Budidaya Jamur Tiram di Desa Sindangheula Awalnya Iseng-iseng, Kini Beromset Jutaan Rupiah

0
1447

Menjalani hidup di masa tua dan di tengah situasi pandemi Covid-19, bukanlah hal yang mudah. Namun tidak bagi Jahiri, pria lanjut usia ini mampu bertahan menjaga ketahanan pangan dan ekonomi keluarga dengan budidaya jamur tiram di samping rumahnya di Kampung Pesagi Ciwaktu, Desa Sindangheula, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang.

Haidar – Pabuaran

Mendung belum juga beranjak dari langit, gerimis mulai membasahi lingkungan kampung yang tak jauh dari Bendungan Sindangheula ini. Namun Jahiri seolah tak peduli, dengan masih mengenakan baju koko putih dan sarung seusai salat zuhur, ia sibuk memeriksa gudang tempat penyimpanan media tanam jamur tiram miliknya.

 Di gudang yang terbuat dari bambu dan kayu seluas 9 5 meter persegi itu, Jahiri memupuk harapan atas keberlangsungan ekonomi keluarga melalui jamur tiram. Ada ratusan media tanam jamur yang setiap hari ia rawat dengan penuh keuletan. Dari sanalah, ia menemukan mata pencaharian baru setelah memutuskan berhenti dari usaha lamanya sebagai pengrajin sapu lidi.

“Soalnya saya sudah di atas 50 tahun, sudah enggak kuat lagi kalau harus keliling atau keluar kota buat jualin sapu lidi,” ujarnya kepada Radar Banten, Jumat (29/1).

Tepatnya dua tahun lalu, di awal 2018, ayah lima anak itu memiliki tabungan uang sekira Rp7 juta. Lantaran bingung akan digunakan untuk apa, Jahiri  memutuskan membeli bambu, kayu, dan peralatan seperti paku, palu dan lain. “Jadi awalnya cuma iseng aja bikin saung gitu,” kenangnya.

Selama seminggu penuh, mulai pagi hingga sore, Jahiri membuat sendiri saung itu tanpa memiliki tujuan untuk apa nantinya. Sampai suatu saat, salah satu murid mengajinya di rumah yang berasal dari Kecamatan Gunungsari menawarkan bibit untuk budidaya jamur tiram. “Jadi setiap bakda magrib saya ngajar ngaji di rumah,” jelasnya.

Dari tawaran itu Jahiri  tertarik untuk mencobanya, ia mulai belajar dari sang murid bagaimana cara budidaya jamur mulai dari menyiapkan tempat, menjaga kelembabannya, membuat media tanam, proses menanen, hingga pemasarannya. “Awalnya gagal terus, media tanamnya busuk dan enggak tumbuh jamur,” ujarnya.

Namun ia tak menyerah, lelaki yang juga menjadi ustaz dan tokoh masyarakat kampung ini terus mencari cara agar upayanya membuahkan hasil. Sampai akhirnya ia menemukan penyebab jamurnya tak berbuah lantaran kondisi gudang yang kurang steril. “Nah, saya langsung siram alkohol ke sekeliling gudang, biar bersih,” katanya.

Dengan mengeluarkan modal Rp2,5 juta, untuk membeli serbuk kayu bekas gregaji di toko panglong, bibit jamur tiram, dedek, dan plastik khusus untuk media tanam, Jahiri membuat ratusan media tanam jamur tiram. Ia menyiraminya sehari tiga kali. “Kalau lagi musim kemarau, harus sering-sering disiram biar lembap, tapi kalua musim hujan, cukup sehari dua kali,” katanya.

Setiap hari, Jahiri rutin merawat media tanam jamur tiram, hingga empat puluh hari kemudian, jamur-jamur mulai bertumbuhan, Jahiri  bisa memanennya hingga seminggu empat kali. “Sekali panen bisa sampai 10 kilogram, dijual ke pasar sekilonya Rp13 ribu,” ungkapnya.

Jamur tiramnya dijual kepada para pedagang sayuran di Pasar Ciomas. Jamiur akan terus tumbuh dan panen selama tiga bulan, setelah itu, media tanam sudah harus diganti baru. “Jadi dengan modal Rp2,5 juta, saya bisa dapat untung bersih Rp5 juta, alhamdulillah,” syukurnya.

Tak berhenti sampai di situ, bekas media tanam jamur tiram yang sudah habis masa panen tidak dibuang begitu saja. Jahidi menanamnya di lahan kebun di belakang rumah kemudian tumbuh menjadi kencur. “Jadi enggak ada yang kebuang, nih sekarang juga saya lagi panen kencur,” katanya menunjuk tumpukan kencur di dekat pintu belakang rumahnya.

Kepala Desa Sindangheula Suheli mengaku bangga pada warganya yang sudah mandiri dalam menjalankan usaha baik melalui UMKM sapu lidi maupun budidaya jamur tiram. “Saya sebagai kades merasa terharu, potensi ini harus bisa kami maksimalkan,” katanya.

Suheli berharap, dengan hadirnya Pemerintah Desa Sindangheula mampu meningkatkan serta mengembangkan usaha-usaha warga untuk meningkatkan perekonomian. “Kami akan upayakan untuk bersinergi dengan berbagai pihak agar segala kendala usaha warga, terutama soal modal, bisa diatasi,” tegasnya. (*)