Sutradara Film Ambu (tiga kanan) menggelar press conference dengan para artis dalam peluncuran poster dan teaser trailer film Ambu di The Hook, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (25/10)

Keindahan alam dan keteguhan masyarakat Baduy menjaga tradisi yang diwariskan secara turun temurun menjadi daya tarik para pemeran film berjudul Ambu. Selama proses syuting di kawasan adat Baduy, para pemeran film Ambu tidak bisa berkomunikasi dengan keluarga dan masyarakat luar karena tidak ada signal dan listrik.

Peluncuran poster dan teaser trailer film berjudul Ambu di The Hook, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dihadiri puluhan wartawan cetak, online, dan elektronik. Film drama yang diproduksi Skytree Pictures tersebut dibintangi artis papan atas, yakni Laudya Cynthia Bella, Widyawati, Baim Wong, Endhita, Adri Mashadi, dan Lutesha.

Film tersebut menceritakan tentang Ambu Misna (Widyawati) yang ditinggalkan anaknya Fatma (Laudya Cynthia Bella) pergi ke Jakarta demi cintanya kepada pemuda Jakarta bernama Nico (Baim Wong). Fatma kemudian mempunyai anak bernama Nona (Luthesa).

Setelah Nona remaja, Fatma kemudian membawa anaknya untuk menemui Ambu Misna di Baduy. Nona dan Fatma naik kereta commuter line dari Jakarta ke Rangkasbitung. Dari Rangkasbitung, keduanya kemudian melanjutkan perjalanan ke Baduy untuk bertemu Ambu Misna yang sudah lama ditinggalkan Fatma, sehingga muncullah polemik keluarga.

Produser sekaligus sutradara film Ambu, Farid Dermawan mengatakan, film berlatar budaya Baduy tersebut merupakan film pertama tentang masyarakat adat Baduy yang tinggal di pedalaman Kabupaten Lebak. Lokasi syuting film Ambu 90 persen di wilayah Lebak. Dengan alur cerita mengangkat tentang hubungan antara ibu dan anak perempuan.

Dalam bahasa Sunda, Ambu adalah Ibu. Ibu merupakan sosok yang pertama bersentuhan dengan kita sejak dalam kandungan dan memastikan dunia yang dimasuki sang anak.

Dalam menggarap film tersebut, Farid menggandeng artis papan atas di negeri ini. Di antaranya, artis senior Widyawati. Istri dari almarhum Sopan Sopian tersebut tanpa pikir panjang menerima tawaran untuk menjadi pemeran Ambu Misna. “Saya enggak mengalami kendala dalam menggandeng pemeran film Ambu. Mereka ternyata tertarik dengan tawaran yang saya berikan,” ungkap Farid saat peluncuran poster dan trailer film Ambu di The Hook, Jakarta, Kamis (25/10).

Dikatakannya, proses syuting film berjudul Ambu di Baduy tidak mudah. Selain persoalan ketiadaan listrik dan sinyal telepon seluler, kru juga harus naik turun gunung ke lokasi syuting.     Sebelumnya, tim dari rumah produksi Skytree Picture juga harus melakukan survei terlebih dahulu dan meminta izin dari jaro (kepala desa) pemerintah. Selanjutnya, tim meminta izin dari tokoh adat Baduy agar bisa syuting di kawasan adat. Proses tersebut dilalui kurang lebih satu bulan.

“Kami lakukan syuting di siang hari, karena untuk pencahayaan hanya mengandalkan sinar matahari,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, artis kawakan Widyawati bercerita tentang awal mula produser dan sutradara film Ambu menghubunginya. Dia langsung menerima tawaran tersebut karena dulu suaminya (almarhum Sopan Sopian-red) memiliki cita-cita membuat film berlatar budaya Baduy. Namun, takdir berkata lain dan sekarang dirinya yang merealisasikan cita-cita tersebut.

Dalam memerankan sosok Ambu Misna, Widyawati menghadapi tantangan. Di antaranya, dia harus memanjangkan rambut dan belajar bahasa sunda khas Baduy. Bahkan, selama syuting, artis kawakan tersebut harus naik dan turun gunung. Ketiadaan sinyal telepon seluler dan listrik membuatnya tidak bisa berhubungan dengan dunia luar.

“Tapi, keindahan alam dan keramahan masyarakat adat Baduy membuatnya merasa nyaman ketika syuting di kawasan adat selama dua minggu,” ungkapnya.

Menurutnya, masyarakat Baduy sampai sekarang masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokal. Mereka merupakan sosok yang ramah, tegar, polos, dan memiliki pendirian yang kuat. Karena itu, dia bangga bisa mengenal masyarakat adat Baduy yang masih mempertahankan nilai-nilai budaya karuhun. Bahkan, masyarakat Baduy memiliki komitmen yang besar dalam menjaga alam agar tetap hijau dan lestari.

“Udara di sana sangat sejuk karena hutannya terjaga dengan baik,” jelasnya.

Artis cantik Laudya Cintya Bella merasa bangga bisa bermain dalam film garapan suami Bupati Iti Octavia Jayabaya itu. Selama ini, Laudya tertarik membintangi film yang mengangkat tema tentang kebudayaan Indonesia. Untuk itu, ketika ada tawaran main film Ambu dengan latar budaya Baduy, Laudya langsung menerima tawaran tersebut.

“Saya kagum dan terkesan dengan masyarakat suku Baduy. Mereka ramah-ramah, polos, dan punya komitmen dalam menjaga alam,” terangnya.

Laudya mengaku, baru pertama kali mengunjungi Baduy. Kalau tidak main film Ambu, dia mungkin tidak pernah menginjakkan kakinya ke kawasan adat Baduy yang memiliki keindahan alam luar biasa tersebut.

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dalam syuting film Ambu yang 90 persen berlokasi di Lebak. Dia merasa kompak dengan kru dan para pemain film karena di sana tidak bisa menggunakan telepon seluler. “Kami ngabisin waktu setelah syuting dengan main game bersama kru dan anak-anak Baduy. Bahkan, saya bisa tertawa lepas dan terbahak dengan anak-anak di sana,” ujarnya.

Tiap pagi, para pemain film dan kru harus antre untuk bisa mandi di lokasi syuting. Dengan kondisi suhu yang dingin dan air yang segar, membuatnya mendapatkan pengalaman yang berharga. Karena itu, Laudya mengaku tidak akan pernah melupakan Baduy dan Lebak.     “Dalam film ini, alhamdulilah saya tetap menggunakan hijab, karena sejak awal saya sudah sampaikan hal ini kepada sutradara,” tegasnya.

Film Ambu yang berlatar budaya Baduy rencananya akan tayang di bioskop pada Januari 2019. (Mastur)