Cibadak, Desa Industri yang Swasembada Beras

Kasi Pemerintahan Desa Cibadak Dede Hermawansyah (kanan) meninjau sawah yang dikelola Poktan Desa Cibadak, Kamis (11/4).

        TANGERANG Desa Cibadak, Kecamatan Cikupa, telah berubah menjadi desa industri. Namun, pertanian di desa ini bisa dipertahankan. Bahkan, mampu swasembada beras.

        Di desa dengan luas 289 hektare ini, pemerintah desa dan masyarakatnya memanfaatkan lahan seluas 10 hektare. Lahan tidur milik perusahaan di desa ini diubah menjadi persawahan. Pengelolaannya diserahkan kepada kelompok usaha tani (Poktan) Desa Cibadak.

        Menurut Kepala Desa Cibadak Adi Sopian, berkat inovasi yang terus dilakukan oleh anggota Poktan di desa ini, areal sawah milik perusahaan itu bisa tiga kali musim tanam dalam setahun. Setiap panen, 10 hektare sawah menghasilkan gabah kering rata-rata 20 ton.

        ”Saya berharap agar Poktan ini terus menanam padi dengan bibit unggul. Sehingga, hasilnya menjadi bagus pula, yang bisa menyejahterakan para petani di desa ini,” harap Adi.

        Produksi pertanian di Cibadak, kata Adi, tidak dijual ke luar desa. Sesuai instruksi Pemerintah Desa Cibadak, gabah atau beras hanya diperjualbelikan kepada masyarakat Cibadak berjumlah 12.667 jiwa.

        ”Dengan dikemas secara kekinian berasnya, otomatis mengundang minat masyarakat untuk membelinya. Apalagi, soal harga dan mutu beras, tentunya sangat bersaing dengan beras lainnya,” kata Adi kepada Tim Saba Desa Radar Banten, Kamis (11/4).

        Adi menjelaskan, bahwa pengemasan hasil produksi pertanian di desanya itu dilakukan oleh kaum milenial Cibadak yang menjadi anggota Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cibadak Makmur. Sehingga, kemasannnya bisa dibuat kekinian. Desain dari inovasi dan kreasi anggota BUMDes Cibadak Makmur, disebutkan mengikuti era masa kini.

        ”Untuk itu juga, dengan menekankan pada swasembada pangan ini, para tengkulak tidak bisa berbuat banyak. Karena, gabah dari hasil pertanian ini kami kelola dengan BUMDes. Dengan BUMDes inilah proses penggilingan beras dan pengemasannya dilakukan oleh BUMDes Cibadak Makmur,” tegas Adi.

        Seperti beberapa desa lain di Kabupaten Tangerang, Cibadak juga punya produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) unggulan. Yakni, kerupuk ikan lele. Bahan dasarnya bukan dari kulit lele, tetapi dagingnya.

        Pengolahan daging ikan lele menjadi kerupuk dan pengemasannya, dilakukan oleh anggota PKK Desa Cibadak. Berkat kerupuk ikan lele ini, Cibadak menjadi daerah tujuan studi banding dari desa di Provinsi Bali.

        Pernyataan senada disampaikan Kepala Seksi Pemerintahan Desa Cibadak Dede Hermawansyah. Ia mengatakan, dirinya beserta perangkat Desa Cibadak akan terus memotivasi anggota Poktan dan BUMDes di desanya. Sehingga, produksi pertanian dari Cibadak bisa meningkat dan bisa dipasarkan hingga ke luar desa.

        ”Untuk pengadaan pupuknya, kami akan terus support dari anggaran desa melalui BUMDes Cibadak Makmur. Biar masa panen tetap lancar selama tiga kali masa panen dalam setahun,” tutup Dede. (pem/red/des/sub)