Burung Suami Dijual Murah, Ya Marah Dong

0
520

Mumun (48) nama samaran mengaku kesal dengan tingkah suaminya, sebut saja Maman (50), yang menjual emas istri untuk membeli burung kicau. Janji manis akan mengganti tidak pernah terbukti, Mumun emosi dan menjual burung peliharaan suami dengan harga murah. Maman tak terima, mereka pun pisah ranjang sebulan lebih. Astaga.

Ditemui Radar Banten di Kecamatan Curug, Kota Serang, Mumun siang itu sedang duduk di depan minimarket, menunggu anaknya belanja bulanan keperluan rumah. Iseng-iseng mengajak ngobrol, Mumun menceritakan pengalaman masa lalunya bersama suami tercinta.

Mumun ibu rumah tangga, sedangkan Maman pebisnis peternakan ayam dan mandor tanah. Mereka sudah berumah tangga puluhan tahun dan dikaruniai empat anak. Sewaktu masih miskin dan merintis usaha, banyak kejadian lucu yang indah untuk dikenang, termasuk peristiwa jual burung suami. Eh, maksudnya burung peliharaan suami. Hehe.

Diceritakan Mumun, perjumpaannya dengan Maman bermula sewaktu masih kuliah di salah satu kampus ternama di Bandung. Menjelang kelulusan, Maman menyatakan perasaannya kepada Mumun. “Kebetulan saya emang lagi jomblo dan lagi cari pendamping buat wisuda, jadi diterima deh,” kata Mumun tertawa.

Kata Mumun, Maman termasuk lelaki yang tampan dan pintar. Bertubuh ideal dan rajin olahraga. Tidak hanya itu, yang paling membuat Mumun kasmaran adalah sikap Maman yang lembut dan perhatian. “Orangnya juga mesra, enggak malu buat nunjukin rasa sayangnya,” kata Mumun.

Mumun wanita cantik. Meski sudah punya anak empat, ia pandai menjaga kondisi tubuhnya. Ya, agak sedikit melar sih, tapi aura kecantikannya masih terasa. “Kalau sudah emak-emak mah pengennya makan mulu, jadi gini dah badannya enggak seksi kayak dulu,” curhatnya.

Setahun setelah lulus kuliah, Maman dan Mumun pun menikah. Keduanya bukan berasal dari keluarga kaya, mereka merintis usaha peternakan ayam kecil-kecilan. “Jadi suami kerja pabrik sambil piara ayam dan burung hias,” katanya.

Kata Mumun, suaminya memang hobi berternak sejak kecil. Alhasil, burung dan ayam selalu menemani keseharian mereka setiap pagi dan sore. Bahkan, saking cintanya Maman kepada peliharaannya, sebelum menyapa Mumun pagi hari, suaminya sudah menyapa ayam dan burung terlebih dahulu.

Awalnya kegiatan memelihara unggas itu hanya hobi. Namun, setelah punya anak, Maman mulai menjual telur ayam ke warung-warung. Tak hanya itu, ia juga mulai mengikuti lomba burung kicau dan beberapa kali menang. “Hadiahnya lumayan gede, bisa belasan juta,” kata Mumun.

 Sejak itu Maman hanya fokus mengurus burung ketimbang ayam. Bahkan, ia sampai menjual emas milik Mumun untuk membeli burung yang bagus. Di tengah kebutuhan yang mencekik, rumah tangga mereka kekurangan. Gaji bekerja Maman hanya cukup untuk makan dan bayar sewa kontrakan. “Kebutuhan anak sekolah dan jajannya enggak ada,” keluh Mumun.

Suatu hari Mumun menagih janji suaminya yang akan mengganti uang emas, tetapi permintaannya tidak ditanggapi. Setiap kali menagih, sang suami mengelak dan hanya bilang nanti. Akhirnya Mumun pun emosi, dijuallah burung peliharaan suami dengan harga murah. “Harga aslinya lima juta, saya jual empat ratus ribu buat masak,” kata Mumun.

Mengetahui itu, Maman emosi. Keributan tidak dapat dihindari. Akhirnya Mumun dan Maman pisah ranjang. Selama sebulan lebih, mereka tidak bicara sama sekali. Sampai akhirnya Maman meminta maaf dan mengakui kesalahannya. “Nah, pas itu dia mulai fokus bisnis telur ayam sampai maju seperti sekarang,” katanya.

Wah, hikmah jual burung ternyata bikin sukses jadi pengusaha ayam. Semoga langgeng selamanya ya Teh Mumun dan Kang Maman. (mg06/zee/ags)