Oleh : Ken Supriyono, Jurnalis Radar Banten

“Inilah saat terakhir ku melihat kamu. Jatuh air mataku, menangis pilu. Hanya mampu ucapkan: selamat jalan kasih.”

Itu penggalan lirik lagu ST-12. Judulnya, saya tidak tahu. Juga, maksud si pengirim lagu: (video) via WhatsApp. Entah mengejek atau menghibur.

Video berdurasi satu menit itu editan. Digubah dari penyanyi aslinya. Yang bernyanyi Ronaldo. Dan, pengiring musiknya (piano) Leonel Messi.

Terasa melankolis: Messi dan Ronaldo pulang di hari yang sama. Tim negara mereka tumbang di babak 16 besar. Argentina keok (3-4) dari Ayam Jantan-Perancis. Portugal tunduk (1-2) dari Uruguay.

Drama sepakbola. Dua megabintang sepakbola pulang kandang. Kata seorang teman: “Piala Dunia bukan milik Ronaldo dan Messi”. Meski emosi, saya anggukan kepala, sambil berkata “iya”.

Gegara itu, Ronaldo Messi jadi bahan bully. Analisa merebak di media. Sosial media (medsos) lebih riuh. Gaduh: meme, dubbing video, dan segala bentuk kreativitas lain bermunculan. Semua jadi pernak-pernik di luar pertandingan Piala Dunia.

Fans dan hatters saling sahut. Macem-macem ujaran, ejekan disemburkan lewat kata-kata. Menjengkelkan: mengusik dan menganggu. Seperti arti dari bully itu sendiri.

Kata “bully” yang dipopulerkan netizen di dunia maya. Lebih populer dan riuh dari dunia nyata.

Asal kata itu, dari bahasa Inggris. Terjemahan Indonesia-nya “rundung” atau perundungan (bullying). Prof. Anton M Moelono, Pereksa Bahasa, yang juga guru besar Emertus Universitas Indonesia: memadankan kata “bully” dengan kata “merisak”. Kata dasarnya “risak”.

Sangat tidak populer kata itu. Bisa jadi, banyak yang baru tahu. Padahal, dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) sudah ada. Kata “risak atau rundung” dimaknai; mengganggu, mengusik terus-menerus, dan menyusahkan.

Apa pun artinya, buat hatters, “bully” adalah senjata. Hatters memang susah lihat orang senang: senang lihat orang susah. Juga, susahnya Ronaldo dan Messi meraih Tropi Piala Dunia. Tumbang di 16 besar, dan jadilah bahan “bully-bully”-an.

Bully hatters itu, menjengkelkan (fans) Ronaldo dan Messi. Seperti halnya keberadaan Messi dan Ronaldo yang menjengkelkan: mengganggu, mengusik terus menerus, dan menyusahkan nama pesepakbola lain: untuk menjadi idola.

Talenta-talenta (tanggung) seperti Mo Salah, Neymar Jr, Griezman, Luis Suarez, hanya jadi bintang-bintang biasa. Jika pun, bersinar di Piala Dunia, itu belum tentu memudarkan nama besar: Ronaldo Messi.

Itu subjektivitas saya. Data fakta sejarah sepakbola juga tidak terbantahkan. Sepuluh tahun lebih, cuma ada nama Ronaldo Messi yang memonopoli tropi. Jika ada nama bintang lain, itu hanya masuk nominasi.

Tak hayal, torehan (prestasi) tropi Ronaldo Messi mengusik pemain (bintang) lainnya. Bahkan, menyusahkan pemain mengejarnya. Yang paling mencolok: prestasi Ballon D’or/FIFA D’or dan tropi Champions Leuge. Messi Ronaldo punya torehan sama: lima untuk dua tropi sarat gengsi itu.

Itu belum seberapa. Jumlah tropi lainnya melebihi usia mereka. Juga perolehan tropi juara masing-masing club yang mereka bela. Real Madrid dan Barcelona.

Saya tidak perlu paparkan detail semua tropinya. Rumah saya, bisa jadi tidak muat untuk menampungnya. Daylimail mencatat: Ronaldo Messi punya koleksi 287 tropi: 156 milik Ronaldo, dan 130 milik Messi.

Jumlah gol yang mereka torehkan juga fantastis. Totalnya 1.200. Masing-masing cetak 600 gol: sepanjang karir sampai tergusur dari gelaran Piala Dunia.

Perinciannya: Ronaldo bersama tiga tim dan negara: Sporting Lisbon (5 gol: 31 laga). Manchester United (118 gol: 292 laga). Real Madrid (406 gol: 394 laga). Dan, Timnas Portugal (71 gol: 138 laga).

Sedangkan, Messi bersama Barcelona (539 gol: 747 laga). Dan, Timnas Argentina (61 gol: 123 laga).

Prestasi itu, tersemat secara pribadi. Hasil dari kerja kerasnya. Namun, campur tangan pihak/orang lain tidak bisa dipungkiri ada. Terlebih, sepakbola adalah tim. Pertautan individu dan kolektivitas. Keduanya harus selaras sebagai pencapaian visi bersama: JUARA.

Drama kehidupan sepakbola mencerminkan itu. Juga, caci maki dan pujian yang akan melekat pada sang idola.

Ronaldo Messi juga manusia biasa. Bukan dewa yang selalu sempurna. Ada kalanya terjatuh dan berjaya.

Keduanya: memberi inspirasi lewat sepakbola. Bukan orang berpunya: terlahir dari titik rahim kehidupan (ekonomi) terendah. Kerja keras dan desikasinya, menempatkan mereka sebagai idola. Superstar sepakbola. Messi berjaya lewat bakat alamiahnya, Ronaldo berjaya lewat keras latihannya.

Tanpa tropi Piala Dunia, Ronaldo Messi akan tetap menjadi legenda hidup sepakbola. Contoh nyata generasi sesudahnya. Dan, kita sambut idola-idola baru hasil Piala Dunia.