Cilegon dan Kabupaten Serang Keluar Zona Merah

0
315 views
dr Ati Pramudji Hastuti

SERANG – Para pakar epidemiologi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memutuskan Kota Cilegon dan Kabupaten Serang keluar dari zona merah penyebaran Covid-19. Namun Kabupaten Tangerang dan Kota Tangsel kembali menjadi zona merah.

Juru bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Banten dr Ati Pramudji Hastuti mengungkapkan, berdasarkan pemetaan zona risiko daerah tepapar Covid-19 yang dilakukan para pakar epidemiologi BNPB, enam kabupaten kota di Banten masuk zona oranye, sementara dua daerah masuk zona risiko tinggi atau zona merah penyebaran Covid-19 di Banten. “Hari ini (kemarin-red), Kota Cilegon dan Kabupaten Serang keluar zona merah. Sementara Kota Tangsel dan Kabupaten Tangerang yang tadinya zona oranye jadi zona merah,” kata Ati kepada wartawan, kemarin.

Ia melanjutkan, penilaian zonasi ini dilihat dari epidemiologi, surveilans kesehatan dan pelayanan kesehatan yang keseluruhan indikator berjumlah 15. Di mana zona merah nilainya 0-1,8, oranye 1,9-2,4, kuning 2,5-3 dan hijau untuk yang tidak ada kasus. “Kota Tangerang meskipun zona oranye harus siaga agar tidak kembali jadi zona merah,” bebernya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Banten pada Senin (12/10), terjadi 81 kasus baru di delapan kabupaten kota. Dengan adanya penambahan kasus baru maka jumlah kasus Covid-19 di Provinsi Banten hampir 7.000 orang.

“Data kami hingga pukul 18.00 WIB, jumlah warga Banten yang terpapar Covid-19 mencapai 6.918 orang, di mana 1.425 masih dirawat, 5.226 orang dinyatakan sembuh, dan 277 orang meninggal dunia,” tuturnya.

Terkait upaya untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Banten, Ati mengajak semua elemen masyarakat untuk mengimplementasikan Pergub 45/2020 perubahan atas pergub 38/2020 tentang Penegakan Disiplin Penerapan Protokol Kesehatan dalam Penanganan Covid-19. Menurutnya, dukungan semua elemen untuk melakukan edukasi dalam membangkitkan sense of crisis pandemi Covid-19 di masyarakat dinilai bisa menekan terjadinya kasus baru. “Bagi yang positif covid tanpa gejala atau dengan gejala ringan yang memilih isolasi mandiri, saya minta untuk disiplin menerapkan tatacara isolasi mandiri yang benar agar tidak menjadi pemicu bertambahnya kluster keluarga,” pungkas Ati.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinkes Cilegon, Dana Sujaksani membenarkan perubahan status Kota Cilegon. Menurutnya, Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat yang menetapkan status tersebut.

“Ini berkat upaya bersama, pemerintah juga masyarakat yang semakin sadar melaksanakan protokol kesehatan,” papar Dana, Senin (12/10).

Dijelaskan Dana, perubahan status bukan semata-mata karena penurunan kasus, tapi ada sejumlah variabel yang menjadi indikator penilaian oleh Gugus Tugas Covid-19 Pusat. Ia berharap dengan perubahan status ini,  Kota Cilegon akan semakin membaik baik dari sisi status penyebaran Covid-19 maupun angka kasus positif virus tersebut.

Ia mengajak semua pihak untuk tidak terlena oleh perubahan status tersebut, menurutnya, semua pihak harus tetap disiplin melaksanakan protokol kesehatan  sehingga Covid-19 hilang dari Kota Cilegon.

Sementara itu, Walikota Cilegon Edi Ariadi menjelaskan, Pemkot Cilegon bersama unsur Forkopimda dan Gugus Tugas terus berupaya menyikapi persoalan Covid-19.

Kemarin, Pemkot Cilegon membahas realokasi anggaran Biaya Tidak Terduga (BTT)  untuk penanganan Covid-19 di Kota Cilegon. Itu dilakukan agar penanganan Covid-19 bisa semakin optimal.

“Kan ada beberapa program yang belum terkover, misalnya pemakaman khusus korban Covid-19 dan lain-lain,” ujarnya. (den-bam/air)