Cerita Anak Kelas Lima SD, Korban Banjir di Tamansari Kecamatan Baros

SERANG – Siti Muflikhah tidak menyangka,  kehangatan bersama dua kakak dan ibunya setelah makan harus berakhir oleh terjangan dari atas bukit. Saat air datang dan mulai masuk ke dalam rumahnya melalui pintu depan,  samping dan belakang rumahnya,  Muflikhah beserta ibu, kakak dan adiknya lari ke warung yang ada tepat di depan rumahnya.
Rumah anak yang duduk di bangku kelas 5 SD Tamansari berada di tanah yang rendah, sedangkan warung tempat Muflikhah mengungsi berada di tanah yang lebih tinggi. Karena kondisi tanah,  saat hujan,  air mengalir kearah rumah yang berada tepat di depan sekolah SD Tamansari.
“Lagi tidur-tiduran,  kan hujan gede,  air masuk lari ke situ (menunjuk ke warung),” ujarnya Muflikah saat ditemui di lokasi,  Sabtu (6/5).
Banjir dengan lumpur membuat peralatan di dalam rumah Muflikhah hancur dan kotor. Kasur,  tivi,  lemari,  kulkas dan peralatan lain tak luput dari terjangan air dan lumpur. Tak terkecuali seragam dan peralatan sekolah Muflikhah.  Semuanya dalam kondisi kotor karena lumpur.
Rumah Muflikhah sendiri tidak hancur,  namun air dan lumpur membuat rumah dengan tiga kamar tersebut tidak bisa dihuni beberapa waktu dan memerlukan sejumlah perbaikan.
Bocah imut ini bercerita,  hujan deras mengguyur kampungnya sejak pukul dua siang.  Kurang lebih dua jam lamanya hujan tersebut mengguyur,  bahkan saat air mulai merangsek masuk pun langit belum juga berhenti menangis, terus mengguyur kampungnya.
Akibat banjir tersebut,  Muflikhah beserta keluarganya harus mengungsi ke rumah tetangga yang masih ada ikatan keluarga yang lolos dari terjangan banjir.
Amarudin,  orang tua Muflikhah menuturkan,  saat banjir terjadi dirinya sedang bekerja. Supir pengantar air minum isi ulang tersebut baru tiba di rumahnya selepas magrib dengan kondisi rumah yang telah dipenuhi lumpur.
Amarudin mengaku punya pirasat atas musibah tersebut. Sepanjang perjalanan menuju Merak,  Kota Cilegon,  perasaan ayah empat anak tersebut tidak tenang dan ingin cepat kembali pulang.
Setibanya di rumah,  Amarudin kaget bukan kepalang melihat kondisi rumahnya.  Bencana sebesar ini baru pertama kali terjadi sehingga tak terpikirkan oleh Amarudin.  “Tahu lalu pernah banjir tapi tidak separah ini,” ujarnya.
Sementara itu,  ayah Muflikhah,  Amarudin menuturkan,  Kampung Citaman,  Desa Tamansari,  Kecamatan Baros Kabupaten Serang,  tempat tinggalnya tersebut merupakan wilayah kaki gunung Gunung Karang.  Kendati seperti itu belum pernah banjir terjadi.
Banjir mulai terjadi tahun lalu,  setelah kebun buah naga seluas hektar menggeser lahan serapan air yang ada di desanya sekitar empat tahun lalu.
“Disana kebunnya,  di atas,  di Kampung Mandeg,  masih desa ini.  Di kebun sana ada waduk,  nah tanggulnya jebol,” ujar Amarudin.
Kerugian yang dialaminya karena bencana tersebut diperkirakan lebih dari Rp 70 juta. Itu dilihat dari rusaknya seluruh peralatan rumah tangga serta barang lainnya.  “Motor saya sudah hanyut nyangkut disana (menunjuk gedung perpustakaan SD Tamansari),” tuturnya. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)