Bus Asal dan Tujuan Zona Merah Dilarang Beroperasi

0
1.042 views
Sebuah bus AKAP menunggu penumpang di Terminal Pakupatan, Kota Serang, Rabu (17/6). Bus yang boleh beroperasi diwajibkan membatasi penumpang dan menerapkan protokol kesehatan serta manaik-turunkan penumpang di terminal.

SERANG – Sebagian bus antar kota antar provinsi (AKAP) telah diperbolehkan beroperasi. Namun, bus asal dan tujuan zona merah tetap dilarang beroperasi.

Diketahui, bus AKAP dan angkutan kota dalam provinsi (AKDP) dibagi dalam beberapa zona sesuai status daerah penyebaran Covid-19. Di antaranya, zona merah, zona orange, zona kuning, dan zona hijau.

Kepala Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Wilayah VIII Provinsi Banten Nurhadi Unggul mengaku status daerah itu kerap berubah. Misalnya, yang sebelumnya zona merah menjadi zona orange atau sebaliknya. “Kalau yang merah, baik asal mau pun tujuan dilarang,” tegas Nurhadi, Selasa (17/6).

Bus yang boleh kembali beroperasi, diwajibkan membatasi jumlah penumpang maksimal 70 persen dari kapasitas kendaraan. Selain itu, penumpang wajib menggunakan masker dan naik turun penumpang harus di terminal untuk memastikan kondisi suhu tubuh penumpang. “Di jalan tidak boleh, harus di terminal karena harus mengikuti protokol kesehatan,” katanya.

Namun, diakui Nurhadi, ada juga pemerintah daerah yang berstatus zona merah tetap membuka transportasi umum.

“Supaya lebih mudah memantaunya. Kalau Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 di daerah tersebut memperbolehkan terminal di zona merah dibuka, ya tidak apa-apa. Selama protokol kesehatan tetap diprioritaskan,” ungkapnya.

Kata Nurhadi, terkait tarif AKAP, berdasarkan arahan Menteri Perhubungan tidak ada kenaikan tarif. Sehingga, awak bus harus tetap menerapkan batas tarif atas dan bawah. “Kalau ada pelanggaran, laporkan beserta buktinya karena ada sanksi,” tegas Nurhadi.

Ia mengatakan, sanksi yang akan diberikan kepada awak dan PO bus yang membandel mulai dari sanksi teguran, administrasi, pembekuan izin, hingga pencabutan izin. Pemberian sanksi diserahkan kepada pemberi izin. Untuk bus AKAP, sanksi akan diberikan oleh pemerintah pusat, sedangkan AKDP oleh Pemprov Banten.

Sementara terkait pembukaan terminal tipe A di Banten, Nurhadi mengaku hal itu diserahkan kepada masing-masing daerah yang disesuaikan dengan kondisi dan kesiapan daerah tersebut. Di Banten, ada empat terminal tipe A, yakni Terminal Merak, Terminal Pakupatan, Terminal Lebak, dan Terminal Labuan. “Terminal tipe A boleh dibuka selama persyaratan untuk dibuka kembali sudah terpenuhi,” urainya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Serang Maman Lutfhi mengungkapkan, saat ini baru bus Jawa-Merak yang masuk ke Terminal Pakupatan. “Jakarta belum,” ujarnya.

Kata dia, Terminal Pakupatan belum dibuka lantaran hanya digunakan sebagai tempat transit saja. Pihaknya juga sudah melakukan pembahasan terkait kesiapan Terminal Pakupatan. “Antisipasi penting, karena bus kalau sudah ke Merak, pasti akan mencari penumpang juga ke Kota Serang,” tutur Maman.

Ia mengaku masih menunggu surat dari Kementerian Perhubungan terkait pembukaan terminal tipe A. Dengan begitu, Pemkot Serang harus bersiap-siap untuk melaksanakan protokol kesehatan.

Sedangkan stasiun kereta api, kata Maman, kemungkinan akan dibuka pada akhir bulan nanti. Tetapi, penambahan kasus positif Covid-19 di Lebak akan menjadi bahan evaluasi.

Terpisah, Kepala Terminal Pakupatan Serang, Waluyo Dianto mengaku, sejak awal Terminal Pakupatan tidak pernah tutup. Soalnya, layanan AKDP dan angkot dari awal tetap dibuka.

Lantaran Terminal Pakupatan adalah terminal transit bus dari Terminal Merak dan Labuan, maka pihaknya juga mengikuti terminal tujuan. “Ketika dua terminal itu dibuka, maka otomatis kami juga buka karena mobil dari Merak pasti ke Serang,” ujarnya.

Kata dia, berdasarkan surat edaran Satuan Pelayanan Terminal Tipe A Terpadu Merak BPTD Wilayah VIII Provinsi Banten Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, ada sepuluh trayek yang kini dilayani. Yaitu Terminal Leuwipanjang, Bandung; Terminal Harjamukti, Cirebon; Terminal Indihiang, Tasikmalaya; Terminal Mangkang, Semarang; serta Terminal Tirtonadi, Solo. Berikutnya, Terminal Purwokerto; Terminal Wonogiri; Terminal Baranangsiang, Bogor; Terminal Bekasi; dan Terminal Guntur, Garut.

Waluyo menambahkan, untuk Terminal Kalideres, Kampung Rambutan, Pulo Gebang, dan Tanjung Priuk belum dapat beroperasi di Terminal Terpadu Merak karena menjadi bahan evaluasi. “Karena di terminal tersebut ada persyaratan SIKM (surat keterangan izin keluar masuk-red),” tuturnya. (nna/nda)