Capek, Punya Suami Doyan Judi dan Banyak Utang

Neno (43), nama samaran, terpaksa hidup sendiri dan meninggalkan suami yang sudah menemani hidupnya selama sepuluh tahun, sebut saja Joko (45). Neno kesal dengan suaminya yang doyan mengoleksi utang di mana-mana akibat gemar main judi. Merasa enggak tenang terus dikejar-kejar penagih utang, Neno akhirnya menyerah dan memutuskan untuk bercerai.

Peristiwa itu terjadi tiga tahun lalu. Neno tidak pernah menyangka jika mantan suaminya dulu gemar berjudi sampai banyak utang. Imbasnya, Neno yang tidak tahu apa-apa menjadi korban rentenir. Bahkan, Neno kerap menerima ancaman hingga perlakukan kasar dari penagih utang.

“Padahal, Mas Joko kerja di pabrik gajinya yang lumayan gede. Saya juga aneh, kok uangnya ke mana, enggak bisa nutupin kebutuhan makan sehari-hari. Alasannya ada aja,” keluhnya. Ya dipakai judi.

Saat ditemui Radar Banten di kediamannya, Neno saat itu sedang berkumpul makan siang bersama tetangga di teras rumah di Desa Terate, Kecamatan Kramatwatu. Kedatangan Radar Banten disambut hangat oleh Neno yang menceritakan kisah pahit rumah tangganya di masa lalu.

Diceritakan Neno, mengenal Joko awalnya saat mengikuti program bersih-bersih di kampung yang diselenggarakan perusahaan Neno. Joko sendiri yang merupakan warga pendatang dari Lampung ikut di dalamnya. Saat Joko istirahat, Neno lah yang kebagian tugas untuk membawakan segelas es teh manis kepada karyawan yang bersih-bersih, salah satunya Joko. Tampaknya kecantikan Neno mampu menghipnotis Joko.

“Sekarang aja badannya lebar, gini-gini dulu saya kembang desa,” akunya. Bukan kembang gula ya.

Meski tubuhnya sudah mulai melar, sekilas Neno masih terlihat manis dan baik. Lesung pipitnya itu, enggak nahan. Neno termasuk siswa berprestasi dulu di sekolah. Joko sendiri, berdasarkan pengakuan Neno, sebenarnya lelaki baik. Tak pernah kasar kepadanya dan murah senyum ke semua orang. Joko juga orangnya pandai bergaul dengan lingkungan sekitar. Tubuhnya tinggi kekar dan berkumis tebal menunjukkan sosoknya yang berwibawa.

“Orangnya tegas. Kalau ngomong juga seperlunya Saja,” puji Neno. Masih teringat nih ceritanya.

Pandangan pertama begitu menggoda, Joko pun berupaya mendekati Neno dengan meminta nomor ponsel Neno melalui rekan kerjanya. Sejak pertemuan itu, keesokan harinya Joko mulai beraksi. Diawali silaturahmi menemui ketua RT, hari-hari berikutnya Joko tancap gas sengaja mampir ke rumah Neno untuk berkenalan dengan keluarganya. Neno langsung merasa kagum dengan sikap berani yang ditunjukkan Joko. Neno akhirnya menerima kehadiran Joko di hatinya.

Dua tahun pacaran, mereka akhirnya menikah. Beruntung sebelum menikah, Joko sudah memiliki rumah sediri. Setelah menikah, ekonomi rumah tangga mereka juga tercukupi.

“Alhamdulillah dia mempersiapkan semuanya masak-masak. Jadi enggak terlalu pusing mikirin tagihan rumah,” kenang Neno. Ingat saja sama tagihan.

Sayangnya, kebahagiaan itu seketika hilang lima tahun kemudian. Setelah usia pernikahan mereka memasuki lima tahun dan memiliki anak dua, Joko mulai mengurangi jatah uang bulanan. Setiap kali Neno meminta tambahan uang, Joko berkelit tidak punya uang. Sampai suatu hari Neno menerima tamu yang mengaku teman lama Joko yang datang membawa mobil menagih utang. “Saya sempat bingung utang apaan,” tukasnya.

Tidak sampai di situ, tak lama penagih utang lainnya beberapa kali mendatangi datang ke rumah. Mulai dari bapak-bapak, ibu-ibu, sampai kawula muda. Bahkan, tak jarang Neno harus menerima perlakuan kasar dari penagih utang. “Mereka datengnya siang pas suami kerja. Saya kan pas di rumah sendirian sering, dibentak bahkan sampai pernah mau ditampar,” kesalnya. Sadis ya Mas Joko.

Setiap kali Neno mengadukan persoalan itu kepada Joko, tidak direspons. Sampai akhirnya Neno habis kesabaran dan meluapkan emosinya kepada Joko. Keributan pun tak terelakkan. Neno mencoba terus sabar demi keutuhan rumah tangga hingga tiga tahun tahun lamanya setelah kejadian itu.

“Saya malu diomongin tetangga, kesal dimarahi orang, semua saya tahan,” umbarnya.

Hingga suatu hari, Neno melaporkan kegelisahannya itu kepada kepala desa. Oleh aparat desa dilakukanlah musyawarah dengan mengundang penagih utang, Joko, termasuk Neno. Dalam pertemuan itu terungkap jika Joko sering mengutang karena sering kalah main judi. Sebulan pascamusyawarah itu, Neno memilih menceraikan Joko.

“Dia sendiri yang bilang kalau sudah enggak bisa lanjutin rumah tangga, ya sudah deh saya minta cerai,” ujarnya menirukan pernyataan Joko.      Saat ini, kabarnya Joko ke Cirebon, sementara Neno masih hidup sendiri mengurus dua anaknya sambil menjalankan usaha jualan sembako di pasar. Sabar ya, Mbak. (mg06/zai/ira)