SERANG – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten merilis indeks kebahagian tahun 2017. Hasil survei kebahagian menurut status perkawinan orang yang belum menikah menunjukan cenderung lebih bahagia 70,83 dari skala 0-100.

Kepala BPS Provinsi Banten Agoes Soebeno mengatakan, metode pengukuran indeks kebahagiaan 2017 mengalami perubahan dibandingkan survei terakhir pada 2014. Pada 2014 indeks kebahagiaan hidup hanya mengukur dengan menggunakan dimensi kepuasan hidup. Sementara pada 2017 bertambah dengan dimensi perasaan dan makna hidup.

“Dilihat dari ketiga dimensi penyusunan Indeks kebahagian, pola yang sama terdapat pada dimensi Kepuasan Hidup dan Demensi Makna Hodup, yaitu penduduk yang belum menikah memiliki indeks yang tertinggi dibandingkan penduduk dengan status perkawinan yang lain,” ujar Agoes, Selasa (15/8).

Penduduk dengan status menikah memiliki indeks kebahagian 70,36, penduduk dengan status cerai hidup 67,03 dan penduduk dengan status cerai mati 66,11.

“Orang yang belum menikah itu lebih bahagia. Yang paling tidak bahagia itu cerai hidup,” kata Agoes.

Dari kategori jenis kelamin, hasil survei menunjukkan laki-laki lebih bahagia dengan indeks kebahagian hingga 70,24 dibandingkan perempuan dengan indeks 64,49.

Adapun berdasarkan wilayah, masyarakat kota memiliki indeks kebahagiaan 70,36 atau lebih tinggi dari masyarakat desa dengan indeks kebahagiaan 68,50.

Berdasarkan sebaran menurut provinsi, penduduk Maluku Utara memiliki indeks kebahagiaan paling tinggi sebesar 75,68 atau lebih dari 5 poin dibandingkan rata-rata indeks kebahagiaan nasional.

Provinsi dengan indeks kebahagiaan paling rendah adalah Papua (67,52), Sumatera Utara (68,41) dan Nusa Tenggara Timur (68,98), Lampung (69,51), Jawa Barat (69,58) dan Banten berada di posisi enam terbawah (69,83). (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)