakan La Albiceleste -julukan Argentina- dengan skor telak 1-3 dan ditekuk 1-2 Belanda empat tahun lalu. Meksiko sebelum Guardado mencatatkan caps pertamanya 2005 lalu sudah susah menggapai laga kelimanya di Piala Dunia sejak edisi 1994.

Bulgaria, Jerman, dan AS yang memberi catatan quinto partido negara berperingkat FIFA ke-15 itu pada edisi 1994, 1998 dan 2002. Di antara 23 penggawa Meksiko, Javier “Chicharito” Hernandez yang paling termotivasi untuk menyudahi kutukan ini. Tak hanya lantaran dia sudah dua kali merasakannya di 2010 dan 2014.

Javier “Chicharito” Hernandez. Foto: FIFA.com

Chicharito juga termotivasi dengan sukses ayahnya, Javier Hernandez Gutierrez. Ya, saat Piala Dunia 1986, ayahnya juga termasuk dalam skuat Meksiko besutan Bora Milutinovic pada saat itu. Meksiko kala itu melaju sampai perempat final sebelum dihentikan Jerman Barat lewat adu penalti 1-4 setelah imbang 0-0 sampai extra time.

Meski, ayahnya yang main sebagai gelandang sama sekali tak bermain. ”Tiap kali datang Piala Dunia dia selalu bercerita padaku tentang momen saat itu. Saya ingin dia tidak membahas itu lagi di depanku, dan ini (quinto partido) jangan terjadi lagi,” ungkap Chicharito yang pernah seklub dengan Marcelo di Real Madrid, 2014-2015, dikutip Goal.

Tersisihnya Jerman juga jadi bayang-bayang Brasil. Soalnya, setelah Jerman gagal lolos ke fase knockout, Canarinha -julukan Brasil- makin diunggulkan jadi juara di Rusia. Brasil, dari sisi performanya sejak fase grup pun belum menunjukkan mereka calon juaranya. Prediksi pada saat sebelum Piala Dunia bahwa Brasil digdaya di Grup E pun tak terbukti.

Meski bisa menang dua kali dari tiga laga fase grup, performa skuat asuhan Tite tak lagi superior seperti di laga kualifikasi dan uji coba sebelum Piala Dunia. Nah momen-momen yang pahit saat bertemu Meksiko -salah satunya final Olimpiade 2012 London- yang akan jadi sinyal bahaya bagi Thiago Silva dkk.

Kebetulan Silva juga jadi kapten Brasil yang tumbang 1-2 di Wembley Stadium, London saat itu. ”Kami butuh permainan yang sempurna agar bisa melewatinya (Meksiko),” ungkapnya kepada beIN Sports. ”Mereka tim yang tak pernah berhenti berlari, dan dibekali dengan taktikal yang berkualitas,” tambah Silva yang merupakan pemain kedua dengan caps terbanyak bersama timnas Brasil itu.

Joao Miranda, partner Silva di center back Brasil, mengakui kecepatan pemain Meksiko seperti Chicharito atau Hirving Lozano akan menyulitkan mereka. Duet center back Brasil pada Piala Dunia 2018 kali ini sama-sama berkepala tiga, 33 tahun. ”Cukup main dengan tenang, itu yang menyelamatkan kami,” harap Miranda, dikutip Globo Esporte. (jpg/alt/ags/RBG)