Mimin (21), nama samaran, tak pernah menyangka pernikahannya dengan Rokim (23) bukan nama sebenarnya, menimbulkan kemarahan sang mantan kekasih, sebut saja Tile (22). Seolah tak peduli dengan status Mimin yang sudah mengikat janji sehidup semati dengan Rokim, Tile tetap nekat dan ingin berusaha merebut kembali cinta Mimin agar kembali ke pangkuannya. Maklum, dulunya Mimin ‘primadomba’, eh primadona.

Penasaran kan bagaimana kelanjutannya? Kita simak yuk ceritanya.

Ditemui Radar Banten di Desa Nagarapadang, Kecamatan Petir, Mimin sedang menggendong anaknya yang masih balita berjenis kelamin perempuan di depan teras rumah. Mimin sempat pamit masuk rumah untuk menitipkan anaknya di dalam rumah. “Kang (menyebut Radar Banten-red) saya mau cerita nih. Maaf tadi ditinggal, ribet bawa anak. Kalau begini kan lebih leluasa,” ucap Mimin.

Flashback kisah asmara Mimin. Pertemuan Mimin dan Tile terjadi saat mengenyam pendidikan SMA. Saat itu baik Mimin dan Tile sedang mengikuti kegiatan masa orientasi siswa (MOS). Entah disengaja atau kebetulan, mereka berdua kompak datang telat mengikuti MOS. Akhirnya mereka berdua diberikan hukuman oleh panitia MOS dengan cara berduanya harus jalan keliling sekolah mengenakan papan nama bertuliskan, ‘Kami pasangan mesra, telat saja berdua’. Cie… cie… belum kenal saja sudah romantis!

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Sejak kejadian itu, hubungan mereka semakin dekat, sampai akhirnya memutuskan untuk berpacaran. Sejak menjalin hubungan, Mimin dan Tile semakin intens berkomunikasi dan jalan berdua. Mulai dari berangkat dan pulang sekolah sama-sama, sudah kayak perangko. Bahkan, bolos sekolah juga kompakan. Wah-wah, nah ini nih jangan ditiru ya!

Tile pun terus menunjukkan perhatiannya kepada Mimin hingga keduanya terjalin chemistry untuk menjalin hubungan ke arah lebih serius. “Ya, namanya juga remaja dulu. Maklum, masih labil, lagi senang-senangnya pacaran,” ujarnya. Iya sih Mbak.

Mimin termasuk sosok wanita yang tidak muluk-muluk dalam memilih pasangan, tidak juga matrealistis. Tidak perlu tampan atau kaya, asal setia. Bukan setiap pengin sesuatu harus ada ya! Biasa… awal-awal begitu tuh, kerasanya nanti pas sudah rumah tangga. Sifat positif Mimin itu pun membuat Tile nyaman. Kalau dari segi fisik, Mimin sih biasa saja. Namun, postur tubuhnya cukup menggoda, ideallah kalau orang bilang. Apalagi, pas masih berseragam sekolah, meski sudah mengenakan jilbab, penampilan Mimin sedikit seronok, baju seragam ketat dengan rok panjang sedikit terangkat hingga sedikit bagian aurat mulusnya terlihat. Istilah zaman now itu ‘jilbob’. Pemandangan itu pun kerap menjadi pusat perhatian siswa lainnya terutama siswa laki-laki hidung belang.

Penampilan Mimin tak hanya mengundang nafsu syahwat siswa lain, termasuk Tile yang terkadang memanfaatkannya pada saat boncengan di motor bersama Mimin. Tak jarang Tile menggenjot-genjot motornya gas rem gas ram…tancap. Membuat laju motor sedikit enjot-enjotan kayak naik delman. Ea… Mas Tile nakal.

Tile bukan pria kaya raya. Di sekolah Tile nampang hanya bermodalkan motor rakitan sendiri, parasnya juga pas-pasan, kantong juga bokek. Tapi kok Mbak Mimin mau aja ya?

“Cinta itu enggak kenal materi kang. Asal sayang dan bikin nyaman, itu jadi pondasi utama,” kelit Mimin. Mau bangun rumah kali fondasi.

Lulus SMA, mereka komitmen untuk selalu bersama dan segera menikah. Namun Tuhan berkehendak lain. Kehadiran Tile yang dianggap membawa pengaruh buruk terhadap Mimin, orangtua Mimin pun menjodohkannya dengan lelaki lain. Sang ayah ternyata sudah menyiapkan kejutan yang membuat Mimin terpukul. Mimin dijodohkan dengan lelaki pilihan ayahnya, yaitu Rokim. Pandangan pertama begitu menggoda, begitu pula yang dialami Rokim begitu melihat Mimin yang bohai dan aduhai. Rokim tak berpikir panjang untuk melamar Mimin. Perangai Rokim baik, orangnya juga gagah dan soleh. Situasi itu pun membuat Mimin menjadi gegana alias gelisah, galau, merana.

Mimin yang tidak mau durhaka sama orangtua akhirnya menerima lamaran Rokim dan rela menjadi tulang rusuk Rokim untuk selamanya. Mengetahui perjodohan Mimin dan Rokim dan akan melangsungkan pernikahan membuat Tile sangat terpukul. Dua minggu kemudian, undangan pernikahan pun disebar. Perlahan, Mimin mulai menerima kenyataan. Ia berusaha sekuat tenaga melupakan kenangan manisnya bersama Tile dan menerima Rokim apa adanya. Satu hal yang Mimin percaya untuk menenangkan hati adalah nasehat dan masukan dari sang nenek. “Katanya orang-orang zaman dulu banyak yang menikah dengan pilihan orangtua langgeng-langgeng saja sampai kakek-nenek.” curhat Mimin.

Pernikahan antara Mimin dan Rokim pun berlangsung khidmat dan lancar. Mimin resmi menjadi istri Rokim yang memiliki kulit sawo matang dan baru lulus kuliah. Mata Mimin mulai berkaca-kaca menandakan rona kebahagiaan. Rasa risau diwajahnya karena mengingat sang mantan sedikit-demi sedikit terkikis. Namun, suatu hari di saat Mimin sedang jalan-jalan berdua mengendarai motor menikmati indahnya membangun bahtera rumah tangga bersama Rokim, tak sengaja bertemu Tile di jalan. Tile yang terbakar api cemburu, berontak hingga mencegat pengantin baru itu di jalan. Tile yang kalap langsung mencaci maki Mimin karena dianggap telah mengkhianati cintanya. Pertemuan itu pun berujung pertengkaran hingga terjadi adu jotos antara Tile dan Rokim. “Waktu itu kejadiannya sore,” katanya.

Beruntung pertarungan suami dan mantan pacar dapat diredam dan dilerai oleh warga sekitar yang melihat keributan tersebut. Saat itu Mimin yang panik hanya bisa berteriak minta tolong karena ketakutan. Sampai akhirnya, Rokim dan Tile diamankan oleh ketua RT setempat. Ya salam. Sejak kejadian itu, Mimin pun diberi saran untuk pindah rumah. Sejak itu mereka berdua terbebas dari gangguan sang mantan hingga dikaruniai anak dan hidup bahagia. Alhamdulillah. Semoga Mbak Mimin dan Bang Rokim rumah tangganya langgeng ya. Buat Tile yang sabar ya. Mudah-mudahan dapat jodoh yang lebih baik dari Mimin. Amin. (mg06/zai/dwi)