Sembilan dari sebelas pemuda warga Kampung Cokrom, Desa Curugbarang, Kecamatan Cipeucang, Pandeglang, yang selamat dari tsunami saat ditemui di kampungnya, Senin (24/12) malam.

Kami lari sekencang-kencangnya. Tidak tahu arah, yang penting menyelamatkan diri ke arah pegunungan. Hingga kembali ke rumah, kami tidak tahu nama kampung tempat kami menyelamatkan diri itu.

SABTU (22/12) sore sekira pukul lima sore, Oman (45) diajak oleh keponakan untuk jalan-jalan ke pantai. Awalnya tidak mau karena tidak punya rencana. Akhirnya berangkatlah selepas salat magrib, sekira pukul tujuh malam. Setelah dihitung ada 11 orang yang ikut, termasuk Oman, menggunakan dua kendaraan.

Oman naik Toyota Avanza yang dikemudikan keponakannya, Epul (27), bersama Mukhlis, David, Candra, Agung, dan Ilham. Satu kendaraan lagi Suzuki Splash dibawa oleh adiknya, Encep Arbi (39), bersama Anggi, Yudi, dan Eris.

Begitu berangkat, warga Kampung Cokrom, Desa Curugbarang, Kecamatan Cipeucang, Kabupaten Pandeglang, belum menentukan pantai mana yang akan dituju. Yang penting daerah pantai. Akhirnya di perjalanan memutuskan untuk ke Pantai Cherry, Carita.
Tiba pukul delapan malam, mereka berbagi tugas. Menyiapkan nasi yang dibawa dari rumah, mencari kayu bakar, dan memanggang ikan, sambil mendengarkan lagu dangdut lewat speaker aktif. Lokasi bakar ikan dengan tepi pantai sekira lima meter.

“Yang saya lihat di pantai itu ada beberapa mobil pribadi dan bus rombongan. Seperti sedang ada acara,” kata Oman menceritakan kisah tragisnya, Senin (24/12) malam di pos ronda depan musala Kampung Cokrom selepas tahlil khaul Syeikh Abdul Qodir Jaelani. Di situ juga kumpul anak muda yang senasib dengan Oman.

Sambil menunggu ikan matang dibakar, lanjut Oman, seperti biasa dirinya menyalurkan hobinya memancing. Namun urung dilakukan. Ia malah ingin duduk dekat tepi pantai sambil ngopi. Karena malam itu cuaca cukup dingin dan angin pantai berhembus cukup kencang.

“Lagi duduk santai sambil ngopi, tiba-tiba saya ingin cuci kaki. Perasaan dalam hati, kok ingin cuci kaki dan tangan di laut padahal ikan belum matang dibakar. Begitu mau cuci kaki, tiba-tiba ada ombak kencang. Saya terhempas dan hampir mau jatuh. Melihat saya mau jatuh kena ombak, yang lainnya malah ngetawain,” ungkap Oman.

Seketika itu pula Oman ada seseorang yang mendekati. Lelaki yang tak dikenalnya itu bercerita ombak yang baru saja terjadi tidak seperti ombak biasanya sekalipun laut sedang sedang pasang. Mendegar cerita itu, tanpa pikir panjang Oman memerintahkan adik dan keponakannya untuk memindahkan kendaraan supaya posisinya membelakangi pantai. Saat itu ia merasa was-was akan terjadi tsunami. Perasaannya pun tidak enak. “Pikir saya saat itu supaya mobil gampang keluarnya kalau ada tsunami,” ujar Oman.

Hanya berselang beberapa menit kemudian, diperkirakan pukul 21.50 WIB Oman mendengar suara bergemuruh dari tengah lautan setelah speaker aktif yang lagi kencang memutar lagu dangdut tiba-tiba mati.

Pemuda warga Kampung Cokrom, Desa Curugbarang, Kecamatan Cipeucang, Pandeglang, saat persiapan membakar ikan di pantai Cherry, Carita. Foto: Dok. Eris

Seolah tak percaya, Oman lalu mendekat lagi ke tepi pantai dan mengamati kondisi tengah laut. Selain suara gemuruh terdengar makin kencang, ia melihat seperti ada garis putih yang bergelombang-gelombang di tengah lautan. Hempasan ombak pun semakin besar.

“Dalam hati, wah… ada tsunami nih. Saya langsung teriak kabur, kabur, kabur. Ada tsunami. Jangan naik mobil,” ungkap Oman.

Ia memerintahkan rekan-rekannya untuk lari ke luar daerah pantai Cherry. Ikan yang belum matang dipanggang dan nasi ditinggalkan. Hanya speaker aktif saja yang dimasukkan ke mobil. Encep Arbi (adiknya) langsung tancap gas bawa Suzuki Splash dan Epul bawa Avanza keluar dari pantai.

“Sambil lari saya teriak-teriak ada tsunami. Yang di pantai itu juga ada yang ikut lari. Kami enggak tahu arah ke mana harus cari tempat yang aman karena enggak tahu daerah itu. Pokoknya lari sekencang-kencangnya, sekuat-kuatnya ke luar pantai,” ungkap Oman.

Begitu keluar dari kawasan pantai, lanjut Oman, ia dan rekan-rekannya lari ke arah persawahan, lalu ke daerah bukit atau pegunungan yang ada jalan kampung dan rumah rumah penduduk. Sambil berlari, bersama rekannya terus berteriak ada tsunami supaya warga kampung yang dilintasi tahu ada tsunami. Beberapa warga yang mendengar suaranya, keluar rumah dan ikut menyelamatkan diri ke dataran yang lebih tinggi. Ada juga ibu-ibu yang panik, menangis di depan rumah. Bahkan ada seorang ibu menggendong bayi ikut berlari.

Kira-kira setelah kilometer berlari dan berada di kebun, Oman mendengar ada suara seperti dentuman dari arah pantai, kemudian bergemuruh sangat keras dan kencang. “Sulit diceritakannya suaranya. Begemuruh kencang. Ada suara suara seperti pohon atau kayu kayu yang saling bertabarakan, suara kayu patah, dan suara seng yang beradu terkena angin,” ungkap Oman.

Merasa belum merasa dalam posisi aman, Oman memerintahkan rekan-rekannya untuk berjalan ke daerah yang lebih tinggi lagi, ke arah hutan. Jaraknya, kira-kira sampai dua kilometer dari pantai.

Rupanya, ada puluhan warga juga terlihat menyelamatkan diri ke arah hutan. Begitu merasa aman, ternyata mereka sudah terpisah pisah. Tidak utuh sembilan orang lagi. Di tengah hutan yang gelap, ia berteriak-teriak mangil-manggil nama supaya ketahuan ada di mana posisi rekannya itu.

“Saking paniknya sampai lupa ada handphone di celana ,” kata Oman.

Akhirnya ia menelepon rekannya yang terpisah agar segera mendekat ke arah nyala senter. “Saya kedip-kedipkan senter, akhirnya semua berkumpul,” ungkap Oman.

Kata Oman ada yang aneh dari senter ini. Ia tidak biasanya men-charger senter itu dari pagi sampai sore di rumah sebelum ada rencana bancakan di pantai. “Senter ini jadi kuat nyalanya. Nolong saat lari di sawah dan hutan,” lanjutnya.

Suasana saat menyelamatkan diri di hutan pada malam hari.

Walaupun sudah berkumpul sembilan orang, tapi masih panik. Oman yang lainnya memikirkan Encep Arbi dan Epul yang membawa mobil. Saat menyelamatkan diri dari pantai, sudah terpisah. Entah ke mana mereka menyelamatan diri. Bahkan Anggi, keponakan Oman yang paling muda usainya, sempat menangis sesenggukan karena kahwatir dengan keselamatan saudaranya itu.

“Setelah saya telepon Epul, alhamdulillah mereka selamat. Kata Epul, Encep lagi di atas masjid kampung. Ketakutan. Saya minta ke Epul agar Encep turun dari masjid. Rupanya Encep dan Epul menyelamatkan diri ke arah kampung yang sama dengan kami,” ungkap Oman.

MOBIL DIADANG OMBAK

Encep dan Epul berhasil menyelamatkan diri dari ancaman tsunami. Paman dan keponakan saat diberitahu akan ada tsunami oleh Oman langsung tancap gas membawa mobilnya masing-masing.

Epul di depan membawa Avanza. Encep membuntuti dibelakangnya. Begitu ke luar dari Pantai Cherry, keduanya berinsiatif belok kanan ke arah Labuan dalam situasinya yag kalut. “Bawa mobil lumayan kenceng. Kira-kira setelah dua kilometer bawa mobil, saya terjebak. Jalan yang mau saya lewati sudah kena ombak. Pas liat ke belang dari kaca spion, sama saja jalanan sudah banyak air,” ungkap Epul.

Akhirnya Epul balik arah diikuti Encep. Sambil terus melaju di jalan raya sudah tergenang air laut dan banyak kayu berserakan. Bahkan hempasan ombak ke jalan semakin kuat.

“Mobil sampai oleng ke kiri kanan karena ban enggak napak ke jalan,” ungkapnya. Ia tidak ingat lagi lokasi persis berbalik arah karena suasana mencekam.

Kata Epul, ia dan Encep merasa beruntung. Saat ombak membesar menerjang ke jalan raya hingga daratan, mobil tidak kena ombak karena posisi mobil terhalang bangunan yang ada di sisi jalan. “Beberapa kali ada ombak ke jalan, mobil pas terhalang bangunan permanen,” ungkap Epul yang kembali mengaku tidak bisa mengenali lingkungan jalan karena sudah banyak yang rusak.

“Nah, tiba-tiba saya nemu ada jalan kampung. Langsung belok kanan. Nggak tahu berapa ratus meter dari jalan, saya berhenti sama Ka Encep. Mobil saya tinggal, terus lari sampai ketemu masjid,” ungkap Epul, yang merasa bersyukur tidak terkena tsunami.

Di dekat masjid situlah ia mendapat telepon dari Oman untuk membawa mobilnya lagi ke atas pegunungan supaya aman dan bisa berkumpul bersama yang lainnya. Lega bisa bertemu lagi dalam kondisi sudah lemas.

TAK TAHU LOKASI
Oman melanjutkan, saat menyelamatkan diri ia bersama rekannya sempat membantu warga yang membawa bayi. “Jam 12 malam hujan gede. Anginnya kencang. Ibu-ibu yang bawa bayi saya suruh masuk ke mobil,” ungkap Oman.

Di tengah hutan banyak juga warga. Sebagian rekannya ada yang masuk di mobil, sebagian lagi terpaksa kehujanan. Tidak berteduh bersama warga yang memasang terpal lantaran sudah telanjur basah kuyup.

Di tengah hujan deras, Oman bersama rekan-rekannya berinsiatif pulang Minggu (23/12) pukul dua dini hari. Tapi dicegah warga dengan alasan akan ada tsunami lagi. Akhirnya menunggu sampai subuh tiba.

Pukul enam pagi akhirnya memberanikan diri turun dari gunung. Di jalan sulit dilalui. “Waktu lihat banyak bangunan yang rusak, saya merinding dan tak kuat melihat ke arah laut. Tadinya mau pulang ke arah Labuan, pas di tengah jalan dicegat warga agar pulang ke arah Anyar, Cilegon,” ungkap Oman.

Eris menambahkan, ia sempat merekam kondisi jalanan pantai Carita yang masih sepi sekira pukul 06.30. Untuk bisa melewati jalan, beberapa kali di antara mereka menyingkirkan batu dan kayu yang mengahalangi, termasuk kabel listrik. “Tercium bau anyir dari angin laut,” ungkap Eris.

Dalam perjalanan pulang dari Carita ke arah Anyar, mereka diarahkan oleh petugas ke sebuah jalan perkampungan hingga tembus ke Cinangka. Kemudian ke Padarincang.

“Sampai sekarang saya belum tahu nama lokasi atau kampung tempat kami menyelematkan diri. Enggak sempat nanya saking paniknya. Rasanya seperti mimpi ngalami tsunami. Kalau saya disuruh lari lagi seperti malam itu, enggak bakalan mampu,” pungkas Oman. (Aas Arbi)