Cilegon Rawan Bencana, Petunjuk dan Tempat Evakuasi Belum Tersedia

Plt Walikota Cilegon Edi Ariadi saat berada di kantor PMI Kota Cilegon, kemarin.

CILEGON – Kota Cilegon sebagai salah satu daerah yang berada di daerah pesisir rawan diterjang bencana laut seperti tsunami atau gelombang tinggi. Kendati demikian, Kota Cilegon belum memiliki petunjuk jalur dan tempat untuk evakuasi masyarakat saat musibah itu benar-benar terjadi. Selain itu, dua alat pendeteksi tsunami dalam keadaan rusak.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Cilegon Rasmi Widyani membenarkan ketiadaan infrastruktur kebencanaan tersebut. Rasmi menjelaskan, ketiadaan petunjuk jalur evakuasi karena belum adanya tempat evakuasi. “Karena kita harus tahu dulu tempat evakuasinya di mana, lalu Bappeda (Badan Perencanaan Pembangunan Daerah) memungkinkan enggak untuk melakukan penganggaran jalan akses (evakuasi),” ujar Rasmi saat ditemui di kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Cilegon, Rabu (26/12).

Soal tempat evakuasi, menurut Rasmi, Pemkot Cilegon pernah mengumpulkan industri untuk membahas pembangunan tempat tersebut. Hasilnya, PT Chandra Asri Petrochemical dan PT Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) telah siap menyediakan lahan. Namun, perlu ada kajian terlebih dahulu kelaikan tempat itu. Kajian itulah yang sampai saat ini belum dilakukan.

Untuk lokasi sementara evakuasi menurut Rasmi sudah ada namun sosialisasi keberadaan tempat tersebut belum dilakukan secara menyeluruh kepada masyarakat.

Terkait alat pendeteksi tsunami yang rusak, dijelaskan Rasmi, dua alat yang berada di Kecamatan Grogol dan Kecamatan Ciwandan itu sudah tidak aktif. Untuk memperbaiki alat itu Rasmi mengaku pernah berkoordinasi dengan Untirta.

Dalam komunikasi yang dibangun itu, Untirta mengaku siap memperbaiki namun Rasmi mengaku perlu mengkaji dasar hukum yang mendukung kerja sama karena jika tidak ada dasar hukum, akan menjadi masalah bagi BPBD Kota Cilegon. “Cuma saya belum tahu mekanismenya jika pihak ketiganya universitas. Ini kan pengadaan, takut salah melangkah. Pertanggung jawabannya harus bagaimana. Itu yang harus kami pelajari terus, karena kalau salah menjadi bencana buat kita,” kata Rasmi.

Rasmi menginginkan alat pendeteksi tsunami itu bisa terkoneksi dengan pengeras suara yang berada di rumah ibadah di sekitar tempat tinggal masyarakat. Sehingga ketika peringatan itu ada langsung tersebar ke masyarakat.

Untuk sementara, lanjut Rasmi, BPBD Kota Cilegon akan membuat surat edaran berdasarkan kondisi cuaca yang dirilis oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) agar masyarakat waspada.

Pelaksana Tugas (Plt) Walikota Cilegon Edi Ariadi meminta kepada seluruh lapisan di Kota Cilegon untuk terus waspada. Khusus untuk masyarakat yang tinggal di dekat dengan pesisir pantai diminta untuk lebih waspada. “Terus longsoran Krakatau (Gunung Anak Krakatau – red) itu kemungkinan masih, itu yang dikhawatirkan,” kata Edi seusai melepas bantuan untuk korban bencana di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Serang.

Menurut Edi, ia telah menginstruksikan BPBD Kota Cilegon, PMI Kota Cilegon, dan Tagana untuk waspada dan siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Edi mengaku telah meminta kepada camat dan lurah di Kota Cilegon agar mengimbau kepada masyarakat agar tidak mendekati daerah pesisir dengan jarak 1 kilometer. “Yang tinggal di pesisir harus lebih waspada, jangan terlena,” ujarnya. (Bayu M/RBG)