SERANG – Tiga calon yang sudah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Serang dinilai belum mampu menghadirkan gagasan yang menonjol dalam perubahan dan perbaikan di daerah. Minimnya gagasan-gagasan yang ditawarkan Paslon  ini, membuat gaung Pilkada Kota Serang terasa senyap dan kurang menarik.

Hal ini diungkapkan oleh Akademisi Universitas Mathla’ul Anwar Eko Supriatno. Menurutnya, Pilkada Kota Serang seperti Pilkada tanpa pesta. Ada banyak faktor. Salah satunya, yang membuat gaung pesta rakyat ini, masih minimnya gagasan dari tiga Paslon.

“Kapabilitas calon kepala daerah biasa saja. Mereka tidak memiliki sesuatu yang berbeda untuk menjadi daya tarik pemilih. Tidak ada yang menonjol, yang menjadi  magnet perubahan. Seharusnya, calon aktif melakukan sosialisasi,” terang politisi dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Senin (12/3).

Menurut dia, saat ini, kampanye lebih banyak dilakukan berupa sloganistik. Seperti memasang atribut, pengerahan masa dan arak-arakan. Sambungnya, seharusnya Paslon lebih banyak terjun langsung menemui masyarakat dengan tatap muka untuk berdialog dan menyerap aspirasi masyarakat.”Dan menjawabnya dengan konsep kebijakan yang nyata, rasional, dan realistis.”

Berdasarkan penilaiannya, publik mengharapkan calon kepala daerah harus berani mengeluarkan ide dalam menyukseskan program pembangunan di suatu daerah. Pada Pilkada ini pun, calon kepala daerah ini harus memiliki integritas dan bertanggung jawab. Bukan semata mencari kekuasaan belaka.

“Dengan ide-idenya itu, ketika terpilih menjadi Walikota, bisa melaksanakan semua idenya untuk merubah daerah dan masyarakat lebih baik lagi,” tuturnya.

Sarannya, dalam memilih calon Walikota Serang, masyarakat harus benar menilai dan mengetahui rekam jejak seorang calon kepala daerah. “Publik jangan salah pilih. Pilihlah yang pro rakyat. Bila tidak, rakyat yang dirugikan, karena sang pemimpin kita itu hanya sibuk mengurus dirinya, keluarganya, dan partai politik yang mengusungnya,” katanya. (Anton Sutompul/antonsutomoul1504@gmail.com).