Cilegon Ethnic Carnival, Harmoni dalam Balutan Carnival

Dok: Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cilegon for Radar Banten

Cilegon Ethnic Carnival (CEC) boleh jadi merupakan pionir carnival di Banten yang rutin digelar. Beragam kostum modifikasi berukuran jumbo dan pawai seni serta budaya kembali akan digelar tahun ini.

Pada perhelatan keenam di tahun ini berlangsung Sabtu (24/8) pukul 19.30-23.00 WIB. Iring-iringan akan dimulai dari halaman kantor Walikota Cilegon dan berakhir di Rumah Dinas Walikota Cilegon. Pagelaran pada malam hari, karena pertimbangan suhu udara yang jauh lebih sejuk dan aspek antusiasme penonton yang dinilai lebih besar. Terlebih kemeriahan dengan adanya acara kembang api yang dinyalakan saat malam hari, bisa menjadi daya tarik acara untuk terlihat lebih semarak dan meriah.

Keunikan budaya Nusantara menjadi tema yang diangkat. Ali Mufti, Kasi Pemasaran Pariwisata di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cilegon yang ditunjuk sebagai pejabat pelaksana teknis kegiatan CEC menjelaskan, karena Kota Cilegon merupakan kota heterogen yang banyak pendatang dari luar daerah dan menetap di Cilegon, CEC 2019 ini ingin menampilkan budaya berbagai suku dari warga yang ada di Kota Baja. Seperti Paguyuban Sunda, Paguyuban Minang, Paguyuban Ikabamus (Ikatan Batak Muslim), Paguyuban Jawa Timur, Paguyuban Malang, Paguyuban Bali, Paguyuban Manado, Paguyuban Sulawesi Utara, Paguyuban Tionghoa, Paguyuban Dayak, dan banyak lagi. Mereka semua akan menampilkan kebudayaan masing-masing di CEC.

Misalnya Paguyuban Sunda yang terkenal dengan tari jaipong, Jawa yang terkenal reog, Bali dengan barongnya akan menampilkan keunikan-keunikan tersebut saat carnival. Masing-masing ada format berupa tampilan seni atau pentas seni dan ada parade budayanya. “Mereka mengekplorasi ciri khas masing-masing paguyuban,” ujar Ali saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/8)

Ali menjelaskan, yang menjadi ciri khas dari CEC yakni kostum ethnic carnival yang berada di bagian terdepan rombongan pawai masing-masing paguyuban. “Kostum yang dipakai punya makna sendiri, merepresentasikan rombongan di belakangnya,” tuturnya.

Tahun ini, penyelenggaraan CEC berbeda dari tahun lalu yang digelar April. Ini terkait karena pada April merupakan bulan politik, pemilihan presiden. Namun untuk kostum CEC, tiap tahun selalu memproduksi kostum baru.

“Yang akan ditampilkan tahun ini, yakni yang dua tahun terakhir ini dipakai. Ada sekitar 35 kostum, dibuat oleh orang-orang binaan kami hasil perlombaan desainer kostum yang direkrut menjadi tim desainer kostum CEC. Sang desainer tetap mendapat arahan dari dinas. Pun jatah pembuatan kostum yang menyesuaikan jumlah etnis yang akan tampil di Cilegon serta penyesuaian tema. Desain yang akan dipakai, tetap dievaluasi oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cilegon.

Jika menilik di poster kegiatan, terdapat kalimat dan aksara Jepang dan Korea. Diakui Ali, seperti tahun lalu, acara ini akan ada perwakilan dari perusahaan Korea yakni Krakatau Posco dan perusahaan Jepang yakni Krakatau Nippon Steel Sumikin yang ikut berpartisipasi. Hal ini dimunculkan untuk menarik penduduk asing, terutama dari Korea dan Jepang. Terlebih lagi beberapa dari mereka berdomisili di Cilegon. Tahun lalu perwakilan dari perusahaan itu ikut pawai, mengenakan kostum ciri khas perusahaan dan negara.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Cilegon sendiri selaku penanggung jawab acara, ingin menunjukkan pada publik bahwa CEC ini kondusif. Artinya kata Ali, berbagai etnis bisa berbaur dan hidup harmonis di Kota Cilegon.

Meski hampir sejenis dengan Jember Ethnic Carnaval, konsep CEC dijelaskan Ali berbeda. Jika Jember Ethnic Carnaval murni pertunjukan kostum, CEC selain ada pawai dan pertunjukkan kostum, juga ada pentas seni.

Terselenggaranya event ini diharapkan, bisa semakin mempererat kerukunan hidup antara masyarakat Kota Cilegon yang heterogen. Di samping itu, penyelenggaraan ini ingin menunjukkan kepada publik bahwa Cilegon tidak hanya jadi kota industri tetapi menjadi kota industri yang berbudaya.

“Artinya, tidak semata-mata menonjolkan industri, melainkan mengangkat budaya agar bisa dinikmati masyarakat,” tuturnya.

Sekadar tahu, kegiatan serupa CEC yakni Jember Fashion Carnaval selalu dihadiri ratusan ribu masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri. Pesertanya pun tidak main-main, ada sekira 2.000 peserta. Hal unik adalah para peserta bukanlah seorang desainer, model ataupun penari profesional. Melainkan berasal dari pelajar dan mahasiswa, pegawai swasta, bahkan ibu rumah tangga. Kini nama Jember fashion Carnaval sudah menjadi event akbar di Indonesia. Citranya bahkan sudah diakui di kancah internasional. Terbukti, JFC sudah masuk peringkat ketiga di ajang Carnaval International de Victoria, Seychelles, Afrika. JFC bukan satu-satunya yang digelar di Indonesia. Ada Festival Krakatau Lampung, Solo Batik Carnival, dan Banyuwangi Ethno Festival.

Di Banten, kegiatan sejenis pun digelar. Lebak memiliki Lebak Night Carnival dalam rangka memeriahkan HUT Lebak, Pandeglang dengan Pandeglang Culture Festival yang tahun lalu digelar dalam rangka HUT Pandeglang, Serang Ethnic Carnival, dan Tangerang Fashion Carnival.

Carnival semacam ini ditanggapi beragam masyarakat. Maya Nuraini misalnya, menurut dia selain bisa jadi daya tarik, dengan adanya carnival bisa mempromosikan kota atau daerah. “Jadi enggak hanya terkenal busana daerahnya nih tapi ada makanan daerah atau khas gitu,” ucap  Maya.

Carissa Salshabilla pun ikut menimpali. Menurutnya, di Indonesia memang banyak sekali keragaman dari tiap daerahnya. “Wajar kalau di Indonesia carnival dan festival ada di mana-mana,” tuturnya. (najla-haikal-fikar zetizen/zee/air/ags)