Cerita Penjahit Baju Adat Banjar yang Dikenakan Jokowi

Kamalhudi (61), saat di tempatnya bekerja, di Istana Busana Mawar, KM 4 Banjarmasin. (WAHYU RAMADHAN/Radar Banjarmasin/JawaPos.com)

PERAYAAN HUT-RI tahun ini memberikan pesan penuh makna bagi seluruh rakyat Indonesia. Betapa tidak, baru kali ini peringatan detik-detik proklamasi para peserta, undangan maupun sang inspektur upacara mengenakan baju adat. Sehingga Istana Negara diwarnai dengan baju adat dari seluruh Nusantara.

Dari sekian banyak baju adat yang tampil, masyarakat Banjar termasuk paling bahagia. Sebab, baju adat khas daerah itu dipakai oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat menjadi inspektur upacara.

Namun yang paling bahagia adalah, Kamalhudi, 61. Betapa tidak. Busana yang dikenakan Jokowi itu jahitan Kamalhudi. “Siapa yang tidak senang karyanya dipakai kepala negara. Apalagi, itu baju adat khas Banjar,” ujar Kamal -sapaan Kamalhudi- kepada Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group) kemarin pagi (18/8) di tempatnya bekerja, Istana Busana Mawar, Km 4 Banjarmasin.

Presiden Jokowi bersama ibu negara Iriana Joko Widodo (Raka Denny/Jawa Pos)

Kamal menuturkan, pembuatan busana itu diselesaikan lima hari. Selama lima hari, lelaki berkacamata tersebut mencurahkan segala kemampuan serta waktunya. Beruntung, sang utusan yang datang dan memesankan kostum cukup detail menjelaskan bagaimana kostum yang harus dibuat, lengkap dengan ukurannya.

Meski telah puluhan tahun menjadi penjahit, Kamal merasa mengemban tugas yang cukup besar. Cemas, bahagia, dan bangga bercampur menjadi satu.

“Alhamdulillah, tidak menemukan kesulitan sama sekali. Padahal, biasanya untuk membuat kostum adat khas Banjar lengkap dengan laung, baju lapis, sabuk, dan pernik-pernik yang lain bisa memakan waktu sampai sepuluh hari,” jelasnya, lantas tersenyum.

Menjahit bukan hal yang baru digeluti Kamal. Darah penjahit diturunkan dari sang ayah. Meski begitu, Kamal belajar menjahit secara otodidak. Dia juga pernah menjadi penjahit keliling pada 1975. Kamal pernah melanglang ke berbagai daerah, misalnya Samarinda dan Jakarta, hingga akhirnya kembali ke Banjarmasin.

“Dalam hal menjahit, saya banyak melihat dari ayah, ketika berusia 15 tahun,” ungkap lelaki yang mengaku rajin membuka-buka referensi kostum dan pakaian terbaru agar tidak tertinggal tren itu.

Berbekal dari pengalaman tersebut, dia dianggap seorang penjahit yang mumpuni. Beberapa tahun sebelumnya, dia juga diminta untuk membuatkan pakaian untuk Presiden Ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau yang akrab disapa Gusdur. “Itu pertama saya menjahit kostum untuk kepala negara. Sasirangan khas Banjar yang waktu itu saya jahit,” paparnya, lantas tersenyum. (war/ay/ran/c4/ami/JPG)