Calon Suami Pergi Jalankan Tugas, Pulang Menggandeng Wanita Bercadar

Berasal dari keluarga yang kental akan keagamaan, Itoh (41), nama samaran, tumbuh menjadi wanita berakhlak mulia. Dipandang penuh hormat masyarakat, kehadirannya menjadi penyejuk di tengah lingkungan salah satu kampung di daerah Kabupaten Tangerang.

Hingga suatu hari, lantaran usia menginjak masa dewasa, kedua orangtua berniat menjodohkan dengan lelaki pilihan yang mapan, baik dari segi materi maupun keilmuan. Apalah daya, sontak hal itu meruntuhkan cinta banyaknya pria kampung yang menaruh hati padanya.

Hanya mampu mengagumi sosok Itoh secara diam-diam karena takut pada sosok sang ayah sebagai tokoh masyarakat, akhirnya kini mereka benar-benar menelan pahitnya penderitaan seorang pemuja rahasia. Widih, sudah kayak lagunya Sheila on 7 saja Pemuja Rahasia.

“Hehehe, ya dulu sih sempat ada yang berani datang langsung ke ayah, dia enggak mau cuma jadi pengagum rahasia. Tapi, ujung-ujungnya menyerah juga karena dites menghafal Alquran,” curhat Itoh kepada Radar Banten.

Singkat cerita, datanglah lelaki gagah beserta keluarga. Rentetan mobil mewah memadati halaman rumah. Pria berjenggot dengan jas dan peci hitamnya melangkah pasti memperkenalkan diri. Keluarga dan saudara-saudara Itoh menyambutnya ramah.

Tanpa basa-basi, seolah yakin akan pilihan keluarga, sang lelaki yang diwakilkan ayahnya melamar Itoh hari itu juga. Sambil senyum-senyum penuh rahasia, Itoh mengangguk menerima. Selain gagah dan berasal dari keluarga berada, sang lelaki juga punya pekerjaan mumpuni.

Lamaran selesai, ditentukanlah tanggal pernikahan. Namun karena kesibukan kedua keluarga dan selektif memilih tanggal, kesepakatan pernikahan pun dilaksanakan empat bulan ke depan. Meski awalnya mengeluh terlalu lama, tetapi baik Itoh maupun sang lelaki memaklumi.

Hari demi hari berlalu seperti biasa, Itoh yang selalu menyempatkan waktu mengajar di madrasah yayasan milik sang ayah, tampak terlihat bersemangat. Wajahnya yang manis semakin membuat orang-orang terpana melihatnya. Apalagi kalau sudah melayangkan sapa dengan senyum tulusnya, hmmm, bisa-bisa langsung jatuh cinta.

Sebulan berlalu, semua masih tampak biasa. Itoh berencana bulan depan mulai memilih gaun pengantin beserta keperluan lainnya. Namun mendekati penghujung bulan, kabar dari sang calon suami datang. Karena tugas pekerjaan dan kepentingan perusahaan, sang lelaki harus pergi ke luar kota selama satu bulan.

Itoh mulai dilanda gelisah galau merana, beruntung ada sang ibu yang menguatkan. Meski sempat menitikkan air mata, akhirnya ia menyetujui keinginan sang calon suami. Ikut mengantar ke bandara untuk memberi dukungan sekaligus ketenangan, Itoh melepas kepergian sang lelaki dengan segenap doa.

Anehnya, entah karena kekhawatiran belaka atau mungkin sedang tidak sehat, selama sang calon suami pergi, keseharian Itoh selalu tampak murung. Bagai orang kehilangan gairah hidup, ia terkadang melamun di saat sedang mengajar muridnya.

Kenyataan memang tak selamanya menyenangkan. Di siang nan terik, rombongan mobil mewah datang, tak disangka, yang turun dari mobil adalah sang calon suami. Namun ada yang janggal, sang lelaki tampak menggandeng wanita bercadar.

Dengan ekpresi penuh tanda tanya, keluarga Itoh menerima kedatangan mereka. Dipersilakannya mereka masuk dan duduk di ruang tamu dengan sajian minum dan beberapa jenis makanan ringan. Tak menunggu waktu lama, sang lelaki mulai angkat bicara. Menarik napas panjang, ia mengawali ucapannya dengan permohonan maaf. Saat itu juga, Itoh merasa ada yang menusuk ke ulu hatinya.

“Saya enggak kuat menceritakan ini, Kang. Jadi keingatan terus, sedih rasanya, sakit hati dibegitukan sama lelaki,” rintih Itoh menitikkan air mata. Sabar Teh, tenangkan diri dulu. Memang dia ngomong apa Teh?

“Dia mengaku kalau wanita bercadar itu istri sahnya. Mereka menikah dua minggu yang lalu di rumah sang wanita. Dia datang buat membatalkan pernikahan dengan saya,” Itoh kini benar-benar menangis.

Tak disangka, sang ayah pun sempat menitikkan air mata, bahkan saat itu juga ibunya pergi ke kamar menumpahkan kekecewaan. Setelah merasa lega mengungkapkan statusnya, sang lelaki pergi begitu saja. Semakin membuat Itoh menderita.

Apalah daya, berita kegagalan pernikahan Itoh sang wanita cantik salehah menyebar ke seluruh penjuru kampung. Seolah tak sanggup menyembunyikan rasa malu pada masyarakat, baik sang ayah maupun Itoh sempat tak keluar rumah selama seminggu.

Selang sebulan setelah peristiwa memilukan itu, sang ayah kembali membawa lelaki ke rumah. Tanpa iring-iringan mobil mewah, tanpa penyambutan meriah, hanya datang beralaskan sendal jepit serta kepala berhias peci hitam yang tampak lapuk, lelaki yang tak lain murid unggulan ayah Itoh datang.

Sebut saja namanya Mudi (44). Dengan digandeng sang ibu tercinta, ia melamar Itoh anak sang guru. Meski tampak tak bersemangat, Itoh menerima. Seminggu kemudian, dengan pesta pernikahan sederhana tapi mengundang banyak tamu dari berbagai kalangan, pernikahan Itoh dan Mudi berlangsung lancar. Mengikat janji sehidup semati, mereka resmi menjadi sepasang suami istri.

Di awal pernikahan, Mudi yang memiliki postur tubuh kurus tinggi dengan kulit sawo matang tampak selalu menjaga sikap. Selain karena merasa beruntung bisa mendapat Itoh, ia juga tak ingin mengecewakan sang guru yang tak lain ayah istrinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, Itoh mulai menerima Mudi apa adanya. Meski terkadang ia sering menangis seorang diri lantaran teringat kisah masa lalu, beruntung Mudi bisa memahami dan selalu memberi kekuatan pada istri. Hingga setahun berjalan usia pernikahan, mereka dikaruniai buah hati. Itoh dan Mudi hidup bahagia.

Subhanallah, selamat ya Teh Itoh. Semoga terus bahagia sampai akhir hayat. Amin. (daru-zetizen/zee/ira)