Budi Daya Lele Sumbang Pendapatan ke Desa Talagasari

Sekdes Talagasari Kosim Surya Permana (kanan) bersama pembudidaya lele Subarno Singawijaya saat meninjau pembudidayaan lele di Kampung Talagasari.

TANGERANG – Budi daya lele menjadi potensi unggulan program Pemerintah Desa Talagasari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang. Unit usaha BUMDes Bima Karya yang dibentuk 2017 ini, mampu bertahan dan berkembang. Budi daya lele ini bahkan ikut menyumbang Pendapatan Asli Desa (PADes) Talagasari Rp7 juta per bulan. 

Sekretrais Desa Talagasari Kosim Surya Permana mengatakan, budi daya lele tersebut merupakan hasil dari program pemberdayaan masyarakat pada 2016. ”Ada sekitar empat warga yang aktif membudidayakan lele dan menjadi supplier lele ke berbagai gerai makanan lele di sekitar Desa Talagasari. Dan semakin hari semakin berkembang. Maka itu, karena kami melihat kemajuan dalam budi daya lelel tersebut, akhirnya dirangkul menjadi salah satu unit usaha milik desa,” katanya kepada Tim Saba Desa Radar Banten di ruang kerjanya, Rabu (10/4).

          Kosim menarangkan, untuk membangun dan menjalankan BUMDes Bima Karya serta budi daya lele, Pemerintah Desa Talagasari menggelontorkan dana permodalan sekira Rp200 juta. ”Budi daya lele yang kami giatkan bukan pembesaran, tetapi lebih kepada pembenihan, pembibitan, dan pendederan. Sedangkan untuk suplai lele ke berbagai gerai itu, kami ambil dari bandar ikan di Bogor, karena pusatnya di sana. Sudah tersertifikasi, jadi terjamin. Total keseluruhan penghasilannya, masuk untuk PADes sekitar tujuh juta per bulan,” terang penghobi game online ini.

Kosim menjelaskan, lele hasil budi daya tersebut dijual ke 24 gerai penjual lele di Talagasari. Satu kilogram lele dibanderol seharga Rp22 ribu. Budi daya lele ini dikelola oleh Bendahara BUMDes Bima Karya yang juga pengurus Asosiasi Lele Tangerang (ALETA) Subarno Singawijaya.

          ”Selain ke gerai-gerai penjual lele, juga didistribusikan ke para penjual pecel lele dan kantin-kantin perusahaan di sekitar desa. Selain dijual dalam bentuk hidup, juga dijual dalam bentuk olahannya. Lele yang ukurannya tidak sesuai spesifikasi para penjual lele, diolah menjadi nugget. Jadi enggak ada yang terbuang,” lanjut pria 37 tahun itu.

Sementara, Kepala Desa Talagasari hasil pergantian antar waktu (PAW) Bayu Mukhara Fakhmi mengatakan, saat ini, pihaknya tengah melakukan riset tentang pengelolaan sampah domestik. ”Jadi, sampah-sampah domestik kita bakar di dalam tong sampah. Nah, asap pembakarannya itu akan disiram air dengan menggunakan bantuan teknologi yang sedang kami rancang. Sehingga, asapnya tidak mencemari udara dan menambah polusi. Hasil pembakarannya, akan dimanfaatkan sebagai kompos,” terangnya.

Bayu juga berambisi ingin membentuk Balai Latihan Kerja. Ia akan menggandeng perusahaan-perusahaan di sekitar Talagasari. ”Semoga bisa terwujud untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di desa dengan berbagai keterampilan,” tutup Bayu. (pem/rb/sub)