Bumdes Pondok Kelor, Produksi Sabun Cuci Piring

TANGERANG – Pemberdayaan masyarakat menjadi fokus Desa Pondok Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang.  Melalui badan usaha milik desa (Bumdes), desa tersebut patut bangga karena menghasilkan produk sabun cuci piring bernama Sundes.

Kepala Desa Pondok Kelor Junaedi mengatakan, usaha sabun cuci piring tersebut digiatkan oleh kelompok pemberdayaan kesejahtetaan keluarga (PKK). Dia menjelaskan, semua berawal dari anggota PKK yang telah ikut pelatihan pembuatan sabun cuci piring. Dan selesai pelatihan, mereka mengaplikasikan dengan membuat produk sendiri serta mengajak warga masyarakat lainnya. “Produk sabun cuci piring yang dibuat dinamai Sundes,” jelasnya saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (9/10).

Junaedi menambahkan, produksi Sundes dimulai sejak 2018 lalu, dan dijalankan secara home industri. Namun, walau diproduksi home industri tetapi kualitas sudah bersaing dengan produk sabun cuci piring lainnya. “Alhamdulillah sampai saat ini masih berjalan. Dan setiap kali produksi bisa menghasilkan 30 hingga 50 botol dan dijual ke warga serta warung-warung dengan harga terjangkau,” tambahnya.

Selain Sundes, lanjut Junaedi, pihaknya juga tengah mengembangkan produksi susu jagung bekerja sama dengan karang taruna desa. Bahkan dalam kerja sama ini, para pengurus dan anggota karang taruna desa diajak menanam jagung terlebih dahulu sebagai bahan baku produksi.

Pemerintah Desa Pondok Kelor juga memiliki pemberdayaan lainnya berupa peternakan ayam. Peternakan tersebut sudah berjalan sejak 2017 lalu berada di Kampung Bulak Kelor. Operasionalnya menggunakan dana desa sekira Rp40 jutaan dan luas kandangnya sekitar 400 meter. “Peternakan masih berjalan sampai sekarang. Nilai omzetnya dalam satu kali panen sekira Rp30 hingga Rp50 juta dengan total jumlah ayam seribu ekor ayam. Kalau panen dijual ke pengepul, tapi warga sekitar juga banyak yang beli langsung di kandang,” pungkasnya.

Dengan berbagai program pemberdayaan tersebut, Junaedi berharap, desa yang memiliki luas wilayah 1.140 hektare dengan delapan ribu jumlah penduduk dan 16 RT serta empat RW tersebut bisa lebih maju. “Semoga ke depan Sundes lebih maju lagi, produksi dan pemasarannya terus meningkat. Untuk susu jagung pun sama, karang taruna dan kelompok petani lebih semangat lagi meskipun ada hambatan,” tutupnya. (pem/rb/adm)