Foto ilsutrasi; Pixabay

Disadari atau tidak, cinta pertama memang sulit dilupakan. Bagai kenangan yang melekat erat dalam ingatan, sosok lelaki atau wanita yang memberi keindahan saat awal merasakan cinta, pasti terkenang selamanya. Tapi, apa jadinya jika sosok cinta pertama datang di saat kita sudah punya pasangan?

Hal ini dialami Noni (37), bukan nama sebenarnya, yang lima tahun lalu dipersunting Medi (39) nama samaran. Mereka dijodohkan kedua orangtua. Masalahnya, saat itu Noni sedang menjalin hubungan dengan seorang lelaki teman SMA, sebut saja Ujang (37).

Wih, cinta segitiga nih ceritanya.

Mematuhi kehendak orangtua, Noni terpaksa mengakhiri hubungan dengan Ujang dan menikah dengan Medi. Padahal, dari segi kesejahteraan, Ujang jelas lebih mapan dan pasti membuat hidup Noni bahagia. Namun, apa mau dikata, Tuhan menetapkan Medi menjadi imam Noni. Meski dengan harta seadanya, pernikahan mereka berlangsung sempurna.

Hebatnya, mengawali rumah tangga dengan krisis ekonomi lantaran sang suami orang tak punya, Noni mau melewati semua dengan lapang dada. Memutuskan merantau ke ibukota, ia dan Medi berjuang mencari penghasilan untuk memperbaiki kehidupan.

“Ya, waktu itu saya dan dia memutuskan ke Jakarta. Mau bagaimana lagi, cari duit di kampung sendiri sulit, terpaksa pindah. Kebetulan ada teman yang mengajak kerja, ya sudah deh,” kata Medi kepada Radar Banten.

Lima tahun berjuang di perantauan, banyak peristiwa baik suka maupun duka yang mereka alami, semua bisa teratasi dengan ketabahan hati. Yang membuat cinta mereka semakin membara, perjuangan dalam mempertahankan hubungan serasa tak sia-sia dengan kehadiran anak pertama, membuat keduanya semakin mesra.

Merasa sudah mempunyai cukup uang hasil bekerja untuk membuka usaha, Noni dan Medi memutuskan kembali ke kampung halaman. Membuka lembaran baru kehidupan dengan modal yang mereka kumpulkan selama di perantauan.

Melepas rindu dengan orangtua dan sanak saudara, keduanya kembali membangun hidup bersama. Seiring berjalannya hari, takdir mempertemukan Noni dengan sang mantan kekasih. Parahnya, seolah terbius kenangan masa lalu, diam-diam tanpa sepengetahuan suami, Noni menjalin hubungan dengan Ujang.

Astaga, cinta lama belum kelar rupanya.

“Pantas saja waktu itu dia sering kelayapan, saya mah cari rezeki buka warung sembako, ternyata dia senang-senang sama mantan pacarnya,” tukas Medi emosi.

Bercerita tentang masa lalunya, Medi mengakui sebenarnya ia tak pernah setuju dengan keputusan sang ayah yang menikahkannya dengan Noni. Selain karena tidak saling mengenal satu sama lain, berdasarkan informasi dari teman-temannya, Medi tahu bahwa Noni sudah punya kekasih. Meski sudah diberi penjelasan panjang lebar terkait penolakannya, sang ayah tidak peduli. Kesepakatan kedua orangtua tidak bisa diganggu gugat, jadilah mereka dinikahkan.

Medi adalah lelaki baik, ramah, dan kalem. Meski jika dilihat dari wajahnya tidak seganteng Ujang, untuk urusan keharmonisan dari sikap humoris kepada pasangan, Medilah jagonya. Terlebih, sikap kalem dengan tutur katanya nan halus, membuat Medi punya banyak teman. Waktu masih remaja, katanya sih ia banyak pacarnya.

Eits, tapi ini berdasarkan pengakuan Medi loh, ya.

Meski uang pas-pasan lantaran sang ayah hanya petani biasa, Medi tidak pernah kehabisan akal dalam meluluhkan hati wanita. Buktinya, Noni juga akhirnya menerima apa adanya dan rela hidup menderita sampai harus merantau ke ibukota.

Bolehlah ya!

Noni juga wanita baik, dengan wajah cantiknya, ia menjadi bidadari yang dikagumi kaum pria. Meski berasal dari keluarga yang perekonomiannya menengah ke bawah, Noni tak pernah merasa rendah diri dalam bergaul dengan banyak orang. Pokoknya, ia wanita yang asik dijadikan teman.

Dengan uang tabungan hasil membuka toko sembako, Medi membeli sebidang tanah dan membangun rumah. Anehnya, setelah rumah jadi, Noni malah jarang tidur di rumah baru bersama suami. Ia lebih banyak tinggal di rumah orangtua bersama saudara yang lainnya.

Sekali dua kali Medi bisa mengerti, ia mengira Noni masih kangen dengan keluarga. Namun, ketika hal itu terjadi berkali-kali, Medi menegur tapi tidak diladeni, ia pun tak bisa mengontrol emosi. Dengan sedikit memaksa, ia menjemput Noni untuk tinggal di rumah yang baru dibangunnya. Hingga suatu hari, berdasarkan laporan dari tetangga, Noni sering dijemput malam-malam oleh Ujang, sang mantan kekasih.

Aih-aih.

Merasa dikhianati sang istri, Medi tak mampu mengontrol emosi. Tanpa didasari bukti nyata dan hanya mengandalkan keterangan tetangga, ia memarahi Noni. Sang istri tak terima, ia balik membentak Medi, keributan pun terjadi. Saat itulah rumah tangga mereka diguncang prahara, membuat Ujang tertawa bahagia.

“Ternyata dia cari tempat amat buat dijemput selingkuhan. Kalau kayak begini caranya, lebih baik enggak usah pulang kampung, emosi saya, Kang,” pungkas Medi.

Yang membuat Medi sakit hati, bukannya menyadari kesalahan akan perbuatannya, Noni malah bertindak semaunya dengan menuntut perceraian. Seolah sudah direncanakan, tanpa pikir panjang ia serius membawa perkara rumah tangga menuju pengadilan.

Oalah, kok kesannya jadi kayak Kang Medi yang salah.

“Itu dia yang bikin saya bingung. Parahnya, keluarga dia enggak ada yang bertindak berusaha mencegah, semuanya kayak atas kesepakatan bersama,” tukas Medi.

Astaga, jahat amat ya.

Medi tak berdaya, berkali-kali meminta kejelasan sang istri, Noni hanya diam tak mau bicara. Akhirnya mereka pun bercerai. Setelah percerain itu, Medi jelas terlihat dengan mata kepalanya sendiri Noni jalan dengan mantan pacarnya sewaktu SMA.

Astaga, tega banget ya Teh Noni.

Sabar ya, Kang. Buktikan bahwa Kang Medi bisa hidup tanpa Teh Noni. Kalau perlu, cari istri lagi yang jauh lebih cantik dan seksi. Semangat Kang! (daru-zetizen/zee/dwi/RBG)