Bumdes Sasak Bantu Pemasaran Kue Bacang

TANGERANG – Kue bacang merupakan salah satu makanan tradisional yang banyak ditemui di sejumlah pasar-pasar tradisional di Kabupaten Tangerang. Makanan yang dibungkus daun pisang ternyata banyak diproduksi warga Desa Sasak, Kecamatan Mauk. Bahkan bakal dilirik menjadi salah satu unit usaha di badan usaha milik desa (Bumdes).

Salah satu pengrajin kue bacang Naimah yang tinggal di Kampung Sawah Mandek RT 13 RW 03 mengatakan, bahwa usaha tersebut sudah dijalani sejak puluhan tahun lalu. Hasil produksinya dijual ke pasar-pasar tradisional di Mauk.

Ditambahkan, dalam sehari, Naimah mengaku, dapat menghabiskan bahan baku beras hingga 30 liter. Dia pun menceritakan proses pembuatannya, pertama beras dicuci terlebih dahulu, kemudian, beras diaron memakai santan kelapa. Selain santan kelapa, bahan lain yang digunakan saat proses pengaronan seperti daun salam dan sereh. “Untuk dalam kue bacangnya kami isi dengan beragam varian, seperti tempe atau udang,” bebernya.

Untuk harga jualnya, setiap bacang dijual seharga Rp1.000. Dengan keuntungan yang didapat sekitar ratusan ribu rupiah. “Alhamdulillah, semoga ke depan ada bantuan dari Pemerintah Desa Sasak berupa permodalan sehingga bisa mengembangkan usaha kue bacang ini. Apalagi ada rencana akan menjadi usaha Bumdes,” pungkasnya.

Sementara itu, Penjabat Kepala Desa Sasak Balap menuturkan, kegiatan usaha produksi bacang merupakan salah satu usaha yang banyak ditekuni warganya. Ke depan, kata dia, badan usaha milik desa (BUMDesa) harus semakin menggali potensi wilayah Desa Sasak, salah satunya usaha kue bacang yang seperti ditekuni Naimah. Sehingga, apapun potensi yang ada di desa dapat dikembangkan dengan maksimal.

“Kue bacang adalah makanan tradisional yang sudah jarang ditemui di kota-kota. Mungkin kalau nanti potensi ini kelola baik dengan BUMDesa, Insya Allah pemasaran makanan ini akan semakin luas. Jadi tidak hanya dijual di pasar tradisonal Mauk saja, namun wilayah dan pasar lainnya,” tutupnya. (pem/rb/adm)