Cerita di Balik Pembunuhan Balita oleh Pengasuhnya di Cikande

Sebuah tenda terpasang di depan rumah Ahmad Rojali di Kompleks Griya Asri Cluster Mahoni, Desa/Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, Jumat (3/8).

Keluarga Ahmad Rojali-Sutihati masih berduka. Warga Kompleks Griya Asri, RT/RW 01/11, Desa/Kecamatan Cikande, Kabupaten Serang, itu tidak menyangka anak kesayangannya meninggal di tangan pengasuhnya sendiri, Sani.

ADI MULYADI – SERANG

Kemarin (3/8) sekira pukul 13.00 WIB, Radar Banten mendatangi kediaman Ahmad Rojali-Sutihati di Kompleks Griya Asri, Cikande, Kabupaten Serang. Untuk menemukan rumahnya, tidak terlalu sulit. Dari pertigaan Ambon, Cikande, lurus saja ke arah Kompleks Griya Asri. Kurang lebih empat kilometer dari Jalan Raya Serang-Tangerang.

Sesampainya di kediaman Rojali-Sutihati, tampak kosong. Siang itu Rojali-Sutihati tidak ada di rumah. Pasutri itu sedang berada di Anyar, kediaman orangtua dari Sutihati. Di Anyar itu, anak semata wayangnya yang bernama Ratifah Rafsani (3) dimakamkan. Ratifah meninggal dengan cara mengenaskan karena dibunuh oleh pengasuhnya yang bernama Sani pada Selasa (31/7).

Lalu bagaimana keluarga Rojali mengenal Sani? Menurut penuturan ketua RT 01/11  Ngadino, keluarga Rojali mengenal Sani dari pertemuan yang tidak disengaja di sebuah konter servis handphone. Konter ini tidak jauh dari rumah Sutihati.

Di konter itu, Sani menyampaikan kepada Sutihati bahwa dirinya belum bekerja. Mendengar penuturan itu, Sutihati langsung merasa iba. “Lalu akhirnya ditawari pekerjaan menjadi pengasuh di rumahnya,” ujar Ngadino di kediamannya, kemarin. Mendapat tawaran itu, Sani langsung mengiyakan. Jadilah, Sani pengasuh anak Sutihati, Ratifah.

Kata Ngadino, Sani merupakan seorang janda yang tinggal tidak jauh dari rumah korban, sekitar dua kilometer tepatnya di Kampung Pabuaran, Desa/Kecamatan Cikande. Kurang lebih dua bulan sejak pertemuan di konter handphone, Sani bekerja di rumah Sutihati yang berprofesi sebagai buruh pabrik PT Nikomas, dan Ahmad Rojali sebagai sopir pengantar barang di salah satu perusahaan di Tangerang.

Sani dikenal oleh warga Kompleks Griya Asri sebagai sosok yang pendiam. Ia tidak banyak omong. Warga sekitar tidak menyangka bahwa Sani tega membunuh Ratifah dengan cara dipukul dan dimasukkan ke dalam ember. Pembunuhan sadis itu dilatarbelakangi dendam kepada majikannya. Memang semenjak Sani bekerja di rumah Sutihati sering ada laki-laki yang main ke rumah. Laki-laki ini yang disinyalir sebagai pacar Sani.

Takut menjadi gunjingan warga kompleks, Ahmad Rozali dan Sutihati beberapa kali menegur Sani untuk tidak menerima laki-laki melewati pukul 22.00 WIB. Sani yang menyimpan dendam karena sering ditegur majikannya nekat membunuh anak majikannya yang masih berusia tiga tahun.

Kata Ngadino, usai pembunuhan warga sempat memergoki Sani keluar meninggalkan rumah majikannya dengan sangat tergesa-gesa sekira pukul 10.00 WIB. Saat itu Sani beralasan mau pulang. “Sani bilang bahwa di rumah Sutihati ada saudara korban sehingga Sani bisa pulang,” kata Ngadino.

Berselang beberapa jam, Sutihati pulang dari pabrik dan mencari anaknya. Beberapa tetangga ditanya oleh Sutihati, tetapi tidak ada yang melihat Ratifah. Sutihati berusaha untuk menghubungi Sani, tetapi telepon genggamnya tidak diangkat. Sekira pukul 19.00 WIB, Sutihati memutuskan untuk mencuci kaki ke kamar mandi.

Sontak Sutihati terkejut melihat anak kesayangannya ada di dalam ember. Teriakan Sutihati mengundang warga sekitar. Korban digendong ibunya langsung dibawa ke bidan setempat, ternyata korban sudah meninggal dunia.

Ngadino mengatakan, saat kejadian suami Sutihati, Rojali, tidak ada di rumah karena sedang bekerja. Lalu Ngadino memerintahkan warga lain untuk menghubungi Rojali. “Saat dihubungi, suaminya sedang berada di Karawang. Dia (Ahmad Rojali-red) langsung pulang dan tiba di rumah sekira pukul 21.00 WIB,” katanya.

Ia mengaku curiga saat kematian Ratifah Rafsani terjadi karena pengasuhnya, Sani, tidak ada. “Akhirnya saya langsung menghubungi Babinmas Desa Cikande. Polisi langsung datang, dari Polsek Cikande dan Polres Serang,” ujarnya.

Kata Ngadino, polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP). Mengumpulkan data-data dan akhirnya polisi berkesimpulan sementara bahwa pelaku adalah Sani. “Polisi saat itu melakukan pengejaran kepada pengasuhnya, sementara jenazah korban dibawa ke Rumah Sakit dr Dradjat Prawiranegara Serang. Selesai diautopsi, jenazah korban dibawa ke Anyar untuk dimakamkan,” katanya.

Polisi tidak kesulitan membekuk Sani. Ia dibekuk di sebuah kebun di Nambo Ilir pada Rabu (1/8) dini hari tanpa perlawanan. Saat ini Sani ditahan di Mapolres Serang.

Sementara itu, warga RT 01 Sulastri mengatakan, Sani tergolong orang pendiam. “Kalau untuk kesehariannya biasa, sering juga berbaur kalau sore atau pagi dengan tetangga. Tapi, memang sering ada cowok main ke situ (rumah Sutihati-red),” tandasnya. (*)