Cepi Hermawan, Mahasiswa Bayah Sutradarai Film Kill Me by Your Hand

Cepi Hermawan, sang sutradara. Foto kanan: poster film Kill Me by Your Hand yang bakal diputar 5 Maret nanti di Cinemaxx Serang.

Bakal dirilis 5 Maret nanti di Cinemaxx Serang, film Kill Me by Your Hand sudah menyita perhatian. Dibandingkan film-film Kremov Pictures sebelumnya, film yang disutradarai Cepi Hermawan ini mengangkat isu kontroversial, percintaan sejenis.

Ini bukan hanya cerita Cepi tentang di balik layar susahnya meyakinkan para pemain untuk bermain di film yang siap diikutsertakan dalam kompetisi film nasional, bahkan internasional ini. Namun, tentang membulatkan tekad memberanikan diri mengangkat film bertema kontroversi.

         Ditemui di restoran cepat saji di Ciceri Kota Serang, Rabu (19/2), mahasiswa asal Bayah semester 8 UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten ini bilang, awal mula menyutradarai film ini hasil kesepakatan anggota Kremov Pictures. Komunitas film terbesar di Banten ini rajin membuat film, minimal dua judul setiap tahunnya. Dan Kill Me by Your Hand yang di-direct Cepi adalah film pertama Kremov pada 2019 sekaligus menjadi film pertamanya.

         “Awalnya saya berpikir, bisa enggak ya, soalnya belum pernah. Akhirnya memberanikan diri, hitung-hitung pengalaman juga,” jelas cowok yang sedang menyelesaikan skripsi ini.

         Cepi yang bergabung di Kremov sejak 2017 lalu, baru ikut produksi film berjudul Golok, itu pun bagian asisten cameraman dan lighting. Pada film kolosal berjudul Tirtayasa, Cepi bagian art. Sementara di film Kremov lainnya berjudul Belalang Cupu-cupu, Cepi tidak ikut terlibat penuh dan hanya bagian umum.

         “Tantangan ngedirect film ini, apalagi temanya agak-agak kontroversial dan seksual, mau enggak mau saya nonton film yang seperti itu sebagai referensi, termasuk film-film pemenang Oscar kemarin. Ngedirect talent-talent-nya agak sulit sih. Antara lain karena ragu dengan ceritanya, jaim, dan belum lagi nyatuin chemistry mereka yang lumayan sulit. Kita butuh waktu satu bulan sampai akhirnya mereka mau dan bersikap ya sudahlah bodo amat dan berperan dalam film ini,” jelas pehobi videografi ini.

         Film ini kata Cepi, idenya datang dari anggota Kremov lain, Ikbal. Pada film ini Ikbal bertindak sebagai director of photography (DOP) yang mengarahkan cameraman untuk mensyuting tempat dari beberapa sisi.

         “Dia punya ide lumayan lama, pengin buat film itu, tapi masih bingung. Pas Kremov mau bikin film baru, akhirnya dituangin di sini, itu pun setelah idenya jelas. Tapi, alurnya agak beda dari ide awal yang enggak terlalu seksual. Cuma sama Bang Darwin (pendiri Kremov Pictures-red) yang berdiskusi dengan teman-temannya di IKJ (Institut Kesenian Jakarta) katanya ini sih kurang, harus tambah diganasin lagi,” tutur alumnus MA dan MTs Al-Ittihad Cimangpang ini.

         Tugas besar menyutradari film ini, kata kelahiran Lebak, 25 November 1994 ini adalah menjabarkan dari naskah ke dalam bentuk visual. Cepi mengaku, cukup berat untuk mengarahkan pemain terutama meyakinkan talent perempuan untuk adegan tertentu.

         “Butuh beberapa waktu. Kita meyakinkan ke dia, ayo dong ambil peran ini, dan akhirnya mau. Sempat ada beberapa konflik sampai pemain mau keluar dari project ini, akhirnya kita bujuk lagi dan bisa. Masih ada beberapa kendala, tapi disabarin saja,” tukas alumnus SDN 1 Panggarangan ini.

         Saat reading naskah, Cepi menjelaskan kepada para pemain, tujuan film ini untuk diikutkan berbagai festival. Karena itulah, referensi pembuatan film ini adalah film-film luar negeri terutama yang memenangi lomba seperti Oscar.

         “Memang sih para pemain agak canggung dalam beradegan dan berpotensi gagal. Namun, sebisa mungkin gagalnya diminimalkan,” kata Cepi lagi.

         Karena konten dewasa pada film ini hampir 40 persen, Cepi bilang, hanya cocok ditonton untuk usia 18 tahun ke atas. Namun, Cepi memastikan, tidak terlalu vulgar. Berbeda dengan film Kremov lainnya, film ini tidak akan seperti film Kremov lain yang diikutsertakan pada kegiatan nobar dan disaksikan masyarakat luas.

         “Isi filmnya lebih ke pilihan hidup,” tukas peraih juara pertama bulu tangkis pada pekan olahraga mahasiswa (POM) di UIN SMH Banten ini.

         Awalnya pun, lanjut Cepi, film ini tidak akan ada premier. “Cuma pas setelah syuting, beberapa orang merespons pengin lihat dan tanya bakal tayang di mana? Ya sudahlah akhirnya kita bikin premier di bioskop. Itu pun atas persetujuan para pemain,” kata peraih juara pertama lomba film dokumenter di BPAD ini.

         Proses produksi mencakup persiapan film memakan waktu dua bulan, yakni pada Oktober dan November 2018. Sementara, Desember 2018 dilakukan proses syuting dalam durasi dua minggu. Namun, hanya menggunakan waktu delapan hari.

         Lokasi yang dipilih, yakni empat hari di Lebak, tepatnya di Leuweung Saketeng, Karang Bokor, dan Pulau Manuk. Lokasi syuting lainnya di Cilegon dan Pulau Tunda, Serang sebagai spot untuk snorkeling.

Semula, akan mengambil setting hanya di Lebak. Namun karena tidak ada spot snorkeling di Lebak, akhirnya mengambil lokasi di Pulau Tunda.

         Untuk premier 5 Maret nanti, film berdurasi 40 menit ini akan diputar di teater 1, pukul 19.00 WIB. Menurut Cepi, semua persiapan sudah selesai tinggal memaksimalkan penjualan tiket. Semula akan diputar dua kali, yakni pukul 16.00 WIB dan 19.00 WIB. Akhirnya diputuskan, diputar satu kali tapi dipenuhi penonton.

         “Targetnya 200 kursi terisi penuh. Saat ini kita gencar jual tiket bukan buat cari untung atau balik modal produksi, tapi untuk balikin sewa kursi di teater. Karena memang kita ini kan komunitas yang anggotanya sama-sama hobi di bidang film, jadi lebih ke proses kreatif berkarya,” tukas Cepi.

         Layaknya premier film, akan ada seremoni, perkenalan pemain, juga pemutaran video behind the scene produksi. Dan akan ada pemutaran film Kremov lainnya seperti Belalang Cupu-cupu.

         “Harapan kami film ini bisa benar-benar lolos di ajang-ajang lomba film internasional. Suatu kebanggaan bisa dapet penghargaan. Berkaca dari film-film lain yang diikutsertakan ke festival film luar negera dan juara, secara otomatis akan dihargai di dalam negera, misalnya film berjudul Kado yang meraih film pendek terbaik piala Citra,” jelas Cepi.

         Jika harapan ini terwujud, kata Cepi, bukan hanya Kremov yang bisa keangkat lagi, tetapi juga Banten sebagai provinsi tempat Kremov berkarya. (Hilal Ahmad)