Koleksi Desainer Diana Nurliana demgan label Taqiya, busana niqab atau bercadar Foto: Istimewa

SAAT ini semakin banyak perempuan muslimah yang menggunakan cadar. Rupanya memang tren busana muslim dengan cadar atau niqab sedang populer di tengah komunitas kaum hawa.

Namun, sayangnya penggunaan cadar sering dikaitkan dengan teroris. Berbagai pelaku terorisme kebetulan seringkali dihubungkan dengan islam dan perempuan bercadar.

Kondisi itu membuat desainer fashion bercadar, Diana Nurliana merasa sedih. Setelah sukses membangun brand busana muslim Kara Indonesia, desainer Diana Nurliana membuat brand baru khusus untuk muslimah berniqab dengan label Taqiya.

“Mengingat beberapa saat yang lalu sangat mencuat isu mengenai terorisme yang melibatkan wanita dan menghubungkannya dengan pakaian yang kita jadikan jalan hidup ini (niqab). Pakaian yang sesungguhnya dianjurkan dalam syariat namun pada kenyataannya malah menjadi bumerang bagi penggunanya di negara yang justru penduduknya adalah mayoritas Islam. Sedih, geram, marah dan takut mungkin menyelimuti perasaan teman-teman niqabis kala itu termasuk pun saya,” katanya dalam peluncuran koleksi Taqiya baru-baru ini, seperti diberitaka Jawa Pos.

Bahkan dirinya sampai harus mengganti warna busana dan niqabnya dengan warna bukan hitam. Hal itu untuk mematahkan anggapan bahwa wanita bercadar terkait dengan terorisme.

“Dengan mengganti warna, bukan hitam, saya lebih diterima saat ke mal atau ke mana pun orang tidak takut,” tutur Diana.

Dirinya melihat perkembangan dan keinginan wanita wanita muslim untuk menggunakan pakaian taqwa ini juga cukup berkembang dengan pesat. Bulan Maret awal tahun 2018 ini, Diana membuat brand niqab premium yang menawarkan berbagai macam keperluan niqab dan dress untuk para niqabis. Label Taqiya dalam bahasa Arab berarti ketakwaan. Namun label itu juga diambil dari nama anaknya.

“Saya juga memberi jaminan kualitas, packaging dan service menjadi fokus dalam brand ini. Karena untuk saya wanita yang mau belajar taat dengan memilih menggunakan niqab adalah wanita istimewa yang juga harus diperlakukan istimewa,” paparnya.

Selama berjalan kurang lebih 3 bulan, di luar dugaan permintaan melonjak. Proses produksi yang memakan waktu berminggu-minggu saat di launching untuk dijual habis dalam hitungan jam.

“Saya melihat ini sebagai titik terang bahwa diluar sana banyak wanita muslimah yang sudah dan mungkin baru mau belajar menggunakan niqab. Mengingat halangan dan rintangan yang juga pasti tidak mudah dilewati oleh teman-teman yang baru berniqab atau sedang resah dalam keistiqamahannya,” jelasnya.

Menurutnya, fashion sebagai sesuatu yang dikenakan seseorang, khususnya pakaian beserta aksesorinya. Maka tak perlu memandang negatif dengan kata ini.

“Justru itu bukan masalah, justru kehadiran kita ini harus memberi warna lain. Nah kita mengerti arti kata fashion maka kita akan paham bahwa istilah ini sifatnya netral, tinggal mau dibawa ke mana arahnya,” tandasnya.

(ika/JPC/JPG)