Calon Banyak Suara Sedikit

0
519 views

CILEGON – Dari empat kabupaten kota di Provinsi Banten yang akan menyelenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun ini, Kota Cilegon dianggap paling kompetitif.

Ada dua hal yang membuat persaingan di kota paling ujung Barat Pulau Jawa itu paling sengit, pertama banyaknya kandidat yang akan melenggang. Kedua, suara yang direbutkan paling sedikit dibandingkan kabupaten kota lain di Banten.

Diketahui, ada empat pasangan kandidat yang bakal maju. Dari jalur partai politik ada pasangan Ratu Ati Marliati-Sokhidin yang diusung oleh Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Nasional Demokrat (NasDem), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Kemudian, Helldy Agustian-Sanuji Pentamarta dari Partai Berkarya dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Iye Iman Rohiman-Awab yang maju diusung oleh Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Demokrat, dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Sedangkan dari jalur perseorangan ada pasangan Ali Mujahidin-Firman Mutakin atau yang akrab disapa Mumu-Lian Firman.

Sedangkan suara yang direbutkan kurang dari 300 ribu suara. Berdasarkan data dari KPU Kota Cilegon, Daftar Pemilih Sementara (DPS) untuk Pilkada Kota Cilegon sebanyak 296.200 suara. Jumlah tempat pemungutan suara (TPS) sebanyak 784.

Jumlah suara ini lebih sedikit jika melihat data DPS untuk Pilkada Kabupaten Serang yakni 1.123.000 suara. Jumlah TPS yakni 3.061. Di Pilkada Kota Tangsel jumlah DPS sebanyak 924.602 suara dengan jumlah TPS 2.963.

Akademisi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanudin Banten, Syaeful Bahri menilai, selain dua hal itu yang membuat Pilkada Kota Cilegon kompetitif adalah antar kandidat memiliki irisan.

Pertama, kandidat Ratu Ati Marliati memiliki irisan dengan Iye Iman Rohiman, di mana Iye merupakan mantan kader Partai Golkar yang telah lama berpolitik di bawah naungan partai beringin tersebut.

Kondisi itu dinilai Ketua Jaringan Demokrasi Indonesia (JaDI) Banten itu menjadi menarik karena Iye dianggap tahu bagaimana dapur Golkar selama ini. Di sisi lain Ati pun mengetahui bagaimana karakter Iye serta kekuatan dan kelemahannya.

Untuk pasangan ini tak hanya dari sisi kandidat yang mempunyai irisan, tapi juga dari sisi tim pemenangan, di mana Ketua Tim Pemenangan Iye adalah Sahruji, politisi senior partai Golkar, sedangkan Ketua Tim Pemenangan Ati adalah Isro Miraj, sosok yang pernah bersama Iye di Golkar.

“Berikutnya, Helldy dan Mumu juga punya irisan, sama-sama kandidat di 2010, yang menarik sekarang bertukar peran, dulu Mumu diusung parpol, Helldy dari independen. Sekarang berbalik peran, Mumu yang melalui jalur perseorangan dan Helldy diusung parpol,” papar mantan komisioner KPU Provinsi Banten tersebut.

Kata Syaeful, kuantitas suara yang terbilang sedikit, suka tidak suka keempat kandidat harus beradu ‘jurus’ untuk bisa meraup lebih banyak secara persentase.

Angin segarnya, tidak ada putaran kedua untuk Pilkada Kota Cilegon, karena secara aturan hanya pilkada di DKI Jakarta yang bisa dilakukan hingga dua putaran. Artinya, para kandidat hanya perlu jauh lebih banyak mengantongi suara, kendati selisihnya hanya sedikit.

“Kalau kita bagi rata masing-masing 25 persen, siapapun yang lebih dari 25 persen menang. 25 persen itu kita katakan menjadi modal, artinya ada yang bisa bertambah ada juga sebaliknya, bisa berkurang. Tinggal kemampuan masing-masing timses untuk menjadikan persentase 25 persen itu terus naik,” papar Syaeful.

Lepas dari gambaran ‘pukul rata’, masing-masing kandidat memiliki modal yang lebih konkret, yaitu peroleh suara partai pengusung di legislatif, untuk jalur perseorangan, yang bisa dijadikan modal adalah jumlah dukungan masyarakat saat proses pendaftaran.

Tapi, lanjut Syaeful, tetap timses atau tim pemenanganlah yang memegang kunci perolehan suara. ‘Kesaktian’ para penggawa menjadi penentu kemenangan kandidat. Ini lantaran, di masa pandemi Covid-19, akses kandidat untuk berkomunikasi langsug dengan masyarakat pemilih sangat terbatas, terlebih Kota Cilegon memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Dengan catatan tim sukses mampu menampilkan komunikasi yang efektif dan memenuhi ekspektasi,” tuturnya.

Berkaitan dengan pandemi Covid-19, Ati-Sokhidin memiliki keuntungan, Syaeful menggunakan istilah blessing in the skies, itu dimiliki karena pasangan itu merupakan petahana. Ati diketahui saat ini masih aktif sebagai Wakil Walikota Cilegon, sedangkan Sokhidin menjabat Wakil Ketua DPRD Kota Cilegon.

Posisi petahana menjadi blessing in the skies bagi Ati-Sokhidin karena keduanya sudah lebih awal bergerak, sedangkan akibat pandemi langkah kandidat lain saat ini cukup terbatas.

Namun, faktor blessing in the skies itu akan tak berpengaruh signifikan jika tak ditopang oleh strategi tim pemenangan.

“Pertarungan pendek, suara yang diambil juga sedikit. Berbeda dengan pertarungan saat situasi normal, kata kuncinya pasukan darat, saat pandemi, kemampuan tim IT, sosial media, menggerakan vote getter, ini yang menjadi kata kunci untuk mendulang pemilih,” tutur Syaeful.

Ketua KPU Kota Cilegon, Irfan Alfi mengkonfirmasi jika DPS sebanyak 296.200 suara dengan jumlah Tempat Pemungutan Suara (TPS) 784.

“Kita berharap dalam proses perbaikan daftar pemilih, semua pihak untuk bisa dapat memastikan mereka sudah masuk terdata, masyarakat ikut memastikan sudah masuk dalam daftar pemilih,” papar Irfan.

Kata Irfan, Daftar Pemilih Tetap (DPT) akan ditetapkan pada Oktober mendatang. Di sisa waktu ini pihaknya berupaya agar semua masyarakat yang sudah memiliki hak memilih bisa terdata dalam daftar pemilih.

KALKULASI SUARA             

Sengitnya kontestasi disadari oleh masing-masing tim pemenangan. 

Ketua Tim Pemanangan Ati-Sokhidin, Isro Miraj mengakui fenomena Pilkada di Kota Cilegon berbeda dengan daerah lain. Isro bersama tim mengaku sudah mengkalkulasi perolehan suara aman, yaitu sebanyak 120 ribu suara yang harus diraup untuk memastikan kursi Walikota dan Wakil Walikota Cilegon bisa diduduki oleh Ati-Sokhidin.

“Dibagi delapan kecamatan, itu lah target kami, itu diangka sudah aman,” ujar Isro.

Terkait kemenangan, kata Isro, sesuai aturan, perolehan suara lebih unggul sebesar dua persen saja sudah tidak bisa digugat oleh kandidat lain. Namun, unggul dua persen bukan menjadi patokan pihaknya dalam berujang. “Minimal di atas tiga persen,” tuturnya.

Untuk merealisasikan target, Isro bersama tim sudah mempunyai jurus, salah satunya dengan berinteraksi dengan masyarakat. ‘ajian’ menyapa itu tak hanya dilakukan oleh tim pemenangan, tapi juga elemen-elemen lain, seperti jaringan tim relawan.

“Sudah didata ada 48 kelompok relawan, ada yang tiap-tiap kecamatan ada juga yang tingkatan kota,” ujarnya.

Terpisah, mewakili tim pemenangan Iye-Awab, Alawi Mahmud menuturkan, suara sedikit yang diperebutkan tidak menjadi soal, karena intinya adalah siapa yang memperoleh suara terbanyak, itu lah yang menang.

“Soal strategi, mohon maaf itu rahasia, yang pasti saya mengajak kepada kawan-kawan rival untuk berkontestasi secara bermartabat dan demokratis,” paparnya.

Disinggung soal target suara, Alawi pun menyebutkan angka yang sama dengan Isro, yaitu 120 ribu. Kemudian, untuk meraup suara itu, Alawi pun mengaku akan mengoptimalkan kekuatan partai pengusung serta tim relawan yang telah berkembang hingga tingkat kelurahan.  

Ketua Tim Pemenangan Helldy-Sanuji, Amal Irfanudin menjelaskan, pihaknya mempunyai target ideal perolehan suara sebanyak 52 persen.

Lagi-lagi, Tim Pemenangan Helldy-Sanuji pun tak hanya mengandalkan struktur atau potensi yang dimiliki partai, tapi juga jaringan tim relawan.

Publikasi visi misi serta janji kampanye Helldy-Sanuji yang dilakukan secara massif  saat ini adalah salah satu strategi untuk menarik simpatik masyarakat. “Tentu strategi lainnya adalah kampanye, kita lakukan dengan medsos, juga mempertemukan kandidat kita ke masyarakat,” tuturnya.

Amal menilai mempertemukan kandidat dengan masyarakat tetap dilakukan di masa pandemi karena masyarakat lebih menyukai saat dikenalkan langsung dengan kandidat calon. Namun untuk melakukan hal itu, pihaknya tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Bakal calon Walikota Cilegon dari jalur perseorangan Ali Mujahidin menilai suara sedikit dengan suara banyak bukan menjadi soal, selain itu hingga saat ini jumlah Daftar Pemilih Tetap (DPT) pun belum ditetapkan.

Untuk meraup suara, pria yang kerap disapa Mumu itu telah membentuk kelompok kerja. Ada sekira 15 kelompok yang telah terbentuk dan bergerak.

“Kita membangun struktural dan kultural, melakukan pendekatan kepada semua komponen masyarakat untuk menyamakan tujuan untuk membangun perubahan di Kota Cilegon,” ujarnya. (bam/air)